Jumat, Januari 21, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsRegionalPPKM Level 2, Banyuwangi Tetap Perketat Prokes untuk Gerakkan Ekonomi

PPKM Level 2, Banyuwangi Tetap Perketat Prokes untuk Gerakkan Ekonomi

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Di masa perpanjangan PPKM Level 2-4, situasi penanganan Covid-19 di Kabupaten Banyuwangi cukup menggembirakan. 

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Berdasarkan asessment Kementerian Kesehatan RI, Banyuwangi masuk kategori PPKM Level 2 dengan indikator-indikator penanganan yang baik. 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, penurunan status tersebut merupakan buah kerja keras semua pihak untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. 

”Tentu ini kita syukuri bersama. Terima kasih kepada seluruh masyarakat Banyuwangi, tenaga kesehatan, Forkopimda, ormas, parpol, relawan, dan sebagainya,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa 7 September 2021.

Menurutnya, penurunan level ini berkonsekuensi pada penyesuaian sejumlah aktivitas masyarakat, khususnya untuk menggeliatkan kembali perekonomian masyarakat. 

Baca juga: PPKM Level 3: Mal di Banyuwangi Boleh Dibuka, Hajatan dan Kesenian Masih Dilarang

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa protokol kesehatan tetap harus terlaksana secara ketat, hingga herd immunity terbentuk.

”Akan ada penyesuaian. Tapi intinya jangan lengah. Protokol kesehatan harus tetap disiplin, karena itu menjadi kunci untuk menggerakkan ekonomi. Kita semua ingin ekonomi kembali bergerak, termasuk soal destinasi wisata. Akan kita rumuskan segera,” imbuh Ipuk. 

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono mengatakan, kasus aktif Covid-19 di Banyuwangi terus menunjukkan tren penurunan. 

Tercatat, pada 15 Agustus lalu terdapat kasus aktif 1.131 kasus aktif, lalu turun menjadi 501 kasus aktif di 25 Agustus, dan tinggal 207 kasus pada 5 September 2021 lalu.

Baca juga: Bansos Beras PPKM Darurat Diluncurkan untuk 119.235 Keluarga di Banyuwangi

Pihaknya juga terus meningkatkan pengetesan (testing) Covid-19 hingga ke level memadai. Dalam sepekan terakhir, 30 Agustus-5 September, pengetesan mencapai 17.507 tes.   

“Angka testing ini lebih tinggi dari yang disyaratkan WHO. Kalau untuk ukuran Banyuwangi, standardnya minimal sekitar 1.750 per minggu, berkali-kali lipatnya,” imbuh Rio. 

Kemampuan testing yang memadai diikuti dengan terus turunnya angka positivity rate. Positivity rate adalah rasio antara jumlah orang yang mendapat hasil positif lewat tes Corona dengan total jumlah tes, yang sekaligus menunjukkan tingkat penularan. 

“Testing adalah salah satu kunci dari penanganan Covid-19 agar kita bisa segera mengetahui yang terpapar untuk segera melakukan treatment yang tepat,” katanya.

Pada 5 September lalu, Kementrian Kesehatan menyebutkan positivity rate Banyuwangi sebesar 0,86%, jauh di bawah level yang bisa tertoleransi WHO sebesar 5%.

Baca juga: Kades yang Gelar Hajatan saat PPKM Darurat Diperiksa 5 Jam di Mapolresta Banyuwangi

“Artinya, sekadar contoh dari 200 orang  yang diperiksa, maka sekitar 2 orang terpapar positif COVID-19,” ujarnya. 

Adapun bed occupancy rate (BOR, ketersediaan tempat tidur) untuk penanganan Covid-19 juga terus melandai. “Pada 1 Agustus lalu mencapai 71 persen, trennya terus turun hingga per 4 september lalu hanya terisi 14 persen. Ini semua harus kita syukuri,” ungkap Rio.

“Tapi tetap kita harus waspada. Jangan kemrungsung, lalu beraktivitas berlebihan sampai lupa disiplin prokes. Tetep eling lan waspada, karena angka positif bisa tiba-tiba naik lagi kalau kita teledor lagi,” tutup Rio. (ozi/lna)

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Perampok di Sukun Malang Tertangkap di Taman Dayu Pandaan ##tiktokberita

♬ original sound - Nusa Daily