Jumat, Oktober 22, 2021
BerandaOpinionBelajar Kebhinekaan dan Toleransi di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Belajar Kebhinekaan dan Toleransi di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

- Advertisment -spot_img

Oleh: Dr. Muh. Fajar, M.Pd.

Tulisan ini merupakan sebagian hasil dari kunjungan Dosen Modul Nusantara dan Pertukaran Mahasiswa Kemendikbud RI yang berasal dari tiga pulau yaitu Kalimantan, Sulawesi dan Flores yang dilaksanakan oleh PT Penerima STKIP PGRI Jombang.

Kegiatan kunjungan dan diskusi secara virtual ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Modul Nusantara yang juga merupakan bagian dari dua kegiatan pertukaran mahasiswa yang dilaksanakan pada Sabtu tanggal 11 September 2021.

Ada beberapa pengetahuan yang bisa dikatakan baru yang dirasakan oleh para peserta pertukaran mahasiswa dengan mengikitu diskusi daring ini. Para pengasuh pondok memberikan sharing pengetahuan tentang teori dan aplikasi kebhinekaan dan toleransi yang sudah dilakukan oleh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Kemudian terjadi komunikasi dua arah berupa tanya jawab antara mahasiswa peserta pertukaran dan pengasuh pondok. ada pesan kunci dari kegiatan ini yaitu  Islam di Indonesia berbeda dengan Islam yang ada di berita berita media. Islam di Indonesia adalah damai.

Baca Juga: Imam dan Khatib Perempuan, Keunikan Idul Adha di Tebuireng

Pondok pesantren Tebuireng Jombang telah melahirkan tokoh- tokoh hebat dan mumpuni sejak sebelum jaman kemerdekaan hingga masa perang kemerdekaan sampai sekarang dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

Mulai dari Kh. Hasyim Asari sebagai Pendiri keorganisasian masyarakat bernama Nahdlotul Ulama’ yang lebih dikenal dengan NU, kemudian menurun ke putra putra beliau dari KH. Wahid Hasyim hingga mantan Presiden ke-4 RI yaitu Abdurrahman Wahid yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.

Kebhinekaan dan toleransi tidak bisa muncul begitu saja tanpa ada bangunan teori yang bersumber dari kitab suci Alqur’an. Pemahaman yang kuat terhadap agama Islam yang diyakini inilah yang menjadi dasar pemikiran tentang kebhinekaan dan toleransi dalam beragama.

Al ini banyak didukung juga oleh banyak tokoh tokoh yang dilahirkan oleh Pondok Pesantreh Jombang, antara lain, Prof. Ali Mustofa Yakub yang menulis tentang kerukunan umat dalam perpektif Alqur’an dan hadist.

Dalam tulisannya, ketika terjadi fathul makah atau terbukanya kota Makkah pada tahun 8 hijriyah, bahwa sayyidina Billal naik ke Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Seperti kita ketahui bahwa saudara Billal ini adalh seorang budak dan berkulit hitam.

Baca Juga: Maklumat Ponpes Tebuireng Kuatkan Ajakan Patuhi Prokes

Kemudian muncul komentar yang mempertanyakan mengapa Billal yang budak dan berkulit hitam itu naik keatas Ka’bah dan mengumandangkan adzan, mengapa tidak yang lain.

Dari kejadian ini timbullah rasisme. Dengan munculnya komentar ini maka Alloh menurunkan surah Alhujarah ayat 13 yang menyatakan bahwa “Hai para manusia, kata Alloh, Aku telah mencipatakan kamu (manusia) dengan ragam laki-laki dan perempuan dan Aku jadikan kalian bersuku suku dan berbangsa bangsa untuk saling mengenal”.

Dari surah yang turun ini berarti pada saat itu, eksistensi bangsa sudah diakui keberadaannya. Selain itu, dengan munculnya surah ini, maka bisa dikatakan telah melahirkan dua teori tentang keberagaman yaitu teori persamaan hak bagi manusia dan eksistensi bangsa dan suku.

Dengan demikian, jelaslah bagaimana agama Islam ini memandang manusia mempunyai hak dan kewajiban yang sama baik berasal dari bangsa Arab ataupun berasal dari bangsa yang lain sehingga keberadaan Billal yang berasal dari golonongan yang berbeda dan suku yang berbeda ini tidak menjadi masalah dalam Islam.

Baca Juga: Fira Azahra Adella, Pedangdut asal Kota Santri Kembaran Uut Permatasari

Sehingga dengan berbekal dari ayat tersebut maka kebhinekaan dan toleransi sudah menjadi harga mati dalam kehidupan manusia. Karena manusia itu diciptakan tidak dalam satu model saja dalam hal suku, bangsa dan ras manusia dan keberagaman ini dipandanng oleh Islam sebagai hal untuk saling mengenal dan menghargai.     

Keberagaman di pondok pesantren Tebuireng terf;eksi dari asal daerah para santri yang beraneka ragam dari seluruh bagian Negara Indonesia atau bakan luar negeri.

Sedangkan tentang toleransi, Pondok Pesantren Tebuireng seringkali menerima kunjungan dari berbagai tokoh tokoh atau masyarakat baik dari dalam maupu luar negeri dengan latar belakang suku, agama, ras, etnis serta golongan yang berbeda.

Bahkan ada pengajar yang non-muslim yang mengajar ilmu umum di Pondok Pesantren Tebuireng.

Demikian juga ada para siswa Kepasturan Malang yang berkunjung serta menginap di dalam Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dalam rangka belajar kebhinekaan dan bagaimana tolernasi bisa berjalan di dalam pondok.

Baca Juga: Pesantren Tebuireng Jombang Sikapi Materi Kamus Sejarah Indonesia

Salah satu kunjungan dari luar negeri juga ada pada saat ada studi multiculturalisme oleh mahasiswa yang dimbimbing oleh Profesornya dari Miami Dadge College, Amerika Serikat.

Sehingga bisa dikatakan bahwa kebhinekaan memang telah dipraktekkan oleh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini. Dari santrinya beragamam, pengajarnya juga beragamam serta Kurikulumnya pun beragam. Keberagaman ini telah menyatukan rasa emosional dan mengikat hati untuk bisa hidup yang harmonis.

Kegiatan kunjungan ini sangat berkontribusi kepada peningkatan pemahaman mahasiswa bahwa keberagaman atau kebhinekaan adalah sunnatulloh dan kita harus menjaganya sebagai bangsa Indonesia untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang kita cintai sampai dunia yang fana ini akan berakhir.

Penulis adalah Dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Jombang serta Pengurus DPP CEBASTRA.

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA KHUSUS

@nusadaily.com

Akhir-akhir ini Kota Malang panas banget nih, ngadem dulu yuk🍦🍦 ##tiktoktaiment

♬ Happy Ukulele - VensAdamsAudio

LIFESTYLE

PCR

Aturan Terbaru Perjalanan Udara Jawa-Bali, Wajib Tes PCR!

0
NUSADAILY.COM - JAKARTA - Satuan Tugas COVID-19  menyampaikan pelaku perjalanan udara dari dan ke Pulau Jawa-Bali serta daerah PPKM level 3 dan 4 wajib menyertakan...