BPIP Telusuri Jejak Filosofis dan Historis Pancasila di Ende

  • Whatsapp
bpip pancasila
Direktur Pengkajian Materi BPIP bersama tim saat mengunjungi Muhammad Sabri saat mengunjungi Biara Santo Yosef Ende, yang didirikan tahun 1913. (BPIP for Nusadaily.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Direktorat Pengkajian Materi BPIP melakukan penelusuran jejak filosofis dan historis Pancasila di Ende Nusa Tenggara Timur Kamis 10 Desember 2020. Di hari pertama, BPIP melakukan wawancara dengan mantan Bupat Ende Priode 1983 – 1993 dan mantan Wakil Gubenur NTT 1998 – 2003 Drs. Johanes Pake Pani. 

Direktur Pengkajian Materi Muhammad Sabri sebagai penanggung jawab kegiatan disela sela penelusuran mengatakan, Maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut.

Baca Juga

“Kami menapaktilasi jejak permenungan, nafas interaksi dan spirit pluralisme Bung Karno di Ende. Tak berlebihan jika saya berpendapat Ende adalah lokus di mana protonasionalisme keindonesiaan berkecambah,” ujar Sabri.

BACA JUGA: BPIP Gandeng Lima Segmentasi dan Kesbangpol, Bumikan Pancasila di Bandar Lampung

Di keesokan harinya, penelusuran dilanjutkan dengan mengunjungi Biara Santo Yosef Ende, yang didirikan tahun 1913. Tempat ini merupakan tempat pengasingan Bung Karno Presiden RI pertama di jaman penjajahan Belanda.

Dalam kunjungan tersebut, Tim BPIP disambut hangat oleh Pater Henri Daros, SVD, pencetus “Serambi Sukarno”. Di kesempatan itu juga Pater Henri menyampaikan titik terang buku-buku yang dibaca Bung Karno saat masih di pengasingan.

Masih Kata Pater Henri, Bahwa Buku yang dibaca oleh Bung Karno tersebut memiliki bentangan horizon yang luas: teologi, filsafat, seni, budaya, dan politik. Bahkan, di perpustakaan itu pula Bung Karno mendapati dua encekli Ajaran Kristen yang diterbitkan dan ditandatangani langsung oleh Sri Paus di Vatikan yang mengurai secara bernas tentang perjuangan buruh dan pentingnya nasionalisme. 

Diceritakan pula, Bung karno saat itu diterima dengan baik oleh semua biarawan, khususnya dua misionaris asal Belanda yaitu Pater Gerardus Huijtink, SVD dan Pater Joannes Bouma, SVD. Sehinggat terjalin persahabatan yang sangat erat.

BACA JUGA: Stafsus Ketua DB BPIP: Pencegahan Korupsi Dimulai dari Penanaman Nilai Keluarga

Dengan keakraban tersebut, Bung Karno dapat dengan mudah diberikan akses membaca atau meminjam buku dan majalah asing yang ada di perpustakaan biara. Bahkan dirinya juga sering berkonsultasi para biarawan tentang rencana dan jadwal pementasan tonil hasil Karya Bung Karno bersama dengan group seninya yang dinamakan Kelimutu.

“Interaksi intelektual Bung Karno dengan para Pater, kian mempertajam visi intelektual dan ideologisnya, yang kelak memberi inspirasi tidak kecil pada permenungan, penggalian dan penemuannya terhadap lima butir mutiara Pancasila,” ujar Pater Hendri.(sir/lna)