Minggu, Oktober 17, 2021
BerandaOpinionAttributif Visioner Millennial

Attributif Visioner Millennial

- Advertisment -spot_img

Oleh: Abd. Muqit

Menilik tulisan sebulumnya yang berbicara tentang penggunanaan smart phone dalam meningkatkan literasi millennial, maka pada tulisan ini membahas tentang strategi millennial dalam meningkatkan konten ke-millenniall-annya. Sesuai dengan judulnya “Attibutif Visioner Millennial”. Judul ini disadur dari tokoh utama (Madasing dan Sayu) dalam novel “Anak Perawan di sarang Penyamun”.

Judul tersebut diambil karena adanya rasa tanggung jawab dan kekawatiran terhadap generasi millennial. Menurut Nuryanto (2018) para generasi ini lemah akan ilmu pengetahuan moral, dan agama. Lebih parahnya jika mereka lakukan sampai bertentangan dengan agama dan kebudayaan negara. Menurutnya, generasi ini menghadapi arus globalisasi yang sangat deras yang membutuhkan kesiapan dan kematangan mental yang baik. 

Terjangan arus globalisasi begitu dasyat dan derasnya, sehingga  para generasi milenial harus bisa mempersiapkan diri dari terjangan globalisasi tersebut.

BACA JUGA: Pemanfaatan Smartphone dalam Literasi

Apa yang mesti dipersiapkan oleh generasi millennial tersebut? Menurut Buya Hamka (2014) dalam bukunya yang berjuudul “Pribadi Hebat” bahwa cara mengatasinya adalah dengan meningkatkan kepribadiannya. Hal ini disebabkan karena tinggi rendahnya pribadi seseorang adalah karena usaha hidupnya, cara berfikirnya, tepat kalkulasinya dalam pelihat fenomena yang ada (calculating), visi yang panjang, dan kuatnya semangat pribadi.

Kalau dilihat dari perspektif Nuryanto tentang eksistensi generasi milineal dan identitas generasi millennial Buya Hamka, tepat sekali bila para millennial mencontoh tokoh Madasing dalam meng-explore– dirinya. Madasing secara sadar mengerti bahwa dirinya melakukan perbuatan yang keliru karena telah menjadi kepala perompak sadis di wilayah Sumatera.

Selanjutnya, dia dalam bawah sadarnya menganggap bahwa perbuatannya memang keliru. Sehingga dia menceritakan kepada Sayu kronologis dia menjadi seorang perompak. Kemudian, melihat ketulusan Sayu dan kebaikan budinya dalam merawatnya, Madasing akhirnya berketetapan hati untuk menjadi orang baik.

Jika menggunsan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud, Madasing melalui tiga tahap: id, ego dan super-ego. Ketiganya telah dilampaunya, sehingga Madasing berubah total dengan membuat dirinya jadi orang baik (englightment).

Ketetapan Madasing perlu diambil sebagai bahan reflektif oleh generasi millinneal. Bagaimana Madasing berusaha menjadi orang yang kurang bermanfaat menjadi bermanfaat, proses merubah karakter hewaninya menjadi karakter yang budiman. Visi hidupnya menjadi prospectus dengan melihat kedepannya dengan visi yang visioner.

Dari tokoh Madasing ini mewajibkan para millennial memiliki visi ke depan dengan mengedepankan kebaikan menjadi aktornya yang digerakkan dalam jiwanya (id), selanjutnya  nilai tersebut dijadikan aplikasi hidup yang bermanfaat (ego). Akhirnya menjadikannya orang yang baik, idaman hidup dan memiliki masa depan (super-ego).

BACA JUGA: Dari Cerita dan Budaya Panji, Andai Jawa Timur Provinsi Panji

Menurut Maulidya dan Adelina (2021), perubahan Madasing ini memang sesuai dengan perubahan yang sepantasnya terjadi pada masa orang dewasi (adolensi). Menurutnya Bahwa ciri utama dari adolesensi ialah mampu mengaitkan realitas dunialuar yang obyektif dengan AKU-nya (kehidupan jiwanya) sendiri. Kemudian mampu mengendalikan dorongan-dorongan dari dalam, untuk diarahkan pada tujuan yang berarti. Perubahan ke AKU-an Madasing dari orang yang ganas dan jahat menjadi seorang yang baik karena factor Sayu  (anak perawan). Dengan kebaikan dan kelembutannya sanggup merubah sifat jahat Madasing menjadi baik. Kemudian berkat person-si Sayu yang baik, mampu merubah purposive idealism Madasing. Sayu berhasil mempengaruhi si Madasing untuk merubah niat hati yang tidak baik menjadi baik hanya memakai senjata kelembutan dan perhatian.

Tokoh lain yang menjadi penentu utama (prime determinant) adalah Sayu. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Sayu di bawa masuk ke dalam hutan oleh Madasing. Dia dipelihara olehnya. Kendati keluarganya dibunuh semua oleh Madasing dan gerombolannya, Sayu tetap tegar menerima keadaan dirinya yang berada di tengah-tengah perampok. Dia berketetapan hati bahwa dia harus hidup dan menerima apa adanya sembari memasrahkan dirinya kepada nasib. Dia tetap merawat Madasing yang terluka walupun dia telah menghabisi seluruh keluarganya.

BACA JUGA: Membaca Kembali Cerpen Kritikus Adinan karya Budi Darma

Dia yakin bahwa kebaikan pasti akan melahirnya nilai budi yang luhur pula. Akhirnya, dengan kelembutan dan ketulusannya dia dalam merawat Madasing, madasing justru bertobat dan hijrah menjadi pribadi yang baik. Terbukti dia mengantarkan Sayu untuk mencari peninggalan orang tuanya dan pergi haji. Toko0h Sayu amat berjasa sekalim dalam menciptakan orang jahat menjadi baik.

Dengan demikian, hidup para millennial tidak akan merisaukan orang tuanya karena konsep Madasingisme telah ditautkan dalam hatinya dengan menggunakan pendekatan Buya Hamka melaui langkah Sigmund Freud. Dalam mewujudkan generasi milleneal yang ideal dan idaman, generasi millennial perlu meningkatkan literasi dirinya sehingan perspektif Madasingisme dapat terealisasi dengan baik.

*Penulis adalah dosen Politeknik Negeri Malang, dan pengurus DPP Cebastra

- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR

AnyFlip LightBox Embed Demo

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Gerakan Gempur Rokok Ilegal yang Digalakkan Bea Cukai Sasar Desa Olean

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Gerakan gempur rokok ilegal (GGRI) yang digalakkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Situbondo Bea Cukai Jember serta Kejari menyasar...