Rabu, Desember 8, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionDemi Menambah Keberkahan, Blended Learning Menjadi Sebuah Keniscayaan

Demi Menambah Keberkahan, Blended Learning Menjadi Sebuah Keniscayaan

- Advertisment -spot_img

Oleh: Dr. Syamsul Ghufron, M.Si.

Belajar tatap muka di sekolah mengundang pro dan kontra. Pihak yang pro tentu saja menilai bahwa pembelajaran daring sangatlah tidak efektif. Menurut Menteri Pendidikan RI, minimal ada tiga dampak negatif yang bisa terjadi dengan pembelajaran daring: putus sekolah, kendala tumbuh kembang, dan tekanan psikososial. Putus sekolah bisa terjadi karena anak harus bekerja membantu keluarga.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Persepsi orang tua akan tidak adanya peran sekolah juga bisa menyebabkan putus sekolah. Kendala tumbuh kembang bisa terjadi karena kesenjangan capaian pembelajaran bagi anak yang berbeda sosio-ekonominya. Tidak optimalnya pertumbuhan anak usia PAUD dan risiko ‘learning loss’ juga menjadi kendala.

Tekanan psikososial bisa terjadi karena anak stress dan kekerasan yang tidak terdeteksi. Anak bisa stress karena lama tidak berinteraksi dengan guru dan temannya. Kekerasan yang tidak terdeteksi terjadi karena tidak adanya pengawasan langsung dari guru. Pihak yang kontra menilai bahwa belajar mengajar tatap muka di sekolah masih berisiko menyebabkan terjadinya penularan covid-19.

BACA JUGA: Bulan Bahasa, Saatnya Membuka Kembali Buku Suci Bahasa Indonesia

Tidaklah Tuhan menciptakan Covid-19 ini sia-sia. Pandemi membawa berkah. Keberkahan pandemi dinyatakan dan dirasakan banyak orang. Haikal Fateer yang menekuni dunia content creator merasakannya. Rida Shafa dan Rafif Abrar, pelajar di Kota Semarang, berhasil menciptakan bisnis baru, berupa ‘cold pressed juice’ dan mendapat respons positif dari masyarakat.

Pencetak kartu vaksin pun dapat berkah. Peternak ikan hias seperti ikan cupang juga menuai berkah karena ikan hias digandrungi di dalam negeri. Warga Kampung Pati, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara berhasil menyulap kampung menjadi tempat wisata yang dikenal dengan Ekowisata Bambu Wanadesa.  

Karena pandemi covid-19, pelaku ekonomi dan keuangan digital, transaksi digital, baik transaksi keuangan maupun belanja online, meningkat pesat. Terjadi perubahan pola perilaku konsumen yang menjadi lebih gemar berbelanja online. Tren belanja online pun meningkat. Tren belanja online inilah yang akhirnya turut mendorong digitalisasi UMKM. Tren belanja berubah, produk domestik juga kian diburu konsumen, terutama untuk produk makanan dan minuman.

Apalagi, tren belanja online membuat konsumen bisa menjadi seller ketika membeli sebuah produk. Entreprenuer muda yang membuka usaha bisnis lewat online dengan ide produk yang kreatif dan inovatif pun makin banyak.

BACA JUGA: Learning Loss dan Pendidikan Karakter

Pandemi mendatangkan manfaat karena mempercepat pelaksanaan transformasi perekonomian digital di tanah air. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan kebiasaan masyarakat. Dari semula masyarakat lebih banyak melakukan transaksi, perdagangan, dan belanja kebutuhannya lewat pertemuan langsung berubah menjadi secara virtual.

Berbagai platform perdagangan digital juga sudah memberikan banyak kemudahan. Tak hanya itu juga keamanan dalam belanja dan perdagangan terjamin sehingga minat masyarakat menjadi semakin tinggi untuk bertransaksi lewat digital selama masa pandemi ini.

Keberkahan dalam bidang keagaamaan pun dapat dirasakan. Salah satunya adalah meningkatnya pemahaman umat kepada paham keagamaan yang moderat. Kaidah-kaidah ushul fikih yang dulu hanya menjadi kajian di komunitas tertentu sekarang menjadi kajian publik. Orang fasih menyebut hadis nabi la dharara wa laa dhirara, kaidah dar’ul mafasid muqadamun ala jalbil masalih juga menjadi populer dan berbagai istilah fikih lain.

Sejak ada covid-19 orang melakukan takziah secara virtual. Sebelumnya sudah muncul pertanyaan misalnya ada tahlilan online, nikahan, Jumatan online, awalnya ditentang ternyata jalan terus dan masyarakat menerima. Selain itu, masyarakat yang mendekatkan diri kepada Tuhan makin meningkat.

Buktinya beberapa kali diadakan zikir dan doa virtual secara nasional sebagai permohonan serta harapan untuk mengetuk pintu langit. Lebih-lebih saat Ramadan sedang berlangsung. Hal tersebut dijadikan momentum meningkatkan sisi spiritual umat Islam. Caranya adalah berdoa dan membaca kitab suci Al-Qur’an untuk mengharapkan pertolongan Tuhan agar wabah ini segera usai.

Terasakan pula keberkahan di bidang pendidikan. Salah satu keberkahan yang dirasakan di sekolah adalah tumbuhnya kreativias dan inovasi pembelajaran oleh para guru. Di antara inovasi tersebut adalah pembelajaran dengan memanfaatkan aplikasi berbasis LMS (Learning Management System), pemanfaatan media sosial secara asynchronous, pembelajaran dengan pendekatan blended, keterlibatan orang tua murid, penerapan model-model pembelajaran inovatif, serta pembelajaran yang berorientasi kepada kebutuhan siswa.

Memang tidaklah mudah mengelola kelas dalam kondisi guru dan murid berada di tempat terpisah. Keberhasilan pembelajaran daring tergantung pada sejumlah faktor: guru, siswa, orang tua, perangkat TIK, jaringan, dll. Guru memegang peran yang sangat penting dalam menciptakan pembelajaran.

BACA JUGA: Pada “Idulfitri” dan “Halalbihalal”, Mereka Sering Tidak Bersatu

Inovasi lahir dari kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir alternatif tentang gagasan baru yang berguna. Secara umum inovasi lahir dari adanya kebutuhan. Kebutuhan tersebut bisa saja timbul dari adanya permasalahan yang dihadapi, adanya teknologi baru, adanya kebijakan baru, atau adanya rencana pengembangan, dll.

Inovasi juga bisa lahir dengan perencanaan. Uniknya, inovasi bisa lahir juga karena keterpaksaan. Musibah pandemi covid-19 merupakan contoh yang sangat baik tentang hal ini. Di masyarakat kita dikenal ungkapan “power of kepepet”. Ketika kondisi darurat, kreativitas tumbuh.

Unicef mengungkap ada 67% guru mengalami kesulitan dalam menggunakan perangkat dan platform daring. Salah satu rekomendasinya adalah menyesuaikan metode pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa dan menghindari pendekatan ‘satu solusi untuk semua masalah’. 

Yang paling mengetahui permasalahan pembelajaran di tempat masing-masing adalah guru yang bertugas di sekolah tersebut. Guru perlu dibekali kemampuan dan kepercayaan diri untuk mengambil solusi terhadap permasalah pembelajaran bagi siswanya. Guru harus berubah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang.

Kebijakan merdeka belajar dalam hal ini harus juga sampai kepada para guru agar mereka merdeka dalam mengembangkan strategi dan inovasi pembelajaran. Pengalaman guru “terbentur-bentur” mencari solusi di era pandemi, seyogyanya menjadi modal yang mendukung arah kebijakan merdeka belajar.

Salah satu faktor penting dalam kebijakan merdeka belajar adalah guru sebagai fasilitator belajar dan pelatihan guru berdasarkan praktik. Bagi para guru, kondisi pandemi menjadi peluang untuk merdeka mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran.

Berkat pandemi, para guru sudah terbiasa bahkan mahir membuat dan menggunakan media pembelajaran yang inovatif. Berkat pandemi, para guru mampu menciptakan dan menerapkan model pembelajaran yang inovatif.

Berkat pandemi pula, para guru mahir menerapkan berbagai metode pembelajaran yang inovatif. Berkat pandemi pula, para guru meningkat kemampuan literasi digitalnya dan terbiasa memanfaatkan teknologi dalam pembelajarannya.

Saat ini pandemi sudah mereda. Pembelajaran tatap muka pun segera digelar. Akankah pembelajaran dilaksanakan secara luring penuh? Demi menambah keberkahan, perlu pula dilestarikan pemberajaran daring. Memang pembelajaran daring secara penuh tidaklah dapat  dipertahankan karena banyak pihak merasa dirugikan.

Kualitas pendidikan pun tidak menjadi jaminan. Solusinya adalah blended learning, perpaduan pembelajaran luring dan daring, menjadi keniscayaan. 

*Penulis adalah dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, dan pengurus DPP Cebastra.

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily