Bersih nan Suci, Sebuah Tawaran Islam di Masa New Normal

  • Whatsapp
komunikasi
Akhmad Muwafik Saleh
banner 468x60

CAHAYA FAJAR 16

Oleh: Akhmad Muwafik Saleh

Tak dapat dipungkiri bahwa new normal mendorong umat manusia untuk hidup lebih sehat dan lebih bersih. Karena ternyata harga kesehatan dan kebersihan amat mahal. Bahkan nilai materi menjadi tidak bermakna apapun manakala seseorang menderita sakit. Mereka akan rela mengeluarkan berapapun kekayaan yang dimilikinya asalkan dirinya dapat sembuh dari sakit. Bahkan kepedulian manusia dalam pola konsumsi dengan menjadikan kesehatan sebagai kebutuhan utama. Ini menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat sebagaimana pula di saat mereka menjadikan wisata sebagai pola konsumsi utamanya

Pada tahap awal dalam konteks kebutuhan dan pelayanan kesehatan adalah kebutuhan primer. Namun pada tahap selanjutnya, kesehatan telah menjadi bagian dari Lifestyle seseorang sebagaimana wisata. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan adalah kebutuhan hidup manusia yang paling mendasar. Sekalipun banyak manusia yang kadang menganggap remeh persoalan kesehatan ini. Hal ini mendapatkan perhatian dari Nabi SAW, dengan menyatakan dalam sabdanya :

"
"

Baca Juga

"
"

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang manusia sering dilalaikan (rugi) di dalamnya yaitu sehat dan waktu luang (kesempatan).” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)

Islam sebagai way of life telah meletakkan kesehatan diri sebagai hal yang paling penting. Dan mendapatkan perhatian serius dalam berbagai aturan atau konsepsi Syariah. Berbagai pembahasan kitab kitab fiqih meletakkan kajian tentang thaharah pada pembahasan pertama sebelum memulai berbagai pembahasan lainnya. Bahkan pembahasan tentang thaharah ini dijelaskan dengan sangat detail. Baik yang terkait dengan apa yang melekat pada tubuh, alat atau media yang dipergunakan untuk mensucikan tubuh. Seperti air, tanah dan segala macamnya, serta segala dampak yang terkait dengan kesucian diri.

Kebersihan dalam Islam

Bahkan Jauh sebelum pembahasan fiqih, Islam telah membangun suatu kerangka berpikir dan pemahaman tentang pentingnya kebersihan. Yang hal itu dikaitkan langsung dengan persoalan keimanan. Sebagaimana disampaikan dalam hadis nabi :

اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Kebersihan sebagian dari iman.” (HR. Al-Tirmidzi)

Hal ini menandakan bahwa persoalan kebersihan tidaklah semata-mata berhubungan dengan aspek fisik saja. Namun sekaligus berkaitan erat dengan konsepsi nilai keimanan dan implementasi atasnya. Nabi bahkan menyebutnya bahwa kebersihan itu sebagian daripada cabang iman. Sebagaimana sabdanya :

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separoh keimanan.” (HR. Muslim)  

Perhatian Islam ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang bersih, suci. Serta sangat peduli dan mendorong umatnya untuk selalu hidup dalam keadaan bersih. Agar tetap terjaga tubuh yang sehat sehingga dapat menjalankan dan menegakkan aturan-aturan Allah SWT dalam kehidupan. Bahkan sebuah ungkapan menyebutkan pada tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat.

Bahkan salah satu maksud tujuan dari aturan (syariat) Islam adalah dalam rangka menjaga jiwa, hifdhz an Nafs (tentu selain menjaga harta, menjaga agama, menjaga akal, menjaga keturunan) yang kita kenal dengan istilah maqashid as syar’iyyah. Menjaga jiwa tentu lebih diutamakan dibandingkan lainnya setelah menjaga agama. Hal ini menandakan bahwa perhatian Islam terhadap jiwa sangatlah serius.

Kebersihan Diri dan Jiwa

Termasuk dalam menjaga jiwa adalah menjaga kesehatan dan tentu awal mula untuk membangun hidup yang sehat adalah dengan menjaga kebersihan. Mulai dari kebersihan diri hingga lingkungan. Bahkan Islam telah menetapkan suatu konsep yang melebihi dari semata kebersihan (materi) saja. Yaitu dengan menambah nilai (valueable) atas “bersih” (nadhif – nadhafah), yaitu suci (thahur – thaharah).

Bahkan dalam banyak konsep kemanusiaan, konsepsi Islam selalu bersifat melampaui (beyond). Pada kebersihan, Islam menetapkan dengan tambahan nilai “suci”. Pada makanan, Islam menetapkan tidak hanya “baik” (thayyib), namun menambahkannya dengan nilai “halal”. Semua ini menandakan bahwa konsepsi Islam adalah konsepsi yang melampaui dari semata materi. Namun melampaui materi yaitu spiritual, berupa hubungannya dengan Allah (shilah billah) dalam seluruh aktifitas kemanusiaan. Keterikatan hubungan dari seluruh interaksi manusia dengan Allah maka hal itu yang menjadikan manusia lebih bernilai (valueable). Yaitu mulia dan tindakan akan lebih bermakna (meaningfull). Inilah kehidupan yang disebut dengan unlimited success (fiddun yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah).

Kehidupan new normal bagi umat manusia, sejatinya adalah kehidupan yang melampaui dari normalitas selama ini. Yaitu kehidupan yang harusnya lebih bernilai dan bermakna. Islam menawarkan suatu realitas yang lebih berkualitas dari pada sekedar rasionalitas materi. Yaitu suatu kehidupan yang memiliki nilai tambah berupa kepedulian pada berbagai hal yang bersifat substansional dengan menambahkan nilai spiritualitas atas semua tindakan dan tujuan. Sehingga kehidupan new normal dalam perspektif ini tentu tidak hanya bersih namun suci. Dalam bisnis, tentunya tidak hanya mendapatkan keuntungan materi namun lebih memberdayakan dan bermanfaat — (melalui zakat, infaq dan sedekah)–. Dalam tampilan fisik tentu tidak hanya sekedar menutup hidung dengan masker namun diniatkan untuk menutup aurat. Dalam interaksi, tidak hanya menjaga jarak (physical distancing) namun menjaga jarak dengan kemaksiatan (nahi mungkar). Jika hal demikian dijalankan, maka tentu masa new normal tentu akan melahirkan kehidupan baru yang lebih baik dan positif. Itulah kehidupan yang Islam.

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur. Setiap hari menulis untuk nusadaily.com induk dari imperiumdaily.com

Post Terkait

banner 468x60