Budayawan Ngatawi Al Zastrouw: Ada Beberapa Skenario untuk Budayakan Pancasila

  • Whatsapp
pancasila ngatawi
Budayawan Ngatawi Al Zastrouw. (Istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – BPIP sebagai lembaga negara yang memiliki peran untuk menanamkan, menyebarkan, dan membudayakan Pancasila, dan ingin menjadikan pancasila sebagai budaya bangsa Indonesia yang terus tertanam. Untuk mewujudkan hal tersebut ada beberapa sekenario yang harus dilakukan. Pertama, BPIP harus mendengar dan melihat. Artinya, BPIP mendatangi komunitas adat yang ada di daerah yang secara konsisten sudah mengamalkan budaya Pancasila.

Hal tersebut diungkapkan budayawan dari Universitas Indonesia (UI) Ngatawi Al Zastrouw, saat dirinya mendampingi Direktur Pembudayaan BPIP Irene Camelyn Sinaga mengadakan kunjungan perkampungan adat penganut kepercayaan Marapu di Sumba, Minggu 22 November 2020.

Baca Juga

Dikatakannya pula, banyak komunitas adat yang berkembang di Sumba, NTT, secara nyata justru mengamalkan dan menjalankan pembudayaan pancasila.

BACA JUGA: BPIP Gandeng Komunitas Adat Sumba untuk Wujudkan Pembudayaan Pancasila

“Jika ingin kembali mengamalkan ajaran Bung Karno, maka Pancasila itu harus digali dari tradisi nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang tumbuh di daerah. Dengan bahasa lain, sumber mata air dari pancasila itu adalah local wisdom dan teradisi-tradisi yang ada di nusantara ini,” ucap Ngatawi.

Dirinya menambahkan, Pancasila menjadi asing, karena tidak bisa mengalirkan lagi. Pancasila seperti danau, yang menjadi titik temu dari sumber-sumber mata air peradaban yang ada di nusantara ini.

“Ketika sumber-sumber mata air ini tersumbat, itu kan potensi-potensi aja, maka tahap awal, pihaknya akan membersihkan gorong-gorong dan memunguti sampah-sampah yang menutupi sumber mata air. Supaya air yang jernih ini bisa kembali mengalir dan berkumpul, supaya oase yang tersedia tidak kering lagi. Dengan begitu, setiap orang bisa berenang dan mengambil airnya untuk kebutuhan manusia,” jelas salah satu Budayawan Nasional ini.

Ngatawi berharap, Kedepannya setelah BPIP melihat dan mendengar sejumlah komunitas budaya terkait harapan dan pikiran-pikiran, termasuk konsep-konsep yang sudah mereka lakukan selama ini.

“Dari hasil inilah, akan dijadikan bahan untuk menyusun strategi pembudayaan Pancasila. Sehingga, harapannya nanti, pembudayaan Pancasila tidak hanya BPIP yang menjalankan tapi juga pihak-pihak lain, seperti kementerian dan lembaga-lembaga terkait lainnya,” harap Ngatawi.

Lebih lanjut Ngatawi mengatakan, langkah selanjutnya, BPIP juga akan melakukan advokasi, baik positif maupun negatif.

Advokasi positif artinya, memberikan advokasi supaya komunitas-komunitas budaya ini bisa bisa dikenali dan dilihat orang. Sehingga, kalau ada orang berprilaku Pancasila atau contoh baik yang bisa ditiru meskipun tidak mirip.

“Ada spirit, semangat yang bisa dijadikan rujukan. Sementara, advokasi negatif, caranya mendorong komunitas budaya yang baik supaya tumbuh dan bisa memberikan contoh dan keteladanan kepada pihak-pihak yang sudah kering dari nilai-nilai Pancasila,” papar Ngatawi.

BACA JUGA: BPIP Gelar Lokakarya Nasional, Cetak Biru Sistem Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila

Dia mencontohkan, seperti yang baru dilakukan di Rumah Budaya Sumba, itu riil dari praktik pancasila. Bagaimana orang bekerja dengan panggilan hati, melakukan edukasi, gerakan aktualisasi terhadap penanaman nilai-nilai pancasila. Sekalipun mereka tidak menamakan itu sebagai gerakan Pancasila.

“Makanya kita membangun kerja sama dengan mereka untuk tukar informasi, menjadikan mereka sebagai tempat kita belajar,” pungkasnya.(sir/lna)

Post Terkait

banner 468x60