Rabu, Januari 19, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionBimala: Tidak Semua yang Berkilau adalah Emas

Bimala: Tidak Semua yang Berkilau adalah Emas

Oleh: Muhammad Suharto, S.S., M.Pd.

Rabindrath Tagore menulis The Home and the World dari judul aslinya Ghaire Baire di tahun 1916 yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia dengan judul Bimala oleh Hartono Hadikusumo (2008).

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Novel ini menyoroti dua sisi yang berbeda dari gerakan swadesi yaitu gerakan memboikot barang-barang produksi Inggris sekaligus mengembangkan kerajinan dan industri bangsa India sendiri. Dikisahkan bahwa ada dua sisi yang berlawanan di sana.

Sisi pertama akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kebebasan dari Inggris melalui segala cara, bahkan cenderung cara  kekerasan meskipun harus  mengorbankan moral mereka sendiri. Sementara di sisi lain tidak bersifat lebih cooperative, namun tetap menginginkan yang terbaik untuk India, dan tetap menjaga moral mereka di zaman yang terus berubah.

Novel ini berfokus pada tiga karakter, yang masing-masing berbicara sebagai orang pertama dalam menceritakan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Nikhil melambangkan suami progresif yang tidak mementingkan diri sendiri dan senantiasa ingin membebaskan istrinya dari tekanan pernikahan tradisional India.

Baca Juga: Jika Pandangan Harus Diadili

Sebaliknya, Sandip adalah pria yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dan yang mereduksi hubungan pria-wanita menjadi hanya sekadar seksualitas kasar. Dia licik, angkuh, rakus, tanpa sedikit pun kebaikan” .

Bimala direpresentasikan sebagai  wanita lugu yang pada awalnya, sepenuhnya tunduk pada suaminya. Dia disebut sebagai Durga, dewi perempuan penciptaan dan kehancuran. Juga sebagai Saraswati, perempuan utama yang menopang realitas kehidupan. Tagore menjadikan Bimala mewakili keindahan, vitalitas, sekaligus kemuliaan Bengala.

Baca Juga: Melatih Leadership pada Anak, Melahirkan Pemimpin Terbaik di Masa Depan

Bimala muncul dari pingitannya adalah atas permintaan suaminya, agar menjadi wanita yang `mengenal dunia dengan lebih baik`. Begitu dia melakukannya, dia merasa goyah, dia mengkhianati Nikhil, suaminya, bukan saja lewat aktifitasnya di gerakan swadesi, namun juga jatuh hati pada penggeraknya, Sandip Babu yang culas.

Dalam beberapa hal sebenarnya terlihat persamaan antara Nikhil dan Sandip. Mereka memiliki tujuan yang sama: kebebasan dari penindasan. Perbedaan mereka terletak pada pemahaman mereka tentang kebebasan dan bagaimana kebebasan ini diwujudkan. Perjuangan antara Nikhil dan Sandip untuk Bimala adalah juga pertempuran untuk masa depan Bengala, karena mereka mewakili dua visi yang berlawanan untuk Bengala.

Baca Juga: Menjadi “Career Coach” bagi Milenial: Sebuah Tantangan di Era Digital

Nikhil adalah humanis tercerahkan yang menegaskan bahwa kebenaran tidak dapat dipaksakan; kebebasan diperlukan untuk pilihan, dan kedunya sangat penting untuk pertumbuhan dan pemenuhan individu.

Kebebasan inilah yang dibutuhkan jika dia dan Bimala ingin benar-benar saling mengenal. Nikhil, seperti Tagore sendiri, pada awalnya mendukung swadeshi dan menjadi partisipan aktif. Namun kemudian kecewa dan sedih melihat arah perjuangan yang dianggapnya melenceng dari tujuan awal Swadesi.

Sementara Sandip mewakili dirinya sebagai seorang realis, karakter yang secara brutal menghadapi dunia. Dia mengkritik Nikhil yang dikatakannya senang dengan visi dunia yang berkabut”.

Baca Juga: Jawa Tengah Terapkan PPKM Mikro Setingkat RT

Dia dan rekan sealirannya menyebut diri sebagai “pemakan daging dunia; “Kita memiliki gigi dan kuku; kita mengejar,meraih dan merobek” ujarnya. Bagi Sandip, tujuan boleh membenarkan cara, dan itu artinya hampir semua tindakan manusia dapat dimaafkan jika memiliki tujuan dan cakupan yang tinggi.

Dengan sarkastis dia berkata “Alam menyerahkan dirinya,” dia pasti akan menunjukkan dirinya, tetapi hanya untuk para perampok. Karena alam senang dengan keinginan yang kuat”.

Drama memuncak manakala Sandip meminta sejumlah harta kepada Bimala sebagai cara untuk melestarikan kekuasaan atas Bimala. Ini membawa komplikasi-komplikasi yang gawat, dan novel diakhiri dengan adegan-adegan yang sangat tegang dan kekerasan yang sungguh mengerikan. Kini Bimala harus menyadari bahwa jalan yang ditunjukkan Sandip kepadanya adalah jahat. Dia menjauhi laki-laki itu, tetapi semunya terlambat, dengan akhir yang tragis.

Baca Juga: Terdampak Pandemi, Pedangdut Magetan Jualan Pecel

Lewat karakter Sandip terlihat jelas ketidaksukaan Tagore terhadap kaum nasionalis ekstrimis yang berada di barisan swadesi saat itu. Penyimpangan Sandip mewakili penyimpangan para pemimpin Swadesi. Kesalahan Bimala mewakili kegagalan gerakan swadeshi pula.

Dengan sangat kecewa didapatinya bahwa gerakan ini telah menjadi sebuah gerakan elitis, berbeda dengan gerakan Gandhi masa depan yang dipimpin oleh kelas-kelas terdidik dan para pemilik tanah yang tidak memiliki hubungan maupun kepentingan dengan kelas buruh.

Tak heran, The Home and The World mengundang surat protes. Gerakan Swadesi menghasilkan banyak pemimpin politik ekstremis sekaligus moderat, pemimpin karismatik yang berapi-api, orator, patriot sejati dan juga pemimpin yang mencari jati diri.

Tidak semua pemimpin mementingkan diri sendiri dan anti sekuler seperti Sandip, atau semua orang adalah simpatisan `buta` seperti Bimala. Tagore jelas mencela nasionalisme yang menyimpangkan gerakan swadesi melalui kerusuhan komunal.

Novel ini sekaligus adalah cara untuk mengungkapkan perasaannya pada gerakan awal kemerdekaan. Seperti yang dikatakan Nikhil dalam sebuah baris di The Home and the World, “Hatiku telah menjadi semua mata. Hal-hal yang tidak boleh dilihat, hal-hal yang tidak ingin saya lihat, ini harus saya lihat.

Di baris ini, Nikhil hampir-hampir berbicara sebagai Tagore sendiri, dia tidak ingin menyaksikan banyak orang berubah menjadi lebih buruk. Ini adalah pesan yang dikatakan Tagore kepada orang-orang India, untuk lebih seksama melihat apa yang terjadi dengan gerakan itu, agar tidak beralih ke kekerasan dan tetap fokus untuk kesejahteraan rakyat.

*Penulis adalah dosen dan anggota Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (Cebastra)

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Perampok di Sukun Malang Tertangkap di Taman Dayu Pandaan ##tiktokberita

♬ original sound - Nusa Daily