Rabu, Januari 19, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinion & ArtOpinionEmpati Terhadap ODHA dengan Bersikap End Inequalities

Empati Terhadap ODHA dengan Bersikap End Inequalities

Oleh: Diyah Aulanining Ilmiah, S.Pd.

Terbersit dalam benak seketika, “kenapa harus ada hari peringatan AIDS hingga mencakup area dunia?”. Padahal dua tahun ini, dunia pun dihebohkan dengan virus Covid-19. Sumber masalah keduanya sama; Virus.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Sedangkan satu perbedaan mendasar adalah pasien yang sudah terinfeksi Virus Covid-19 bisa disembuhkan total apalagi ditambah injeksi vaksin sebagai penunjang imun. Namun tidak bagi pengidap AIDS.

Vaksin pertama untuk HIV yang diuji klinis pada tahun 1987, kemudian 1988 hingga 2015 dinyatakan gagal.

Setidaknya tercatat minimal 12 calon vaksin gagal sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh Tiza Ng’uni dkk melalui jurnal Frontier in Immunology Vol. 11 2020 dengan judul Major Scientific Hurdles in HIV Vaccine Development: Historical Perspective and Future Directions.

Menjaga jarak memang sangat dianjurkan guna menghindari penularan Covid-19. Namun tidak demikian perlakuan pada pasien penderita HIV/ AIDS.

Meskipun penderita HIV harus mengkonsumsi obat khusus seumur hidup. Seorang teman tidak akan tertular virus ini hanya dengan bergandengan tangan, memeluk sebagai rasa empati bahkan makan menggunakan piring dan sendok yang sama.

Tidak berlebihan ketika WHO sebagai organisasi yang bergerak di bidang kesehatan tingkat dunia menyerukan tema peringatan hari AIDS tahun ini dengan pernyataan End inequalities, End AIDS, End pandemics.

Mengakhiri diskriminasi layanan bagi penderita HIV juga mengingatkan untuk terus berpola hidup sehat supaya AIDS dan pandemi di dunia ini segera berakhir.

End inequalities atau mengakhiri ketimpangan menyerukan pada para pemimpin dan orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam menghadapi ketidaksetaraan layanan penanganan HIV.

Baca Juga: Waduh! Kasus HIV/AIDS di Halmahera Utara Sebanyak 897

Hari peringatatan AIDS sedunia selain ditujukan kepada penderita supaya tetap memiliki semangat untuk menjalani kehidupan bermasyarakat. Juga memberikan peringatan pada setiap individu untuk hidup sehat jiwa raga serta memahami penyebab kemunculan virus ini.

1 Desember tentunya menjadi peringatan untuk tetap semangat mendampingi para penderita, khususnya bagi beberapa komunitas sosial peduli AIDS.

Forum sosial ini memberikan konsep diri tentang gambaran diri, peran, harga diri, identitas dan ideal diri.

Memberikan motivasi bahwa para penderita juga mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan kesejahteraan positif dalam aspek biologi, psikologis, sosial dan spiritual.

Baca Juga: Pemkot Pekanbaru Sebut 223 Warganya Tertular HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) memang belum memiliki solusi obat secara internal guna penyembuhan total.

Namun sebagai Warga Negara Indonesia yang merupakan bagian dunia sudah seharusnya memberikan obat eksternal dengan tidak bersikap diskriminatif.

Penderita HIV dengan penurunan imun tubuh harus mengkonsumsi berbagai macam obat antiretroviral (ARV).

Obat ini ketika sudah masuk internal DNA akan menekan virus HIV yang kemudian bersembunyi di dalam sel T pembantu dan menjadi tidak aktif.

Baca Juga: Darurat HIV/AIDS dan Narkoba, Pemkot Malang Sadarkan Pemuda

ARV meningkatkan imun pasien sehingga mengurangi resiko kematian yang diakibatkan oleh infeksi oportunistik. Beberapa nama obat yang dikategorikan ARV mengurangi jumlah viral load HIV. Bahkan beberapa hasil test yang disosialisasikan baik melalui seminar maupun media sosial menunjukkan hasil negative HIV.

Namun viral load HIV yang merupakan perbandingan jumlah partikel virus HIV per 1 mililiter dalam darah akan keluar dari persembunyiannya dan memperbanyak diri sehingga bisa menurunkan imun penderita ketika obat ARV tidak dimasukkan lagi kedalam tubuh.

Baca Juga: Inul Daratista Raih Penghargaan Lagu Dangdut Terbaik, Ini Daftar Lengkap Pemenang ADI 2021

Target three zero pada 2030 harus menjadi pengingat bagi semua pihak.

Harapan yang disampaikan oleh Kemenkes pada 2019 dalam hari peringatan yang sama adalah nol angka untuk penularan infeksi baru HIV, nol kematian dan tak ada lagi stigma diskriminasi pada ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Poin ketiga ditegaskan kembali melalui tema peringatan tahun ini; end inequalities. Peningkatan target mengakhiri epidemic HIV pada tahun 2030 juga diutarakan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres. 2030 seolah memang menjadi target yang sudah mendunia.

Seperti tafsiran yang disampaikan oleh pendiri Microsoft, Bill Gates dalam the World Economical Forum 26 Januari 2015 bahwa akan ada peralatan medis yang diluncurkan dalam kurun 15 tahun kedepan.

Baca Juga: Pandemi COVID-19, Kasus HIV/AIDS di Kota Probolinggo Menurun

Artinya pada 2030 Gates memperkirakan alat medis tersebut mampu menyembuhkan penderita HIV AIDS dengan penanganan selama setahun saja. Tidak perlu lagi menjalani masa pengobatan seumur hidup.

Kabar menggembirakan berawal dari Universitas Oxford pada pertengahan tahun 2021 lalu bahwa telah dilakukan uji klinis dari fase satu untuk vaksin HIV.

Vaksin ini berpotensi cocok digunakan seluruh dunia, begitu pesan penting dari peneliti utama uji coba yaitu Profesor Imunologi Vaksin di Institut jenner Universitas Oxford bernama Tomas Hanke.

Sejak dicetuskan oleh James W. Bunn dan Thomas Netter pada 1987 kemudian ditetapkan 1 Desember 1988 sebagai hari AIDS sedunia oleh Direktur Program Global AIDS, epidemi ini memang sering berhubungan dengan diskriminasi sikap masyarakat terhadap ODHA.

Terkait pelayanan kesehatan dalam hal pemberian Vaksin pencegah Covid-19, Kemenkes sudah menghimbau penderita HIV untuk tetap menjalani vaksin.

Bahkan bagi yang belum memiliki KTP, bisa dengan mudah mendatangi Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Dispendukcapil) guna meminta Nomor Induk Kependudukan sebagai salah satu syarat mendapatkan layanan vaksin.

Oleh karena itu sebagai individu maupun personal yang tergabung dalam komunitas sosial sudah seharusnya berbuat baik pada sesama tak terkecuali pada ODHA.

Tentunya sikap tersebut bertujuan memberikan hak bagi Warga Negara Indonesia dengan makna tersirat termasuk didalamnya adalah ODHA sesuai pasal 28 H ayat 1 untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik, sehat serta memperoleh pelayanan kesehatan.

Sehingga UUD 1945 Pasal 28H ayat 2 melanjutkan dengan menegaskan bahwa setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna persamaan dan keadilan.

Seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan tentu harus terus giat memerangi dan menjauhi penyebab serta paham akan proses penyebaran HIV.

Iklan layanan masyarakat baik media cetak, online hingga televisi sudah sering dilakukan. Pandemi covid-19 juga sangat bisa menjadi pengingat untuk menjaga jiwa raga tetap sehat.

Melalui makna pita merah satu lengkungan yang terhubung dengan ujung terbuka, mari kita membuka pola pikir dengan menanamkan kesadaran perlunya pemahaman bukan ketidaktahuan.

Menggandeng tangan mereka bukan berarti setuju atas perbuatan tidak baik para ODHA di masa lalu. Mari bersikap baik karena Tuhan pasti memberikan kehidupan yang baik kepada siapa saja yang sudah berniat dan berbuat kebaikan. Semoga kebaikan diiringi kabar baik tentang vaksin HIV. Hopefully

Penulis Empati Terhadap ODHA dengan Bersikap End Inequalities adalah guru SMPN 04 Batu Mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Perampok di Sukun Malang Tertangkap di Taman Dayu Pandaan ##tiktokberita

♬ original sound - Nusa Daily