Wagub Emil: Berita Hoax Picu Perpecahan Bangsa, Menyuburkan Intoleransi dan Radikalisme !

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM- SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa berita hoax memicu perpecahan dan berujung kepada menyuburkan sikap intoleransi dan radikalisme di negeri ini.

Baca Juga

Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung upaya Polda Jatim menggelar diskusi kebangsaan karena wujud komitmen Pemprov Jatim menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa sesuai Nawa Bhakti Satya Jatim Harmoni.

Tema diskusi kebangsaan kali ini adalah “Melawan Intoleransi dan Menangkal Radikalisme.”

“Pemerintah Provinsi Jawa Timur sangat mendukung diskusi kebangsaan yang diselenggarakan oleh Mapolda Jawa Timur,” ujarnya, saat membuka diskusi di Rupatama Mapolda Jatim, Rabu (23/12/2020) malam.

Komitmen menjaga utuhnya persatuan dan kesatuan bangsa dalam Jatim Harmoni, sebagai satu dari sembilan Nawa Bhakti program unggulan kepemimpinan Gubernur Khofifah dan Wagub Emil Dardak.

“Ibu Gubernur dan kami, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen menjalankan nawa Bhakti Satya, memajukan Jawa Timur diantaranya ada Jatim Harmoni artinya, pembangunan bukan sekadar fisik atau intelektual saja, melainkan juga ada pembangunan karakter,” jelasnya.

Mantan Bupati Trenggalek ini mengharapkan, diskusi kebangsaan ini menjadi salah satu ikhtiar Jawa Timur mewujudkan bangsa yang berkarakter. Sesuai dalam UU 17 tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025, arti bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis berbudaya dan berorientasi iptek. Lalu berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

“Diskusi kebangsaan ini juga sebuah upaya membangun nation and character building sesuai amanah Pancasila dan UUD 45,” imbuhnya.

Radikalisme Ancam Keutuhan NKRI

Kata dia Intoleransi dan radikalisme merupakan dua hal yang dapat mengancam persatuan, kesatuan, dan keutuhan NKRI. Emil mengimbau agar saling mengenal dan memahami perbedaan di masyarakat. Usaha itu sebagai alat menghindari intoleransi dan masuknya radikalisme.

“Bahwa saling mengenal dan saling memahami akan menjadi sebuah landasan untuk bersikap di tengah- tengah masyarakat,” ucapnya.

Kata dia sejatinya hidup di Indonesia harus mampu menjadikan perbedaan sebagai sebuah kekayaan, menekan egosentris, hidup rukun antar sesama anak bangsa dalam bingkai ideologi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Negeri ini ada 714 suku bangsa, 1001 bahasa daerah dan ragam budayanya berbeda. Sudah lama hidup di Indonesia ditopang oleh ideologi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.

Butuh upaya konkret untuk membentengi diri dari intoleransi dan radikalisme. Pemprov Jatim telah menerbitkan Perda 8 tahun 2018 tentang penyelenggaraan toleransi kehidupan bermasyarakat dan Pergub 32 tahun 2020 yang menjadi Peraturan Pelaksana Perda 8 tahun 2018.

“Perda toleransi ini merupakan sikap Pemprov Jatim dalam merespon kondisi bangsa saat ini, dari situasi politik yang bisa saja berdampak di Jawa Timur,” tegasnya.

Langkah nyata dalam mencegah intoleransi dan menangkal radikalisme adalah dengan tidak menyebarkan berita hoax, provokatif sehingga informasi harus dikroscek kebenarannya, tabayun atau konfirmasi kepada yang bersangkutan.

“Rawan berita hoax, kadang foto seakan kejadian sekarang padahal itu peristiwa lama, ada video yang harusnya lengkap 2 menit hanya jadi 20 detik, lalu diberi narasi yang bisa memicu kemarahan,” sebutnya.

Melalui diskusi kebangsaan tersebut, Wagub Jatim ini berharap ada peran pemerintah dalam peningkatan toleransi, kerja sama peningkatan kapasitas dan fasilitasi toleransi di ruang publik. Tak lain untuk memperkuat NKRI. Dan Jatim sebagai miniatur Indonesia bisa menangkal intoleransi dan radikalisme.(ima/aka)