COVID-19, Sebuah Upaya Peningkatan Spirit Ukhuwah Insaniyah

  • Whatsapp
Moh. A'la
banner 468x60

Oleh: Moh. A’la

Menghadapi Wabah Covid-19, pemerintah Republik Indonesia telah melakukan berbagai macam upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid 19 ini. Dua bulan lalu Pemerintah telah memberlakukan PSBB, Lock Down dan Mengkampanyekan Slogan Stay at Home.

Kebijakan ini dikeluarkan demi kemaslahatan umat manusia agar tidak terserang wabah Covid-19. Sebab dalam data yang berbahaya dari Covid-19 ini adalah penyebarannya, terlepas Covid-19 ini adalah sebuah konspirasi sebagaimana yang telah banyak diungkapkan oleh sebagian masyarakat. Sehingga menganggap pemerintah telah semena-mena dalam mengeluarkan kebijakan. Padahal apa yang telah dilakukan pemerintah adalah sebuah ikhtiar demi kemaslahatan umum dan sebagai Rakyat harusnya kita mengikuti anjuran pemerintah demi kemaslahatan bersama.

Baca Juga

Entah Covid-19 ini merupakan sebuah rekayasa atau bukan, tapi pada saat Covid-19 ini nyata adanya dan menjangkit satu orang maka orang tersebut akan diasingkan dari kehidupan sosial. Baik keluarga maupun dari tetangga, dalam hal ini siapapun tidak menginginkan menjadi terasing di negerinya sendiri.

Setelah dua bulan berlalu, Pemerintah menilai bahwa Covid-19 ini belum mendapat kejelasan kapan akan berakhir. Sebab, setiap hari tingkat masyarakat yang positif Covid-19 semakin meningkat.

Oleh karenanya pemerintah mengeluarkan kebijakan, bagi masyarakat sudah boleh beraktivitas seperti biasa. Akan tetapi dengan tetap mengikuti protokol kesehatan seperti halnya saat keluar rumah dianjurkan minimal memakai masker dan saat berkumpul dengan jarak satu meter. Hal ini dianggap oleh pemerintah sebagai ikhtiar agar masyarakat bisa melakukan aktifitas rutin dalam hal memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebuah era kembali ke aktivitas awal ini disebut sebagai Era New Normal. Sebab aktivitas yang dilakukan itu dengan pola dan perilaku yang berbeda dari sebelumnya.

Dalam rangka menghadapi New Normal ini, pemerintah tetap memberikan anjuran untuk tetap mengikuti procol kesehatan, agar siklus penyebaran Covid-19 ini bisa dikendalikan. Akan tetapi dalam beberapa hari terakhir ini beberapa awak media mengungkapkan terjadi peningkatan terhadap orang-orang yang dikonfirmasi positif Covid-19, khususnya di Kabupaten Sumenep.

Nah, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih tidak memperhatikan himbauan dari pemerintah agar tetap mengikuti Protokol kesehatan yang telah dianjurkan. Kebijakan pemerintah dalam New Normal ini indikator keberhasilannya ditentukan oleh seberapa taat masyarakat mengikuti anjuran tersebut. Jika tingkat kepatuhannya rendah maka jangan salahkan pemerintah ketika memberlakukan kembali PSBB, Lock Down dan slogan stay at home. Sebab itu merupakan sebuah kesalahan dari Masyarakat sendiri yang masih mengengap wabah ini sebagai sebuah lelucon.

Padahal wabah itu tidak hanya terjadi pada zaman ini saja pada zaman Nabi dan juga khulafaurrasyidin juga ada wabah yang disebut wabah Tha’un sebagaimana yang disebutkan dalam hadist nabi :
عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها أخبرتنا أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها نبي الله صلى الله عليه وسلم أنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء فجعله الله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطاعون فيمكث في بلده صابرا يعلم أنه لن يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد

“Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).

Dan juga di masa khalifah Umar Ibnu Khattab juga pernah menghadapi wabah yang terjadi di dataran syam sehingga sayyidina Umar mengurungkan niatnya untuk pergi ke syam. Sebab, di daerah tersebut telah terjadi wabah yang menular lagi ganas. Sedangkan Abu Ubaidah sebagai pemimpin pasukan tentara Islam pada saat itu menolak untuk mengikuti perintah sang khalifah dan meminta untuk membebaskannya dari perintah tersebut, akhirnya Abu Ubaidah-pun wafat sebab wabah tersebut.

Memang Era saat ini berbeda dengan era di zaman Nabi dan zaman Khalifah. Sebab, dari perkembangan zaman memang ada virus yang sengaja diciptakan kemudian disebarkan hal ini memang sengaja diluncurkan untuk kepentingan dominasi bisnis, sebab virus sekaligus diciptakan dengan vaksinnya.

Meski demikian, dalam kondisi itu kita sebenarnya tidak boleh sombong seolah-olah saat kita mengikuti anjuran pemerintah kita menghindari Taqdir.

Padahal pada saat kita menghindari apa tidak ada taqdir lain yang sedang kita hadapi. Covid-19 entah itu sebuah konspirasi atau bukan tetaplah mengikuti anjuran protokol kesehatan.

Kalaupun ada sebagian orang tidak takut, tapi juga ada sebagian orang yang merasa takut saat terjangkit Covid-19 dan jangan sampai orang lain menjauhi kita sebab kita terkonfirmasi positif Covid-19.

Mengikuti anjuran pemerintah bisa dikatakan pula sebagai sebuah bentuk aksi untuk meningkatkan jiwa spiritual dalam rangka mempererat Ukhuwah Insaniyah kita, sebab dengan kita mengikuti anjuran pemerintah kita justru peduli terhadap sesama.

*Penyuluh Agama Non PNS, Bidang Pengelolaan Zakat, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.

Post Terkait

banner 468x60