Andung

  • Whatsapp
Andung Pak Tikkos
Ilustrasi
banner 468x60

Oleh: Dr. Surya Masniari Hutagalung, M.Pd.

Kematian Amani Tikkos (Pak Tikkos) begitu mengejutkan hampir semua orang di Desa Nauli. Baru dua minggu yang lalu anaknya paling besar meninggal.

Keduanya sama, tidak punya riwayat penyakit dan meninggal bukan karena sakit. Sungguh sangat pilu nasib Nai Tikkos  (Mak Tikkos) ditinggal anak dan suaminya.

Pelayat sangat terharu dan ibu-ibu yang mendengar andung (ratapan) Nai Tikkos ikut menangis. Memang Nai Tikkos sangat ahli dalam marandung (meratap).

Alunan andung dan kalimat-kalimat yang diutarakan sangat menyayat pilu. Seluruh isi hatinya tercurah dan terkadang dia histeris dan menjerit. Tidak dibuat-buat  seperti biasanya.

Baca Juga: Phubbing: Anti Sosial?

Kalau dia marandung pada beberapa kematian, dia bisa mengatur intonasi dan alunan suara dengan sempurna, terkadang mengalirkan airmata  agar orang-orang ikut bersedih.

Tapi andung Nai Tikkos kali ini benar-benar membuat runtuh hati yang mendengar.

“Kasihan Nai Tikkos. Untuk apa lagi dia hidup, seperti yang dia katakan itu?” Begitulah ucapan orang-orang yang melayat.

Cerita itu terjadi di tahun 90an. Pada tahun tersebut tidak banyak lagi orang yang bisa marandung. Sehingga pada beberapa kematian, sering keluarga yang berduka mengajak seseorang yang mahir marandung, untuk meratapi mayat agar terkesan sempurna kematian seseorang dengan meninggalkan nama baik.

Nai Tikkos adalah seorang yang mahir marandung. Sering diajak untuk marandung lalu mendapat uang terimakasih. Biasanya dia menerima tawaran tersebut kalau dia kenal dengan yang mati (yang akan diandungi). Alasannya, andung dapat dijiwai dan  disampaikan dengan baik  jika ada ikatan batin.

Baca Juga: Membaca untuk Menulis Fiksi Sejarah

Andung adalah sejenis ratapan yang dimiliki masyarakat Batak Toba. Andung yang artinya hampir sama dengan ratapan adalah ungkapan perasaan kesedihan paling dalam yang sering disampaikan untuk meratapi yang meninggal.

Zaman dulu pada setiap kematian, pelayat pasti menunggu dan mendengar andung. Budi baik dan perbuatan yang meninggal selagi hidup bisa didengar dari isi andung yang disampaikan. Kesedihan keluarga disampaikan lewat andung.

Bagi dunia musik,  andung  dianggap sebagai  vocal tradisi Batak Toba. Sedangkan dalam dunia sastra, andung dianggap sebagai sastra lisan.

Disebut vocal tradisi  karena alunan yang dilantunkan merupakan kerangka awal lagu-lagu Batak Toba yang terdengar lebih banyak meratap. 

Sedangkan dianggap sastra lisan, karena  andung berisi ungkapan hati dan ekspresi berdasarkan pengalaman dan perasaan yang disampaikan secara lisan.

Baca Juga: Hal Menarik Terkait Tidak Diundangnya Ganjar Pranowo dalam Pengarahan Pilpres di Jateng

Kata-kata pada Andung bukanlah kata-kata yang biasa digunakan sehari-hari. Kata-kata khusus andung lebih dalam maknanya. Misalnya kata “amang” digunakan sehari-hari jika memanggil ayah, panggilan yang lebih halus adalah “among”, tapi dalam andung, kata yang digunakan adalah “amang parsinuan”.

Andung sangat istimewa, baik dalam penyampaian, bahasa dan isi andung itu sendiri. Dari kata-kata yang diucapkan dan alunan suara ketika meratap bisa diketahui bahwa seseorang lagi menyampaikan andung, bukan sekedar menangis. Andung disertai gerakan tangan di atas mayat dan terkadang menyentuh pipi dan hampir memeluknya.

Andung berisi pengalaman hidup, baik budi  dan jasa yang meninggal. Semua dituturkan melalui andung. Andung lebih menyayat hati dibandingkan dengan menangis atau meratap. Sehingga banyak orang yang melayat akan turut menangis jika andung yang dituturkan terdengar pilu.

Zaman dulu orang bisa mengetahui pengalaman hidup yang meninggal melalui andung. Kebaikan selama hidup, cerita pengalaman pribadi, riwayat penyakit dan usaha pengobatan yang dilakukan, gambaran masa depan keluarga sesudah ditinggal mati.

Sebenarnya andung disampaikan oleh seseorang yang punya kedekatan batin. Misalnya istri yang meninggal atau anak kandung, atau ibu kandung. Kematian yang biasa diandungi adalah kematian suami, ayah, ibu, atau anak.

Seiring masuknya agama ke tanah Batak, andung berangsur-angsur menghilang. Karena andung dianggap hanya dilakukan orang-orang yang tidak punya kepercayaan. Bagi sebagian orang, terutama orang berada andung bisa menaikkan harga diri yang meninggal.

Oleh sebab itu mereka akan mencari orang yang mahir marandung untuk melantunkan andungnya. Biasanya yang dicari adalah keluarga terdekat. Itulah sebabnya ada yang memanfaatkan keahliannya marandung menjadi semacam satu professi.

Akan tetapi menurut hasil  wawancara dengan seorang pangandung yang sudah berumur hampir 90 tahun, diketahui bahwa banyak penderitaan yang dialami seorang pangandung. Itulah sebabnya dia mengabaikan kemahirannya. Kesedihan selalu hinggap pada  kehidupan sebagian besar pangandung pada tahun 80an.

Baca Juga: Isyarat Antigone

Seorang pangandung akan mengalami kematian suami dan anak-anaknya secara cepat. Atau mengalami panen yang gagal. Sebagaimana jiwanya terpaut pada andung demikian juga jalan kehidupannya akan selalu terpaut pada kesedihan.

Itulah yang dialami oleh para pangandung, sehingga lama-kelamaan orang yang menuturkan andung pada kematian selalu dihalangi. Itulah sebabnya sangat sulit mencari orang yang bisa mangandung. Yang ditemukan pada kematian seseorang di Batak Toba pada zaman sekarang hanyalah menangis dan meratap. Bukan menuturkan atau melantunkan andung.

Demikianlah yang terjadi pada kehidupan Nai Tikkos. Dia tidak menyadari bahwa kesedihan perlahan-lahan selalu menghinggapi kehidupannya. Profesi sebagai pangandung akhirnya ditinggalkan, sebab di awal dia tidak percaya pada  mitos yang menyebut bahwa setiap pangandung pasti akan mengalami kesedihan di sepanjang hidupnya.

Turut berdukacita Nai Tikkos. Sebaiknya kemahiran marandung jangan dijadikan sebagai profesi. Kembalikan esensi andung sebenarnya.

*Penulis adalah dosen di Universitas Negeri Medan dan Ketua 2 DPP Cebastra