Soal Dugaan Intervensi Kasi Datun, Kejari Jember: Tanyakan Langsung ke Kejaksaan Tinggi

  • Whatsapp
Kasi Intelijen Kejari Jember, Agus Budiarto (kanan) bersama Kasi Pidsus Setyo Adhi Wicaksono (kiri) saat konferensi pers hari ini. (nusadaily.com/sutrisno)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JEMBER – Kontroversi menyeruak seiring tiadanya nama Bupati Jember, Faida dalam daftar para pihak yang dimintai keterangan sebagai saksi pada perkara dugaan intervensi masalah internal Pemerintah Kabupaten Jember oleh jaksa Agus Taufikurrahman, Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember.

Baca Juga

Padahal, masalah yang menerpa jaksa Agus merupakan buntut dari inisiatif Faida untuk menggelar pertemuan yang terjadi dalam kantor Kejari Jember di Jalan Karimata, Kecamatan Sumbersari pada Senin, 14 Desember 2020 silam.

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur justru hanya memanggil Wakil Bupati Jember, KH Abdul Muqit Arief yang datang karena diundang. Selain itu, juga empat orang pejabat yang diajak Faida, yakni Yessiana Arifa (Kabid Penyehatan Lingkungan); Deni Irawan (Kabid Kearsipan); Yuliana Harimurti (Kepala BPKAD); dan Sri Laksmi Nuri Indradewi (Kasubag Peraturan Perundang-undangan).

Kepala Seksi Intelijen Kejari Jember, Agus Budiarto membenarkan adanya permintaan dari Kejati melalui surat tertanggal 3 Pebruari 2021 terkait upaya pemanggilan sebagai saksi hanya kepada 5 orang tersebut.

“Mungkin bisa langsung dikonfirmasi kesana, karena kami yang di sini hanya melaksanakan apa yang diperintahkan dari sana. Tanyakan langsung ke Kejaksaan Tinggi lah,” katanya saat menjawab pertanyaan dari media pada Senin, 8 Pebruari 2021.

Memang tiada daftar saksi atas nama Faida serta tim asistensinya bernama Yusuf Adiwibowo, seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Jember. Bak tidak dapat tersentuh, kedua figur penting ini tidak dipanggil meskipun juga hadir di pertemuan yang sedang diusut Kejati Jatim.

Agus Budiarto beranggapan pertanyaan tentang seluk belum masalah tersebut bisa berdampak politis. Harapannya, tidak perlu dipertanyakan lagi. “Kondisi sudah kondusif kok, jangan inilah. Jangan dibawa ke politik lagi lah,” pungkasnya.

Seperti diketahui, perkara ini mencuat beberapa hari pasca pertemuan. Tepatnya, pada Jum’at 18 Desember 2020 saat Kyai Muqit mulai angkat bicara gara-gara merasa terintimidasi. Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah itu tidak kuat terus-terusan menahan diri dengan perkataan yang didengar dari jaksa Agus, Faida, dan Yessiana.

Dianggap Mengembalikan KSOTK Salah Fatal

“Dianggap mengembalikan KSOTK 2016 salah fatal, termasuk Undang-Undang Pemilu yang bisa berujung pidana. Kasi Datun bersikukuh dan diamini oleh Bupati, saya tertekan sekali. Kesimpulannya, saya dari alif sampai yak salah semua. Saya dalam keadaan stress, ada pidana-pidana sampai 13 kali ketika orang-orang selalu mengatakan, saya tulis. Semua tertuju pada saya dan ini pengalaman paling pahit,” beber Kyai Muqit.

Berikutnya, Selasa, 22 Desember 2020 ribuan santri dan simpatisan ulama kharismatik itu turun ke jalan. Gerakan sebagai puncak aksi mereka karena tersulut oleh perlakuan intimidatif dari jaksa Agus, Faida, dan orang-orang dekatnya. Dalam aksinya, massa menuntut Faida Cs meminta maaf secara terbuka.

Faida bergeming dengan berdalih tidak melakukan seperti yang dituduhkan. “Kemarin konsultasi di kejaksaan fokusnya satu saja, masalah pencairan anggaran akhir tahun. Tidak ada menyalahkan, fokusnya mencari solusi. Kita bertanya bagaimana pencairan? Kejaksaan menyarankan konsultasi ke Kemendagri,” alibinya saat memberi tanggapan kepada media.

Lain halnya dengan sikap Prima kala itu yang mengakui pertemuan terjadi begitu saja karena Faida datang meminta legal opinion (LO). Faida datang langsung kendati sudah disarankan agar berkirim surat saja.

Prima maupun jaksa Agus memilih sikap dengan meminta maaf kepada Kyai Muqit. “Saya ingin suasana kondusif, silakan undang DPRD duduk bersama. Kami kan enggak nyaman, sedih lihat ini. Apa yang bisa kami bantu Pak Muqit sudah membuka dialog, kami mengapresiasi. Boleh dilihat chat ini silakan, dia (jaksa Agus) minta maaf, saya juga minta maaf secara pribadi,” ucap Prima. (sut/aka)