Kamis, Desember 9, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsSetelah Buku Relasi Islam dan Negara, Bamsoet Tantang Asrul Sani Tulis Buku...

Setelah Buku Relasi Islam dan Negara, Bamsoet Tantang Asrul Sani Tulis Buku Relasi Islam dan Haluan Negara

NUSADAILY.COM – JAKARTA -Hadir sebagai Keynote Speech dalam Kegiatan Bedah Buku ‘Relasi Islam dan Negara’ yang  ditulis  oleh Wakil Ketua MPR RI Fraksi PPP Arsul Sani, di Press Room MPR RI, Jakarta, Senin (25/10/2021), Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menantang Asrul Sani untuk menulis buku dengan mengupas  Asrul  Sani menulis buku mengupas tentang relasi Islam dan haluan negara.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Selain untuk melengkapi ‘Relasi Islam dan Negara’, tentunya Asrul Sani sangat tepat mengupas sejauh mana agama memandang keberadaan haluan atau perencanaan dalam kehidupan manusia, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Perlu dikaji juga relasi Islam dengan haluan negara atau PPHN. Apakah sebuah negara yang tidak memiliki perencanaan jangka panjang, dan membiarkan terjadinya perubahan haluan pada setiap pergantian presiden itu lebih banyak manfaat atau mudaratnya? ” tanya Politisi yang biasa disapa Bamsoet itu. 

Masih kata Bamsoet, apakah membiarkan proyek pembangunan yang dibiayai ratusan miliar bahkan puluhan triliun uang rakyat kemudian dibiarkan mangkrak karena perbedaan selera, visi, misi dan prioritas presiden lama dan presiden baru sesuai dengan ajaran Islam atau tidak? 

“Saya pikir, membiarkan negara tanpa arah dan tanpa haluan serta mengabaikan kesejahteraan rakyat melalui ketidaksinambungan pembangunan yang sedang berjalan, jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam. Akibatnya, bisa menyeret kepada ketidakpastiaan pembangunan dan penggunaan anggaran negara yang tidak efisien yang berpotensi menimbulkan kerugian negara,” ucapnya. 

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini juga menyebut, melalui buku ‘Relasi Islam dan Negara’, tentunya Arsul Sani telah mengupas tentang politik atau pengaturan negara termasuk urusan yang bersifat umum, yang berada di ranah ijtihad umat Islam.

Bamsoet menegaskan, Indonesia bukanlah negara sekuler, bukan pula negara agama. Prinsip dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengamanatkan bahwa nilai-nilai moral agama harus menjadi rujukan dan sumber inspirasi dalam kehidupan bernegara, dengan tetap menjaga konsensus dan komitmen untuk menghormati kemajemukan dalam kehidupan beragama.

“Buku ini menyajikan gambaran mengenai paradigma hubungan Islam dan negara dalam berbagai sudut pandang, yang disusun dalam lima bagian,” jelas Bamsoet. 

Di bagian pertama, kata Bamsoet menggambarkan dinamika pemikiran Islam dan negara dari zaman klasik sampai kontemporer, menghadirkan perspektif hubungan Islam dan negara dari para pemikir Islam yang mewakili berbagai arus pemikiran, mulai dari Al Farabi, Al Mawardi, Al Ghazali, Ibnu Khaldun, dan beberapa pemikir Islam ternama lainnya, hingga pemikiran cendekiawan muslim tanah air Nurcholis Majid. 

Selanjutnya, pada bagian kedua buku ini, Lanjutnya membahas pengalaman dan praktek bernegara pada zaman klasik Islam. Salah satunya mengulas Konstitusi Madinah, yang telah berhasil membangun integrasi dan kohesi sosial dalam kemajemukan masyarakat Madinah.

Sementara pada bagian ketiga, mengulas bagaimana negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim, antara lain Malaysia, Brunei, Iran, Arab Saudi, Turki, Maroko, Tunisia, dan Mesir, memaknai hubungan Islam dan pemerintahan/negara, serta dinamika politik Islam.

“Dibagian keempat buku ‘Relasi Islam dan Negara’ mengajak pembaca untuk lebih membumi, dengan menyelami lebih dalam lagi mengenai peran Islam dalam konsensus bernegara di Indonesia.

Dewan Pakar KAHMI ini menerangkan, pada bagian kelima buku ini secara khusus membahas artikulasi syariat Islam dalam produk legislasi. Sejatinya, sebagai produk legislasi, syariat Islam telah menjadi bagian dari hukum nasional di Indonesia, misalnya tentang perkawinan, peradilan agama, zakat, haji, wakaf, hingga perbankan syariah.

“Hadirnya berbagai undang-undang tersebut adalah manifestasi tanggung jawab negara untuk memfasilitasi warga negara dalam menjalankan ibadah, dan bukan bentuk campur tangan negara terhadap kehidupan agama, apalagi dimaknai secara sempit sebagai keberpihakan negara pada Islam sebagai agama mayoritas,” pungkas Bamsoet.(sir/wan)

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily