Kamis, Desember 9, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionBulan Bahasa, Saatnya Membuka Kembali Buku Suci Bahasa Indonesia

Bulan Bahasa, Saatnya Membuka Kembali Buku Suci Bahasa Indonesia

Dr. Syamsul Ghufron, M.Si.

“Kami pura dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” kata mereka.

Itulah ungkapan sumpah yang pernah  digelorakan para pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 yang lalu. Peristiwa Kongres Pemuda II yang menelurkan butir ketiga “Sumpah Pemuda” menjadi tonggak sejarah yang tidak boleh terlupakan.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Bahasa Indonesia yang dinobatkan sebagai bahasa persatuan pun haruslah ditinggikan. Bulan Oktober, bulan lahirnya bahasa Indonesia itu pun harus dirayakan. Masa pandemi bukanlah sebuah hambatan. Berbagai acara peringatan dapatlah diupayakan. Salah satunya adalah membuka kembali buku pedoman.   

Bahasa bersifat dinamis, berubah sesuai dengan perubahan zaman. Sifat bahasa itu juga berlaku dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia selalu berubah dari masa ke masa.

Pada masa-masa awal lahirnya, bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Indonesia masa pandemi saat ini. Perbedaan itu terlihat dari kosakata dan pedoman berbahasa termasuk tata bahasanya.

Baca Juga: Lirik dan Terjemahan Bahasa Indonesia NCT Dream “Hello Future”

Kosakata bahasa Indonesia berkembang luar biasa. Kosakata dari berbagai bahasa lain turut mendukung perkembangannya. Pedoman berbahasa Indonesia pun disusun oleh lembaga berwenang agar terwujud pelaksanaan berbahasa Indonesia secara teratur.

Buku Pedoman Pembentukan Istilah sudah ada. Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) sudah tersedia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi cetak, file offline, dan file online siap dibuka.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) penyempurna Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pun disahkan penggunaannya. Upaya pengembangan bahasa Indonesia tersebut sangat luar biasa keberhasilannya.

Baca Juga: Balai Bahasa Jawa Timur: Bahasa Inggris Ada TOEFL, Bahasa Indonesia Punya UKBI

Namun, seberapa jauh kesuksesan pembinaannya? Itulah yang menjadi pertanyaan kita bersama. Pembinaan bahasa lebih terfokus pada pemakai bahasa. Upaya pengembangan bahasa tanpa disertai pembinaan bahasa kurang bahkan tidak ada manfaatnya.

Berbagai penelitian terkait kesalahan berbahasa tidak pernah surut dari permukaan. Kesalahan pemakaian ejaan bahasa Indonesia terungkap dalam penelitian. Kesalahan diksi dan pembentukan kata bahasa Indonesia terungkap melalui penelitian.

Kesalahan penyusunan kalimat bahasa Indonesia dan kesalahan-kesalahan lain pun ditemukan dalam penelitian. Manusia memang tidak lepas dari kesalahan. Hal ini berlaku pula dalam berbahasa. Dengan kata lain, bahasa seseorang tidaklah dapat dilepaskan dari kesalahan.

Baca Juga: Malam Puncak Indonesian Television Awards 2021 Bertabur Bintang, Dari Ndarboy Genk Sampai Atta Halilintar

Ironisnya, kesalahan-kesalahan yang teridentifikasi itu pada umumnya selalu sama. Kesalahan penulisan prefiks “di-“ dan preposisi “di” tidak pernah teratasi.

Kesalahan pembentukan kata “mentaati, mengkoordinir, dkk.” tidak pernah diperbaiki. Kesalahan penyusunan kalimat tidak lengkap karena kontaminasi pun tidak pernah menjadi bahan refleksi dan introspeksi.

Bukankah kita tidak boleh mengulang kesalahan yang sama? Kenyataan ini menunjukkan tidak adanya perubahan ke arah perbaikan. Bukankah semua sudah sepakat dan bertekad merealisasikan ungkapan “Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin”?

Kesepakatan dan pernyataan tekad itu haruslah kita mantapkan dan kita realisasikan. Mari kita buka kembali buku suci bahasa Indonesia demi menepati janji Sumpah Pemuda yang juga menjadi sumpah dan janji kita bersama.

Baca Juga: David Beckham Ucapkan Selamat Idul Fitri dengan Bahasa Indonesia Viral di Medsos

Mari kita selalu membuka dan membuka kembali pedoman berbahasa Indonesia kita. Mari kita mulai dari diri sendiri. Setiap kali ada keraguan dalam diri kita akan kata baku atau penulisan kata yang  tepat, kita buka KBBI.

Setiap kali ada kekhawatiran akan terjadi kesalahan dalam pemakaian ejaan dan tanda baca dalam tulisan kita, kita buka PUEBI.

Setiap kali muncul kegamangan dalam diri kita akan tidak tersampaikannya gagasan kita kepada pembaca, kita cermati kalimat-kalimat kita. Sudah sesuaikah kalimat-kalimat itu dengan TBBBI?

Baca Juga: HNW Menyesalkan Raibnya Pancasila dan Bahasa Indonesia dari Daftar Mata Kuliah Wajib

Upaya-upaya tersebut harus kita lakukan dalam rangka memenuhi sumpah dan janji kita yang diwakili pemuda Indonesia zaman dulu.

Kita yang bergerak di bidang pendidikan–guru dan dosen–memiliki tugas tambahan. Tugas yang dimaksud adalah pembinaan kepada peserta didik agar mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Dalam hal ini kita dituntut berbahasa Indonesia dengan baik dan benar lebih dulu agar menjadi teladan yang baik. Setelah itu, jika kita menemukan kesalahan berbahasa pada peserta didik kita, kita harus berusaha membenarkannya.

Kesalahan demi kesalahan yang kita perbaiki pada bahasa mereka tidak akan terulang lagi jika dilakukan secara terus-menerus.

Dengan demikian,  kesalahan-kesalahan itu akan dapat diminimalisasi dan dikikis habis sehingga terwujudlah pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semoga berhasil!

*) Penulis Bulan Bahasa, Saatnya Membuka Kembali Buku Suci Bahasa Indonesia adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya; Pengurus CEBASTRA.

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily