Senin, Juni 27, 2022
BerandaOpinion & ArtOpinionKata-kata Makian Berpotensi Membunuh

Kata-kata Makian Berpotensi Membunuh

Bisa kita cermati, ketika guru-guru Taman Kanak-anak atau Play Group tidak dibekali tentang ilmu perkembangan jiwa anak dan olah bahasa yang baik, maka kecelakaan munculnya kata-kata “makian” ini akan sangat besar. Hal ini berarti akan terjadi “pembunuhan” massal dalam dunia pendidikan kita.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Logika kita akhirnya akan menarik mundur tentang kondisi generasi kita saat ini yang takut mengemukakan pendapat; berdaya saing lemah; kurang tanggap terhadap kondisi lingkungan; dan tidak kreatif.

Mereka juga serba ragu-ragu dalam melangkah; takut salah, takut mencoba, akhirnya diam saja; menggantungkan pada sesuatu yang tidak beresiko; harga diri dan rasa malu semakin menipis.

Lebih dari itu, mereka juga lebih bersikap “menunggu” daripada “menjemput” kesempatan; lebih suka dipekerjakan daripada menciptakan lapangan pekerjaan, dan sejenisnya yang mengarah kepada “matinya” jiwa seseorang.

Mari kita amati para mahasiswa saat ini. Mereka tidak berani menyuarakan “kata hati nuraninya”, mereka ragu-ragu dengan kemampuannya sendiri, mau bertanya saja ada rasa takut, mau menyampaikan gagasannya juga tidak percaya diri.

BACA JUGA: Pesan Proletarianisme dalam Sapaan Rek di Jawa Timur

Inilah potret mahasiswa kita saat ini (pada umumnya). Mengapa ini terjadi? Jangan-jangan mereka itu ketika masih TK atau SD bahkan SMP terlalu sering dilontari kata-kata “makian”. Bahkan lebih parah lagi, ketika di rumah dimarahi, disalahkan, diumpat, setelah di sekolah ditambah dengan “sumpah serapah” oleh guru-guru yang sebenarnya “tidak memiliki jiwa guru”.

Untuk itu, sebagai evaluasi pada diri kita sendiri, marilah kita benahi dengan “mengharamkan” kata-kata “makian”, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, sehingga tidak terjadi lagi “pembunuhan” terhadap generasi-generasi mendatang. Semoga.

*Dr. H. Aries Purwanto, M.Pd. adalah dosen Pascasarjana IAI Al Khoziny, dan Sekretaris Umum Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora (PISHI).

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Pecahkan Rekor MURI, Gowes Presisi Nusantara Tempuh Jarak 508 Km Kurang dari 24 Jam

NUSADAILY.COM - MEDAN - Sebanyak 64 peserta Tim Gowes Presisi Khatulistiwa yang bersepeda menempuh jarak 508 km telah tiba di Akpol, Semarang. Upaya mereka...

Oleh: Dr. H. Aries Purwanto, M.Pd.

Sebuah tradisi yang dilakukan oleh Suku Aborigin di Australia menyadarkan kita bahwa ternyata kata-kata ”makian” dapat membunuh jiwa dan daya kreasi anak didik. Sekilas mengingat upacara tradisi yang disakralkan oleh Suku Aborigin: Ketika pohon-pohon besar yang sudah tua usianya, tidak produktif lagi, tidak memberikan keteduhan, dan dianggap tidak berguna lagi, maka pohon besar itu “dimaki-maki” secara ritual.

Kata-kata “makian” diarahkan kepada pohon yang dianggap sudah tidak berguna lagi. Sampai akhirnya tercipta “permusuhan batin” yang sengit, sehingga perlahan-lahan pohon itu pun tumbang, mati karena “dimaki-maki” secara bersama-sama dan terus-menerus.

Dari peristiwa ini memberikan inspirasi kepada kita, bahwa kata-kata “makian”, “keji”, “jorok”, “umpatan” ternyata dapat menusuk hati dan perasaan, sehingga terjadi sakit hati pada diri yang dimakai-maki. Pada gilirannya, sakit hati yang berkepanjangan dan sangat membekas di hati itu akan merusak syaraf-syaraf respon mareka.

Kerusakan-kerusakan syaraf itulah awal dari “terbunuhnya” potensi dalam diri anak. Rasa takut bersalah, sikap ragu-ragu, takut menghadapi resiko, takut bersaing, merasa kehadirannya hanya sebagai pelengkap, keberadaannya adalah sia-sia dan sejumlah sikap pesimis akan terbentuk setelah bertubi-tubi mendapat kata-kata “makian”.

BACA JUGA: Melampaui Absurditas: Sebuah Upaya Mengalahkan Kesia-siaan

Anak-anak kita adalah ladang subur, yang harus ditanami dengan benih yang unggul dan dirawat dengan penuh kasing sayang, perhatian dan bekal-bekal nilai moral yang tinggi.

Kita tanamkan rasa mandiri, siap bersaing dan bertanggung jawab dengan bekal pengetahuan serta keterampilan yang memadai. Janganlah kita membekali anak-anak didik kita dengan “umpatan” dan kata-kata “keji” sehingga akan membunuh karakter dirinya, membunuh daya kreasinya, serta mematikan jiwa besarya.

Sebagai contoh penggunaan bahasa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas yang “membahayakan” perkembangan jiwa anak, yaitu:

 “Kenapa terlambat?! Kamu tahu aturan gak?! Kamu punya telinga gak?! Kamu niat sekolah tidak?! Jangan mlongo aja, Bedes kamu… Awas ya, terlambat lagi saya lempar kamu lewat jendela…! Mana rumahmu? Dasar ndeso, angon kebo aja kamu pantes!

Suatu hari anak-anak bermain bola saat jam istirahat. Tanpa sengaja “tendangan maut” menghentakkan bola ke kaca sekolah hingga pecah. Berikut kata-kata guru kepada muridnya:

“Siapa memecahkan kaca? Anak-anak ketakutan sambil saling melempar kesalahan. “Yang main bola kumpul. Hai kamu! Kurang ajar sekali kamu! Tidak tahu sopan santun, tidak tahu aturan, ini sekolahan, bukan dapurmu! Keparat kamu itu. Lihat saya! Lihat saya! Kamu itu manusia apa bukan? Kamu itu demit apa setan? Kamu harus mengganti kaca yang pecah, itu mahal. Kalau tidak, kamu bisa dipenjara.”

BACA JUGA: Ahmadiyah dan Korban Rendahnya Literasi Kita

Ada anak mondar-mandir mencari pinjaman pensil atau penghapus. Suasana kelas menjadi ribut dan seorang guru pun dengan lantang berteriak:

“Diam! Apa yang diributkan?” Sambil menuding salah satu siswa yang sedang berdiri, guru pun berkata, “Duduk kamu! Diam di tempatmu sampai pelajaran habis. Awas ya kalau sampai pindah-pindah… Hai, tolah-toleh aja. Apa ini?

Guru merobek lembaran promosi Indomaret yang ada di tangan siswa. Sambil melempar ke wajahnya. “Memang kelas ini kelas yang paling kacau, kelas paling nakal-nakal, guru-guru lain bilang ini kelas setan. Yang ribut akan saya bungkam,” dan seterusnya.

Ada dua kerugian yang kita derita sekaligus dengan mengungkapkan kemarahan kepada anak-anak didik. Penelitian Dr. Smith,  seorang pemerhati dunia anak dari Inggris menghasilkan sebuah temuan, bahwa:

 Pertama, sekali saja orang marah dan mengungkapkan kata-kata “makian”, maka saat itu pula 8 syarafnya terputus. Dapat kita bayangkan seandainya seorang guru atau ibu rumah tangga dalam sehari marah 10 kali, maka sudah terputuslah 80 syarafnya;

Kedua, rasa takut (phobia) seorang anak yang paling tinggi adalah takut dimarahi atau dimaki-maki. Baru kemudian diikuti takut bayangan hitam, takut tempat terbuka, dan takut suara-suara gemuruh.

Dari dua kesimpulan ini menunjukkan, bahwa kerugian kita mengekspresikan kata-kata “makian” karena marah, dan dampak pada orang yang kita maki-maki akan menimpa pada keluarga kita khususnya dan pada keluarga besar dunia pendidikan kita, bahkan lebih luas pada seluruh generasi bangsa Indonesia. 

BACA JUGA: Menakar Kita dari Ujaran

“Membunuh” dalam konteks ini memang tidak mengacu kepada penghilangan nyawa dan matinya fisik seseorang, tetapi lebih kepada hilangnya “jiwa” dan “karakter” seseorang.

Bisa kita cermati, ketika guru-guru Taman Kanak-anak atau Play Group tidak dibekali tentang ilmu perkembangan jiwa anak dan olah bahasa yang baik, maka kecelakaan munculnya kata-kata “makian” ini akan sangat besar. Hal ini berarti akan terjadi “pembunuhan” massal dalam dunia pendidikan kita.

Logika kita akhirnya akan menarik mundur tentang kondisi generasi kita saat ini yang takut mengemukakan pendapat; berdaya saing lemah; kurang tanggap terhadap kondisi lingkungan; dan tidak kreatif.

Mereka juga serba ragu-ragu dalam melangkah; takut salah, takut mencoba, akhirnya diam saja; menggantungkan pada sesuatu yang tidak beresiko; harga diri dan rasa malu semakin menipis.

Lebih dari itu, mereka juga lebih bersikap “menunggu” daripada “menjemput” kesempatan; lebih suka dipekerjakan daripada menciptakan lapangan pekerjaan, dan sejenisnya yang mengarah kepada “matinya” jiwa seseorang.

Mari kita amati para mahasiswa saat ini. Mereka tidak berani menyuarakan “kata hati nuraninya”, mereka ragu-ragu dengan kemampuannya sendiri, mau bertanya saja ada rasa takut, mau menyampaikan gagasannya juga tidak percaya diri.

BACA JUGA: Pesan Proletarianisme dalam Sapaan Rek di Jawa Timur

Inilah potret mahasiswa kita saat ini (pada umumnya). Mengapa ini terjadi? Jangan-jangan mereka itu ketika masih TK atau SD bahkan SMP terlalu sering dilontari kata-kata “makian”. Bahkan lebih parah lagi, ketika di rumah dimarahi, disalahkan, diumpat, setelah di sekolah ditambah dengan “sumpah serapah” oleh guru-guru yang sebenarnya “tidak memiliki jiwa guru”.

Untuk itu, sebagai evaluasi pada diri kita sendiri, marilah kita benahi dengan “mengharamkan” kata-kata “makian”, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, sehingga tidak terjadi lagi “pembunuhan” terhadap generasi-generasi mendatang. Semoga.

*Dr. H. Aries Purwanto, M.Pd. adalah dosen Pascasarjana IAI Al Khoziny, dan Sekretaris Umum Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora (PISHI).