Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaNewsRegionalPunya Perda Layak Anak Tak Maksimal, Pernikahan Dini Lumajang Tinggi

Punya Perda Layak Anak Tak Maksimal, Pernikahan Dini Lumajang Tinggi

NUSADAILY.COM – LUMAJANG – Lumajang telah membentuk Peraturan Daerah no 2 tahun 2021 tentang Kabupaten Layak Anak. Namun, penerapannya belum maksimal.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Hal tersebut terbukti dengan masih tingginya angka pernikahan dini yang terjadi di Lumajang.

Pengadilan Agama Kabupaten Lumajang mencatat telah mengabulkan 902 permohonan dispensasi pernikahan anak dibawah umur pada tahun 2021. Angka tersebut merupakan yang tertinggi nomor 2 di Jawa Timur setelah Kabupaten Trenggalek.

Baca Juga: Pemkab Lombok Tengah Dorong Peran Pemuda Cegah Pernikahan Dini

Panitera Muda Permohonan Pengadilan Agama Lumajang Sofan Afandi mengatakan bahwa angka tersebut terbilan menurun jika dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 1044 yang dikabulkan dari 1046 permohonan yang masuk.

“Angka ini menurun daripada tahun 2020, tapi masih termasuk yang tertinggi di Jatim. Peringkat 2 setelah Trenggalek,” kata Sofan.

Baca Juga: Ketua TP PKK Jatim Arumi Warning Dampak Pernikahan Dini bagi Remaja

Pada tahun 2022 sampai bulan Februari, terdapat 173 berkas permohonan yang masuk ke Pengadilan Agama. 146 diantaranya sudah dikabulkan oleh hakim.

Menurut Sofan, alasan hakim mengabulkan permohonan warga untuk menikahkan anaknya adalah karena kebanyakan yang mengajukan sudah melakukan nikah siri, bahkan ada yang sudah hamil.

Baca Juga: Ketua TP PKK Jatim Arumi Warning Dampak Pernikahan Dini bagi Remaja

“Kebanyakan sudah melakukan nikah siri, bahkan ada yang hamil dan hampir melahirkan. Tugas hakim kan selain menetapkan berdasarkan peraturan juga harus berijtihad,” tambahnya.

Lebih lanjut, Sofan mengatakan bahwa pihaknya pasti memberikan layanan konsultasi pra-pernikahan kepada pemohon yang hendak mengajukan dispensasi. Namun begitu, hanya sedikit yang berhasil dan mencabut berkasnya.

Baca Juga: Psikolog: Pernikahan Dini Terjadi Karena Pengaruh Keputusan Orang Tua

“Pasti kita kasih pencerahan, tapi persentase keberhasilannya sangat minim, mungkin dari 100 kasus hanya 2 yang tercerahkan dan mencabut berkasnya,” terangnya.

Menurut Sofan, faktor pemicunya adalah warga desa lebih takut malu ke tetangga karena putrinya sering didatangi laki-laki daripada menunggu sampai usia putra-putrinya siap.

Karena selain soal ekonomi, secara mental dan kesehatan, pernikahan anak dibawah umur juga berdampak buruk. Salah satunya adalah perceraian, bahkan berpotensi stunting.

Baca Juga: Usai Bebas dari Penjara, Saipul Jamil Siap Luncurkan Album Baru

“Warga desa kan masih kolot pikirannya, mereka lebih tidak tahan malu daripada menjaga anak-anaknya,” jelas Sofan.

Kata Sofan, dalam menciptakan Kabupaten layak anak perlu kerjasama dari semua elemen pemerintahan sampai tingkat paling rendah.

“Pembinaan itu harus dari yang paling dasar. Mudin di kampung harus bisa menahan betul keinginan warga Lumajang untuk menikahkan anaknya yang masih dibawah umur. Begitupun pemda dengan penyuluhannya. Kalau Pengadilan kan hanya menerima saja,” pungkasnya. (hud/ark)

BERITA KHUSUS

Dok! Seluruh Fraksi di DPRD Ponorogo Setujui Perubahan SOTK Satpol PP dan RSUD

NUSADAILY.COM - PONOROGO - Usulan Raperda Perubahan kedua atas Perda No.6 Tahun 2016 tentang pembentukan dan susunan perangkat daerah untuk OPD Satpol PP yang...

BERITA TERBARU

Jerman Jadi Lokasi Favorit Syuting Film Hollywood

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Banyak sekali film Hollywood yang sukses dalam skala internasional yang dibuat di Jerman. Tata kota yang rapi, bangunan bersejarah yang...