Jumat, September 24, 2021
BerandaNewsRegionalTWA Ijen Ditutup, Pemilik Warung Tetap Berjaga, Ini Penyebabnya

TWA Ijen Ditutup, Pemilik Warung Tetap Berjaga, Ini Penyebabnya

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Ditutupnya Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen seiring mewabahnya Covid-19 atau virus Corona sangat berdampak terhadap perekonomian pelaku wisata di salah satu ‘Three Anggle Diamond’ Banyuwangi tersebut.

Sepinya wisatawan membuat agen travel tutup sementara, homestay sepi, dan pemilik warung di sekitar kawasan TWA Ijen tak memperoleh pendapatan sepeserpun karena tak ada yang membeli dagangannya.

Namun, berbeda dengan pengelola agen travel dan homestay yang menutup sementara usahanya, pemilik warung di TWA Ijen setiap hari tetap harus ‘standby’ menjaga dagangannya. Hal ini terpaksa mereka lakukan karena beberapa waktu lalu ada kasus pencurian saat tak ada satupun yang menjaga warung mereka.

Seperti yang diutarakan Elfrida Elis Kartikasari, salah satu pemilik warung di TWA Ijen asal Desa Tamansari Kecamatan Licin. Dia mengaku terpaksa menempuh jarak 20 kiloan naik ke TWA Ijen dan bermalam di sana hanya untuk menjaga dagangannya dari tangan-tangan jahil.

“Setiap hari saya tetap ke atas mas, meski tidak ada satupun pengunjung yang datang karena memang Ijen ditutup. Siang atau sore naik ke atas, pagi turun pulang ke rumah,” katanya saat ditemui di pos Screnning Covid-19 di Rest Area Jambu, Jumat 10 April 2020.

Menurut Elis, beberapa hari yang lalu ada kejadian salah satu warung di TWA Ijen dibobol maling. “Warung milik mas Iin kapan hari kemalingan. Mie 2 dus dan masker 3R 23 buah. Makanya kita tetap ke atas. Karena kita sudah kadung nyetok barang kemarin pas Nyepi, nggak tahunya ditutup karena Corona. Kalau tidak dijaga bagaimana barangnya?” ungkapnya.

Penutupan TWA Ijen diakui Elis sangat berpengaruh terhadap pendapatannya. Hampir tak sepeserpun rupiah yang didapatnya, karena memang wisatawan dilarang untuk datang berkunjung atau melakukan pendakian Ijen.

Wanita dua anak ini pun terpaksa merogoh tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Terpaksa mas, tabungan dipakai. Makan juga diatur, yang biasanya 3 hari sekali ya 2 kali sehari,” imbuhnya.

Hal serupa juga diungkapkan Sri Hayani. Dia bersama sang suami tetap berjaga di warung meski tak ada satupun wisatawan yang datang.

Sri Hayani dan Warungnya

“Sejak ditutup tidak ada yang datang mas. Tetap di sini jaga barang-barang. Kebetulan suami juga kerja penambang belerang,” imbuhnya.

Sementara Kapolsek Licin AKP Heri Hery Purnomo mengaku memang tidak bisa setiap hari patroli ke TWA Ijen. Mengingat pihaknya saat ini tengah membagi waktu untuk menjaga hilir mudik pengendara dari luar daerah di Pos Screnning Covid-19. 

“Kami berharap pemilik warung jadi polisi warungnya masing-masing. Di samping sekali waktu kita kesana untuk patroli. Kita berharap mereka berjaga agar tidak ada kasus pencurian atau kehilangan barangnya lagi,” katanya.

Diakui AKP Hery, pemberlakuan Social Distancing dan Physical Distancing ini berdampak pada perekonomian masyarakat. Hal ini rentan terjadi tindak pidana kejahatan, sehingga masyarakat harus mawas diri.

“Kita membagi waktu. Selain kita mengawasi pergerakkan warga sebagai antisipasi penyebaran Corona, kita juga harus melakukan pengamanan. Kita mengefektifitaskan kamtibmas di masing-masing desa untuk dapat membantu Polri, menjaga keamanan di desa masing-masing,” tutupnya. (ozi)

AnyFlip LightBox Embed Demo

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Berantas Rokok Ilegal, Pemkab Sidoarjo Gandeng Bea Cukai Sosialisasikan Manfaat DBHCT

NUSADAILY.COM – SIDOARJO – Dana Bagi Hasil Cukai dan Tembakau (DBHCT) sebagai salah satu pendapatan negara yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat, misalnya dalam bidang...