Minggu, Mei 29, 2022
BerandaNewsEkonomiUMKM Banyuwangi Mulai Bergeliat di Tengah Pandemi

UMKM Banyuwangi Mulai Bergeliat di Tengah Pandemi

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Perlahan tapi pasti, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi mulai menata diri untuk memulihkan kondisi usahanya di era adaptasi kebiasaan baru atau new normal.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Seperti yang dilakukan Susiyati, salah seorang pegiat UMKM batik di Bumi Blambangan. Pemilik usaha batik Gondho Arum ini mulai mempekerjakan kembali sejumlah karyawannya yang sebelumnya dirumahkan. 

“Sejak akhir Market 2020, omset Susiyati melorot drastis, sampai 90 persen. Tamu-tamu luar kota yang biasanya memadati galeri, sudah tidak ada lagi,” kata Susiyati, perempuan asal Desa Pakistaji, kecamatan kabat.

Susi yang membuka usahanya sejak 2012 mengaku kondisi akibat pandemi ini adalah yang terparah selama dia menjalankan usaha tersebut. Karena tidak ada orderan, dia bahkan sampai merumahkan sementara karyawan-karyawannya.

“Dulu sebelum Covid-19, sebulan omzet bisa Rp100 juta. Empat bulan terakhir, susah dibilang. Kami harus sabar menghadapi situasi ini,” kata dia.

Kini, seiring mulai dijalankannya era adaptasi kebiasaan baru, pesanan batik mulai datang ke tempatnya. Selama dua minggu terakhir, ratusan kain batik mulai dikerjakan Susiyati memenuhi orderan.

BACA JUGA: Program UMKM Lesu, Wapres Minta Kebijakan Satu Pintu Segera Terealisasi

“Alhamdulillah, order sudah mulai datang. Dari seragam untuk pernikahan, juga ada pesanan dari pelanggan luar kota. Walapun tidak sebanyak dulu, cukup membuat saya lega karena karyawan sudah mulai bekerja kembali,” ujar Susiyati.

Dia yakin kondisi ke depan semakin membaik, apalagi dengan sejumlah inovasi pengembangan daerah yang telah disiapkan Pemkab Banyuwangi menyambut new normal.

“Saya optimistis bisa kembali tumbuh seperti dulu, keadaan akan semakin membaik,” ujarnya.

Alfiyah, salah seorang pekerja batik juga mengaku bisa bernafas lega dengan kondisi yang mulai membaik ini. Selama tiga bulan tidak ada order, praktis dia hanya berdiam diri di rumah.

“Ya saya harus berhemat selama tiga bulan kemarin. Waktu direkrut kembali untuk bekerja, hati saya bungah sekali. Sudah tidak “puasa” lagi,” ujarnya.

Siasat Baru dalam Berjualan

Daya juang untuk kembali bangkit juga dirasakan Pinisri yang membuka usaha kuliner “Sri Mulyo” di Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Pinisri menutup warung makannya karena sepinya pelanggan sejak Maret lalu. Namun, usaha kuliner olahan pangannya tetap dijalankan.

Pinisri dan usaha kuliner olahan. (istimewa)

“Warung memang tutup, namun saya tetap produksi kue-kue kering. Ini cara saya agar karyawan tetap bekerja, walaupun saya tahu penjualan hampir dipastikan seret,” ujar Pinisri.

Salah satu cara menyiasati kondisi pandemi ini, Pinisri menjual produknya via online. “Walau tidak sebanyak offline, tapi lumayan. Kalau dulu jualan sehari paling tidak ada Rp 2 juta, selama pandemi ini jualan online hanya Rp 500 ribu. Tapi lumayan lah, yang penting karyawan saya terus bekerja,” akunya.

Selain terus berproduksi, Pinisri mulai menyiapkan usahanya dengan protokol kesehatan covid-19.

BACA JUGA: Wagub Harapkan UMKM Bangkit Lagi Usai Diterjang Pandemi

“Warung sudah mulai buka selama satu minggu terakhir, order kue dan kripik jalan terus. Untuk itu, kami harus menyesuaikan dengan aturan yang berlaku. Biar yang datang ke sini merasa aman kalau melihat standar kesehatan sudah kita jalankan,” jelasnya.

“Itu sebabnya saya tidak merumahkan karyawan, saya enggak takut rugi,” kata dia.

Alih-alih mengutuk, Pinisri justru mengaku bahwa pandemi ini adalah masa bagi dia untuk lebih banyak bersyukur pada Allah SWT. Dia merasa bahwa selama ini sudah banyak rezeki yang mengalir dari usahanya.

“Saya tidak mau menyerah. Kita harus bangkit,” ujarnya menyemangati.

Dalam kesempatan itu, Pinisri juga berpesan kepada pemerintah dan pelaku pariwisata agar wisata kembali dibuka. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Pariwisata ini sangat menopang kehidupan UMKM, mohon agar wisata segera dibuka kembali. Kalau wisatanya bagus dan taat protokol kesehatan, UMKM-nya juga patuh, maka wisatawan maupun pelaku wisatanya juga sehat,” pungkas Pinisri. (ozi/lna)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Waspada! Virus Hendra Berpotensi Jadi Pandemi, Ini Gejala dan Penularannya

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Virus Hendra disebut berpotensi menjadi pandemi di masa mendatang. Ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menilai potensinya sama...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.COM - BANYUWANGI - Perlahan tapi pasti, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi mulai menata diri untuk memulihkan kondisi usahanya di era adaptasi kebiasaan baru atau new normal.

Seperti yang dilakukan Susiyati, salah seorang pegiat UMKM batik di Bumi Blambangan. Pemilik usaha batik Gondho Arum ini mulai mempekerjakan kembali sejumlah karyawannya yang sebelumnya dirumahkan. 

“Sejak akhir Market 2020, omset Susiyati melorot drastis, sampai 90 persen. Tamu-tamu luar kota yang biasanya memadati galeri, sudah tidak ada lagi," kata Susiyati, perempuan asal Desa Pakistaji, kecamatan kabat.

Susi yang membuka usahanya sejak 2012 mengaku kondisi akibat pandemi ini adalah yang terparah selama dia menjalankan usaha tersebut. Karena tidak ada orderan, dia bahkan sampai merumahkan sementara karyawan-karyawannya.

"Dulu sebelum Covid-19, sebulan omzet bisa Rp100 juta. Empat bulan terakhir, susah dibilang. Kami harus sabar menghadapi situasi ini," kata dia.

Kini, seiring mulai dijalankannya era adaptasi kebiasaan baru, pesanan batik mulai datang ke tempatnya. Selama dua minggu terakhir, ratusan kain batik mulai dikerjakan Susiyati memenuhi orderan.

BACA JUGA: Program UMKM Lesu, Wapres Minta Kebijakan Satu Pintu Segera Terealisasi

"Alhamdulillah, order sudah mulai datang. Dari seragam untuk pernikahan, juga ada pesanan dari pelanggan luar kota. Walapun tidak sebanyak dulu, cukup membuat saya lega karena karyawan sudah mulai bekerja kembali," ujar Susiyati.

Dia yakin kondisi ke depan semakin membaik, apalagi dengan sejumlah inovasi pengembangan daerah yang telah disiapkan Pemkab Banyuwangi menyambut new normal.

“Saya optimistis bisa kembali tumbuh seperti dulu, keadaan akan semakin membaik,” ujarnya.

Alfiyah, salah seorang pekerja batik juga mengaku bisa bernafas lega dengan kondisi yang mulai membaik ini. Selama tiga bulan tidak ada order, praktis dia hanya berdiam diri di rumah.

"Ya saya harus berhemat selama tiga bulan kemarin. Waktu direkrut kembali untuk bekerja, hati saya bungah sekali. Sudah tidak "puasa" lagi," ujarnya.

Siasat Baru dalam Berjualan

Daya juang untuk kembali bangkit juga dirasakan Pinisri yang membuka usaha kuliner “Sri Mulyo” di Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Pinisri menutup warung makannya karena sepinya pelanggan sejak Maret lalu. Namun, usaha kuliner olahan pangannya tetap dijalankan.

Pinisri dan usaha kuliner olahan. (istimewa)

"Warung memang tutup, namun saya tetap produksi kue-kue kering. Ini cara saya agar karyawan tetap bekerja, walaupun saya tahu penjualan hampir dipastikan seret," ujar Pinisri.

Salah satu cara menyiasati kondisi pandemi ini, Pinisri menjual produknya via online. "Walau tidak sebanyak offline, tapi lumayan. Kalau dulu jualan sehari paling tidak ada Rp 2 juta, selama pandemi ini jualan online hanya Rp 500 ribu. Tapi lumayan lah, yang penting karyawan saya terus bekerja," akunya.

Selain terus berproduksi, Pinisri mulai menyiapkan usahanya dengan protokol kesehatan covid-19.

BACA JUGA: Wagub Harapkan UMKM Bangkit Lagi Usai Diterjang Pandemi

"Warung sudah mulai buka selama satu minggu terakhir, order kue dan kripik jalan terus. Untuk itu, kami harus menyesuaikan dengan aturan yang berlaku. Biar yang datang ke sini merasa aman kalau melihat standar kesehatan sudah kita jalankan," jelasnya.

"Itu sebabnya saya tidak merumahkan karyawan, saya enggak takut rugi," kata dia.

Alih-alih mengutuk, Pinisri justru mengaku bahwa pandemi ini adalah masa bagi dia untuk lebih banyak bersyukur pada Allah SWT. Dia merasa bahwa selama ini sudah banyak rezeki yang mengalir dari usahanya.

"Saya tidak mau menyerah. Kita harus bangkit," ujarnya menyemangati.

Dalam kesempatan itu, Pinisri juga berpesan kepada pemerintah dan pelaku pariwisata agar wisata kembali dibuka. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

"Pariwisata ini sangat menopang kehidupan UMKM, mohon agar wisata segera dibuka kembali. Kalau wisatanya bagus dan taat protokol kesehatan, UMKM-nya juga patuh, maka wisatawan maupun pelaku wisatanya juga sehat," pungkas Pinisri. (ozi/lna)