Nice to E-Meet You

Oleh: Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd. dan Rizky Lutviana, M.Pd.

Jul 7, 2024 - 08:05
Nice to E-Meet You
Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd.

Nice to e-meet you“, sebuah ungkapan seorang praktisi mengajar di kelas saya ketika mengucapkan salam perpisahan karena pembelajaran telah berakhir. Saya tersadar bahwa saat itu saya sedang berkolaborasi mengajar dengan seorang praktisi secara daring. Sebuah kegiatan yang dewasa ini terasa lumrah dan sering kita jumpai. Sebuah fenomena yang kita alami dalam pembelajaran daring dengan menggunakan platform seperti Zoom Meeting, Google Meeting, Microsoft Teams, atau platform lainnya.

Secara umum, ketika kita bertemu dan berinteraksi dengan seseorang dalam bahasa Inggris, kita sering mengungkapkan nice to meet you. Hal ini karena kita bertatap muka secara langsung. Namun akhir-akhir ini ungkapan nice to e-meet you terasa mulai terbiasa kita dengarkan. Sebuah fenomena (terasa baru) di dunia pendidikan di Indonesia yang secara masif kita jumpai setidaknya sewaktu pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk negeri Merah Putih.

Fenomena lain yang sering muncul akhir-akhir ini adalah kegiatan- kegiatan, seperti rapat, workshop, ataupun pertemuan lain berbasis daring. Bahkan beberapa pekerjaan tertentu sampai saat ini dilakukan secara Work From Home (WFH) karena berbagai alasan tertentu.  Oleh sebab itu, pendidik harus meningkatkan kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam kegiatan terkait proses belajar dan mengajar.

Orang bijak bilang bahwa kehadiran guru tidak akan tergantikan oleh teknologi. Namun demikian, guru yang tidak melek teknologi akan tergantikan oleh guru yang memaksimalkan teknologi dalam proses belajar dan mengajar sebagai media pembelajaran.

Media pembelajaran sangat penting dalam dunia pendidikan untuk menarik perhatian siswa dan menjaga mereka tidak jenuh selama proses pembelajaran. Media pembelajaran mencakup pendekatan, alat, dan strategi yang digunakan untuk lebih memfasilitasi interaksi siswa-pengajar. Seperti bangunan, media pembelajaran adalah pondasi. Tanpa pondasi yang kuat, bangunan akan rapuh dan mudah roboh.

Begitu pula dalam pembelajaran bahasa Inggris, prosesnya tidak akan menarik dan tidak berkembang jika tidak ada media yang sesuai. Oleh karena itu, guru sangat diharapkan untuk menggunakan platform pembelajaran berbasis teknologi agar tercipta komunikasi yang efektif. Guru mudah menyampaikan materi dan siswa mudah memahaminya. Komunikasi efektif sangat penting untuk proses pembelajaran. Pencapaian tujuan pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi antara guru, bahan ajar, dan siswa berbasis teknologi seperti simulasi dan video interaktif.

Penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar kita kenali sebagai TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledge). Ini merupakan kerangka kerja yang sangat penting bagi para guru dalam era digital. TPACK menggabungkan tiga komponen utama: Pengetahuan teknologi, pengetahuan pedagogik, dan pengetahuan konten.

Bahkan sesuai pengalaman penulis dalam mengajar PPG Daljab, TPACK wajib diterapkan oleh peserta didik dalam praktik mengajar di sekolah masing-masing. Hal ini didasari suatu keyakinan bahwa saat ini proses belajar dan mengajar harus variatif dengan memanfaatkan teknologi agar learning outcomes dapat tercapai. Selain itu, pembelajaran diharapkan sedapat mungkin dekat dengan dunia siswa yang notabene hidup di jaman teknologi digital.

TPACK sangat bermanfaat untuk pembelajaran bahasa Inggris karena dapat meningkatkan pemahaman siswa melalui penggunaan teknologi yang relevan yang dapat membuat materi lebih menarik dan interaktif. Selain itu, TPACK membantu guru dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk mengajar dengan lebih baik, yang memungkinkan mereka untuk merancang pembelajaran yang lebih inovatif, efektif, dan menarik.

Penggunaan sumber belajar digital juga meningkat  yang membantu siswa belajar mandiri dan menjadi lebih kreatif. Oleh karena itu, TPACK berfungsi sebagai alat yang membantu memasukkan teknologi ke dalam pendidikan, menyiapkan siswa dan pendidik untuk tuntutan abad ke-21.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan TPACK dalam pembelajaran bahasa Inggris. Pertama, guru dapat memilih teknologi yang tepat untuk mendukung metode pengajaran dan materi pelajaran yang relevan. Kedua, guru harus merancang kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang materi bahasa Inggris. Ketiga, evaluasi dan refleksi terus menerus terhadap praktik pengajaran sangat penting untuk memastikan integrasi TPACK efektif dan memenuhi kebutuhan pembelajaran siswa. Ini dapat dicapai melalui penggunaan aplikasi pembelajaran interaktif, platform online, atau media sosial sebagai alat untuk berkolaborasi dan berkomunikasi. Akhirnya, partisipasi dalam komunitas profesional dan kolaborasi dengan rekan guru dapat membantu pengembangan TPACK.

Jadi saat ini guru dituntut untuk meng-up grade kualitas mengajar mereka dengan terus belajar dan menerapkan teknologi dalam proses belajar dan mengajar. Mereka harus paham bahwa pengetahuan teknologi siswa mereka terus berkembang. Bahkan dalam kasus tertentu, mungkin siswa jauh lebih melek teknologi dari pada guru mereka. Hal ini karena mereka lahir, tumbuh dan berkembang bersama teknologi yang sedemikian pesat.

Mungkin saja 20 tahun ke depan siswa Indonesia tidak perlu lagi membawa tas yang berat ke sekolah. Hal ini dikarenakan semua materi pelajaran ada di dalam gadget mereka (laptop), seperti e-book, e-portfolio, e-assessment, atau e-‘lainnya’. Ini baru angan-angan penulis yang mungkin terjadi di masa depan. Wallahu a’lam bishawab.

 

 

 

Dr. Teguh Sulistyo, M.Pd. adalah Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas PGRI Kanjuruhan Malang dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia PISHI).

Rizky Lutviana, M.Pd. adalah dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.

Editor: Wadji