Kamis, Oktober 21, 2021
BerandaOpinionEssayMengenal Sabak-Grip, Piranti Tulis-Menulis Jadul Tanpa Daya Rekam

Mengenal Sabak-Grip, Piranti Tulis-Menulis Jadul Tanpa Daya Rekam

- Advertisment -spot_img

Oleh: M. Dwi Cahyono*

A. Piranti Tulis-Menulis dalam “Tradisi Literal”

Mengenal Sabak-Grip penting bagi generasi sekarang. Salah satu petanda penting peradaban adalah beradanya “tradisi literal (tradisi tulis-menulis)”. Pada tradisi ini, selain ada unsur tulis (huruf, angka, tanda, dsb.), dibutuhkan pula alat tulis. Akronim ATK (alat tulis kantor) menunjuk kepadanya. Dengan demikian, bilamana alat tulis mulai hadir? Ya, semenjak dimulainya tradisi literal itu. Bila begitu, sejarah alat tulis-menulis tentu lelah bermula amat lama serta hadirkan beragam jenis, bentuk dan fungsinya masing- masing.

BACA JUGA: Wayang Beber Pacitan: Proses Regenerasi dan Ikhtiar Jaga Kesinambungan Kesenian Tradisional

Produk alat tulis baru yang lebih canggih bakal gantikan alat tulis lama yang telah ketinggalan zaman (out of date). Yang dinilai kurang efektif dan efisien, kurang praktis, atau memberikan kemudahan dalam mengoperasikannya. Alat tulis lama, yang telah tidak dipergunakan lagi menjadi artefak historis, pembukti dinamika alat tulis dari waktu ke waktu. Di antaranya, ada yang kemudian menjadi benda koleksi museum. Walaupun kini telah ditinggalkan, namun konon piranti tulis-menulis ini pernah mengkontribusikan diri bagi tradisi literal pada suatu lapis masa.

B. Sabak-Grip, Piranti Tulis-Menulis Jadul “2in1”

mengenal sabak-grip
Masa di mana sabak-grip jadi piranti utama tulis menulis bagi siswa.

Bagi yang lahir atau bersekolah tahun 70-an ke atas tak mengenal apa itu “sabak’ dan grip, Sabak-Grip. Saya (M  Dwi Cahyono) yang lahiir pada awal tahun 1960-an sempat berjumpa dengan sabak-grip. Meski sebatas ketika sekolah Taman Kanak- Kanak. Ketika RI memasuki ORDE BARU di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Perlahan alas dan alat tulis itupun mengalami kesirnaan, digantikan oleh buku-pensil/bulpen. Perangkat tulis-menulis itu kini menjadi barang langka, dan kalaupun masih ada, telah menjadi “barang antik” yang tak murah lagi harganya.

Sabak dan grip, Sabak-Grip adalah perangkat tulis- menulis “2in1”. Tanpa grip, maka tak bakal ada tulisan di permukaan sabak. Karena grip berfungsi sebagai batang gores penghasil tulisan ataupun gambar. Demikian pula, tanpa tak ada media untuk mengekspresikan tulisan atau gambar. Barangkali kini masih ada yang mempunyai sabak. Namun grip-nya yang berukuran kecil itu telah tak tersimpan, “ketlingsut” entah dimana atau turut terbuang entah kemana. Grip laksana pensil, bolpoint ataupun spidol pada buku atau magnetic board. Seperti kapur pada papan tulis kayu.

1. Piranti Sabak sebagai Alas Penulisan

Mari mengenal Sabak-Grip. Dalam bahasa Indonesia, kara “sabak” berarti : (1) muram; suram: mukanya — seperti sedang dirundung kesusahan; matanya –; (2) redup (tentang cuaca); mendung: hari –; (3) berlinang (tentang air mata) (KBBI, 2002). Pada arti ini, tak terlihat kaitan sabak dengan peralatan tulis- menulis. Namun, jika menilik warna alas tulis yang disebut “Sabak”. Bisa tergambarkan kandungan artinya, mengingat warna khas sabak adalah hitam keburaman. Sabak terbuat dari bahan batu karbon, yang berbangun persegi empat. Lantaran sabak dibuat dari batu karbon, maka alas tulis ini memperoleh sebutan “batu tulis”. Jenis batuan yang dijadikan bahan baku pembuatan sabak adalah batu karbon (batu bara). Istilah “karbon” berasal dari bahasa Latin “carbo”, yang berarti : batu bara. Oleh karena itu warna sabak adalah kehitaman.

BACA JUGA: Toponimi Oro-Oro, Penanda Bentang Alam Masa Lalu dan Masa Kini – Imperiumdaily.com

mengenal sabak-grip
Mengenal Sabak-Grip, ternyata sabak jadi nama daerah di Sumatera dan Malaysia, menandai daerah penghasil batu bara.

Mari mengenal Sabak-Grip dari namanya. Sabak juga menjadi nama suatu tempat. Pada Kabupaten di Provinsi Jambi terdapat suatu tempat dengan nama “Muara Sabak” sebagai ibukota dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Mulanya Muara Sabak adalah sebuah kecamatan, yang kemudian dimekarkan menjadi : (1) Muara Sabak Barat, dan (2) Muara Sabak Timur. Menilik unsur namanya, yaitu “muara”, boleh jadi Sabak merupakan nama sungai sebagai anak dari sungai besar-panjang Batanghari. Nama “Sabak” juga didapati di Malaysia, juga sebagai nama dari suatu sungai. Yaitu sungai Sungai Sabak Bernam, yang menjadi demarkasi antara negara bagian Selangor dan Perak. Pada daerah Sabak Bernam dijumpai beberapa peninggalan arkeologis. Sesuai arti istilah “sabak”, yang menunjuk kepada : batu bara, ada kemungkinan dinamai “Muara Sabak” lantaran daerah ini berada di lintasan Batanghari, yakni sungai panjang yang melintasi sejumlah daerah penghasil batu bara (sabak).

Sabak dari Lempengan Batu Bara

Lebih jauh mengenal Sabak-Grip. Sabak adalah semacam buku tulis kuno, yang marak dipakai sebelum buku tulis dari bahan kertas dipergunakan secara luas. Sabak dibuat dari lempengan batu karbon (batu bara) yang dicetak melempeng dengan bangun persegi empat. Acapkali disertai dengan bingkai kayu pada keempat sisi sabak  Penulisan ke permukaan sabak mempergunakan grip, yang bentuk dan fungsinya serupa dengan fungsi pensil pada buku. Konon sabak menjadi alat penulis wajib bagi para siswa di Indonesia pada sekitar tahun 1960-an dan sebelumnya. Sabak bukan merupakan piranti tulis-menulis untuk simpan berkas permanen. Karena sabak hanya dipakai sementara waktu” untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru. Tulisan yang memenuhi permukaan sabak kemudian dihapus kembali. Sehingga para siswa dituntut memiliki kemampuan untuknmengingat atau menghafal secara kuat.

Mari mengenal Sabak-Grip. menulis pada sabak terbilang mudah, karena terdapat garis-garis horisontal sebagai “garis bantu” untuk bisa menghadirkan deretan huruf (tulisan) secara lurus. Garis-garis bantu pada permukaan sabak itu mengingatkan kepada buku skrip, yaitu buku tulis yang diperlengkapi dengan garis-garis horisontal yang memberi kemungkinan untuk bisa menghadirkan tulisan secara lebih  rapi. Cara membersihkan sabak pun juga mudah, cukuplah dengan mencuci pakai air atau menggosoknya dengan arang. Papan sabak bisa dipergunakan untuk menulis, berhitung atau menggambar. Guru memberi nilai dengan kapur pada sabak. Selanjutnya anak yang memperoleh nilai itu menempelkan nilai tertulis dengan kapur pada pipinya.

2. Piranti Grip sebagai Alat Gores Penulisan

Grip merupakan pasangan sabak, yang digu- nakan sebagai alat tulisnya. Bentuk grip sangat mirip dengan pensil, akan tetapi hanya dapat dipergunakan di sabak saja. Perangkat untuk menulis yang dinamai “grip’ adalah alat tulis masa lalu, semacam pensil pada saat ini. Alat tulis jadul yang berbentuk sabak-grip mulai dipergunakan untuk tulis-menulis pada sekitar tahun 1900 hingga 1960 an. Rentang waktu penggunaan yang terbilang cukup lama, yakni sekitar setengah abad  Sebetulnya, kala itu telah terdapat buku tulis. Namun, oleh karena  harganya terbilang cukup mahal di Indonesia, maka sabak-grip lah jalan pintasnya.

Bentuk grip adalah silindris memanjang dan melancip di bagian ujung, yang mengingatkan pada bentuk pensil. Ujung grip yang meruncing itu digoreskan ke permukaan sabak. Sehingga menghasilkan bekas goresan — seperti menulis pada kertas menggunakan pensil. Tetapi agak lebih jelas daripada goresan pensil. Menulis huruf, membuat angka pada pelajaran berhitung dan menggambarpun dapat dilakukan dengan menggunakan sabak-grip. Tak jauh beda dengan perangkat tulis-menulis berupa buku-pensil/pena.

BACA JUGA: Air, Yang Dinanti, Yang Dicaci – Noktahmerah.com

Grip yang terbuat dari batu itu terbilang mudah patah. Kendati berukuran kecil, lantaran terbuat dari batuan. Maka terasa berat manakala diangkat dengan jari tangan. Cara mengoperasikannya adalah memegang erat dengan jari tangan. Caranya yang demikian sesuai dengan arti kata “grip” di dalam bahasa Inggris, yang secara harafiah berarti : pegangan, genggam-an. Kata “gripped” ataupun “gripping”‘ berarti : memegang erat-erat, Tergambarlah adanya keserupaan bentuk dan fungsi antara grip dan pensil. Kadang ditambah kata “doos” di depan kata “grip” menjadi “doosgrip”, yang menunjuk pada : tempat pensil. Itu pengertian grip, yang menjadi satu kata Sabak-Grip.

C. Sabak Digital, Metamorfosa Sabak-Grip pada Era Elektronik

Pada era serba digital sebagaimana kini, sabak menjadi barang yang langka, yang  hanya dapat dijumpai di museum. Antara lain di Museum Pendidikan Indonesia di Kota Malang dan pada Museum Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Keberadaan telah mulai terlihat jarang sejak buku tulis dari bahan kertas. Seperti laptop, atau alat pencatat lainnya digunakan secara luas. Sabak-grip kini telah menjadi perangkat tulis menulis yang menyandang predikat “almarhum”, dalam arti : benda mati yang mengalami dis-fungsi (disfunction). Menulis dengan sabak-grip kini tinggal merupakan cerita jadul tentang kisah bersekolah di masa lampau.

mengenal sabak-grip
Sabak grip di era moder.

Meski sabak-grip telah ditinggalkan, namun peran sabak-grip tidak benar-benar telah berakhir. Sabak klasik seakan bermetamorfosa menjadi “sabak modern” yang mempergunakan teknologi digital atau disebut “komputer tablet (PC tablet)”. Kini, Sabak kembali muncul di era serba digital sekarang dengan nama baru, ya itu “Tablet PC”.  Cara kerja “sabak-grip klasik”, berupa goresan batang melancip ke permukaan alas tulis terus berlanjut pada sabak modern. Hanya saja sabak modern yang berupa PC tablet memiliki daya penyimpan data (tulisan, gambar, atau suara). Sabak digital (PC tablet) bukan hanya berfungsi sebagai piranti tulis- menulis. Tetapi juga dipergunakan sebagai alat komunikasi dan komputer pribadi.

Jauh dari masa Sabak-Grip. Berawal pada tanggal 27 Januari 2010, Steve Jobs, CEO Apple Inc. perkenalkan pertama kali “Sabak” modern bernama  “iPad San Fransisco” Amerika Serikat. Produk ini dirancang sebagai perangkat digital yang berada di antara telepon pintar (smartphone) dan komputer jinjing (laptop). iPad memiliki bentuk tampilan yang hampir serupa dengan iPod Touch dan iPhone. Hanya saja ukurannya lebih besar dibanding keduanya dan memiliki fungsi-fungsi tambah-an. Seperti yang terdapat pada sistem operasi Mac OS.

Kehadiran Tablet

Lebih jauh dari masa Sabak-Grip. Ingar-bingar kehadiran tablet PC mulai terasa di Indonesia, yang memicu hadirnya sejumlah produk tablet PC buatan lokal. Di antara vendor- vendor lokal yang sudah pasti masuk ke pasar tablet PC adalah Zyrexindo Mandiri Buana. Yakni perusahaan pengembang komputer (PC) bernama Zyrex. Kehadiran iPad di Indonesia bisa dipastikan membuat pasar tablet PC di negeri ini semakin ramai dan menarik. Terlebih adanya beberapa vendor tablet PC luar yang bakal menghadirkan tablet PC besutan mereka di Indonesia. Bisa dipastikan, perang’ tablet PC akan kian sengit dan ‘brutal’ pada tahun ini. Dan di tahun-tahun mendatang dengan mulai diluncurkannya tablet-tablet PC baru dari berbagai vendor besar dunia. Seperti HP, Samsung, LG, Asus, Huawei, dan masih banyak lagi. Perang’ tablet PC pun telah dimulai di berbagai belahan dunia.

Demikianlah, mulai dari Sabak-Grip. Dari waktu ke waktu piranti tulis-menulis mengalami perkembangan secara lebih praktis dan kian lama kian canggih daya penyimpanan datanya. Piranti tulis-menulis itu merupakan kebutuhan dasar pada tradisi literal, dan kita menjadi “pangsa pasar” bagi produsen piranti tulis-menulis. Nuwun.

Sangkaling, 11 Desember 2020

Griyajar CITRALEKHA

*Arkeolog dan redaktur ahli nusadaily.com dan imperiumdaily.com
- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA KHUSUS

@nusadaily.com

Akhir-akhir ini Kota Malang panas banget nih, ngadem dulu yuk🍦🍦 ##tiktoktaiment

♬ Happy Ukulele - VensAdamsAudio

LIFESTYLE

Polda Metro Periksa Rachel Vennya Hari Ini

0
NUSADAILY.COM - JAKARTA - Penyidik Polda Metro Jaya berencana memeriksa ​selebgram Rachel Vennya terkait dugaan kabur dari isolasi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet...