Penampakan Ular di Keraton Yogyakarta, Apakah Kyai Jegod?

  • Whatsapp
Penampakan Ular Keraton Yogya
Kanjeng Mas Tumenggung Tirto Joyo Tamtomo, 70 tahun, abdi dalem yang berprofesi sebagai pemandu wisata, menunjukkan ruangan berisi boneka yang memperlihatkan beberapa ritual, dari khitan sampai pernikahan, Sabtu, 17 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – YOGYAKARTA – Penampakan ular di Keraton Yogyakarta ramai jadi topik perbincangan. Pihak Keraton Yogyakarta membenarkan adanya kejadian tersebut.

Menurut Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta, KRT Jatiningrat kejadian seperti itu dianggap sebagai hal yang biasa terjadi dan tidak mengejutkan.

Baca Juga

“Ya tidak apa-apa, ya biasa itu (penampakan ular). Di keraton sering kejadian-kejadian yang begitu-begitu dan itu sudah biasa, kejadian biasa,” kata KRT Jatiningrat, saat dihubungi detikcom, Selasa, 20 Oktober 2020.

Ular Yogyakarta
Penampakan ular melingkar di tiang Bangsal Magangan Keraton Yogyakarta. (FB: Subhan Mustaghfirin)

Bahkan menurut pria yang akrab disapa Romo Tirun itu, penampakan ular tiba-tiba datang sebetulnya sudah kerap terjadi di lingkup Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Terlebih saat perayaan atau peringatan salah satu tokoh di Keraton.

“Jadi kalau ada hal-hal yang aneh itu (penampakan ular) sudah biasa. Mungkin di luar mengejutkan, tapi kalau di keraton, orang-orang keraton (biasa). Jadi hal-hal yang tidak biasa di luar sudah biasa di keraton, tidak pada terkejut, apalagi harinya malam Jumat Kliwon dan sedang memperingati haulnya HB (Sultan Hamengku Buwono) IX,” lanjut Romo Tirun dikutip dari detik.com.

Ular tersebut melingkari soko yang ada di Bangsal Magangan, tepatnya di pilar sebelah barat utara, persis di atas umpak (batu penyangga tiang).

Kyai Jegod

Menurut Kanjeng Mas Tumenggung Tirto Joyo Tamtomo (70) abdi dalem Keraton Yogyakarta yang juga berprofesi sebagai pemandu wisata di kawasan Pagelaran Siti Hinggil, menjelaskan, seluruh area di kawasan keraton merupakan tempat wingit atau sakral.

“Keraton dari kata keratuan atau tempat raja. Kebanyakan masyarakat takut sama raja. Semua tempat yang digunakan oleh sultan biasanya orang takut dan dianggap sakral, sebab mereka menghormati sultan sebagai pemimpin,” ucap Kanjeng Mas Tumenggung Tirto Joyo Tamtomo, yang memiliki nama kecil Dalimin ini dikutip dari tagar.id.

Pada zaman dulu, kesakralan dan penghormatan warga terhadap area keraton sangat terasa. Misalnya, saat warga akan berkunjung dan memasuki area keraton, dari jauh mereka sudah berjalan jongkok untuk masuk.

Kesakralan area keraton bukan hanya karena lokasi itu menjadi tempat tinggal dan sering dikunjungi oleh Sultan dan keluarganya. Tetapi juga ada kepercayaan tentang makhluk astral atau tak kasat mata yang menjadi penunggu area keraton.

Kata Tumenggung Tirto Joyo, area keraton dilindungi oleh tiga penjaga, yakni Kanjeng Ratu Kidul sebagai Ratu Pantai Selatan menjaga dari selatan, raksasa bernama Sapu Jagat menjaga dari utara, tepatnya di Gunung Merapi, dan jin berwujud ular pendek bernama Kyai Jegod, menjaga di dalam keraton. (ark)

Post Terkait

banner 468x60