Rabu, Mei 25, 2022
BerandaNewsRegionalPakar Sebut Macet di Kota Malang Bisa Terurai dengan Membangun Jalan Baru

Pakar Sebut Macet di Kota Malang Bisa Terurai dengan Membangun Jalan Baru

NUSADAILY.COM – MALANG – Malang disebut sebagai kota dengan kemacetan keempat di Indonesia. Beberapa langkah diusulkan untuk mengurangi kemacetan itu. Apa saja?

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Pakar Lalu Lintas Universitas Brawijaya (UB) Lutfhi Jakfar mempertanyakan hasil riset yang dirilis Inrix. Jika Malang sebagai kota termacet keempat di Indonesia. Padahal, selama masa pandemi arus lalu lintas di Kota Malang terbilang turun drastis dibandingkan sebelum pandemi.

“Jujur saya mempertanyakan riset itu. Karena selama pandemi Kota Malang adem ayem untuk lalu lintasnya,” ujar Lutfhi, Jumat (14/1/2022).

BACA JUGA: Yuk Pantau Perkembangan Proyek Infrastruktur Kota Malang Lewat Aplikasi Si Cakep!

Meski demikian, Lutfhi memprediksi memasuki masa new normal. Lonjakan volume kendaraan akan terjadi di Kota Malang setelah ada kelonggaran mobilitas masyarakat.

Sementara dengan status Kota Malang sebagai kota pendidikan dan kota tujuan wisata, banyak masyarakat yang berdatangan. Tentu berdampak ada peningkatan volume kendaraan.

Dengan begitu, perlu adanya sinkronisasi manajemen lalu lintas dengan peningkatan infrastruktur jalan di Kota Malang.

“Bisa disebut paling gampang, Kota Malang seperti Bandung. Kota pendidikan dan tujuan wisata, maka akan banyak orang berdatangan. Sehingga kapanpun saja, persoalan lalu lintas akan terjadi,” katanya.

BACA JUGA: Nikita Mirzani Mulai ‘Nyinyirin’ Harta Kekayaan Crazy Rich Malang Gilang Pramana

Oleh karena itu, lanjut Luthfi, rencana penanganan transportasi di Kota Malang telah beberapa kajian. Pertama mengatur fungsi jalan, yang dititikberatkan kepada angkutan berat.

Sejauh ini, Lutfhi melihat bahwa Kota Malang tidak memiliki jalur lingkar yang difungsikan bagi angkutan berat. Sehingga kendaraan-kendaraan besar tersebut melintas di dalam kota.

“Itu yang menjadikan salah satu faktor kemacetan. Jika 20 tahun lalu. Jalan Gatot Subroto sebagai jalur lingkar timur, sekarang karena perkembangan kota, jalan dilintasi angkutan berat itu, melintas di dalam kota,” sebut Dosen Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini.

Menurut Lutfhi, bersama Pemerintah Provinsi, Kota Malang sudah harus memikirkan adanya jalur lingkar timur. Syukur-syukur wacana tersebut segera terealisasi.

BACA JUGA: BMKG Jelaskan Soal Fenomena Hujan Es di Malang Raya

“Ada rencana dari provinsi untuk meningkatkan jalan kota ke jalan propinsi, ini cocok. Akan bisa berfungsi sebagai lingkar timur Kota Malang,” tuturnya dikutip dari detikcom.

Hal berikutnya perlu dilakukan dalam mengatasi Kota Malang dari kemacetan adalah law enforcement atau penegakan hukum. Seperti mendisiplinkan masyarakat agar tertib dan tak sembarangan parkir kendaraan.

“Yang berikutnya adalah law enforcement atau penegakan hukum. Aturan harus sungguh-sungguh ditegakkan. Yang banyak itu masalahnya orang parkir di jalan atau sembarang tempat,” tegasnya.

Menurut Lutfhi, pelaksanaan sistem zonasi bagi peserta didik baru adalah sebuah langkah tepat, dalam mengurangi kepadatan arus lalu lintas di pagi hari.

“Zonasi sekolah, bagus sudah diterapkan. Karena sudah mengurangi kepadatan volume kendaraan di pagi hari,” tuturnya.

BACA JUGA: Terkait Warga Malang yang Viral Buta Usai Divaksin, Begini Penjelasan Dokter RSSA

Luthfi menambahkan, langkah terakhir dan paling murah dalam mengatasi kepadatan lalu lintas di Kota Malang adalah memperlebar kaki persimpangan.

Dia mengaku, dalam kajian yang pernah dilakukan bahwa pada titik perempatan, ruas jalan masih mampu menampung jumlah kendaraan. Itu berbeda pada titik persimpangan, sehingga kaki simpang perlu dilebar 50 sampai 100 meter lagi.

“Terakhir paling murah di antara beberapa itu adalah memperbaiki kaki-kaki simpang. Untuk perempatan kajian kami kalau ruasnya masih mampu menampung, yang masalah itu di simpang. Perlu ada penambahan pelebaran 50 atau sampai 100 meter. Itu akan bisa mengurangi kepadatan,” tandasnya.

Hal ini yang menurutnya perlu diantisipasi oleh Pemkot Malang dengan segera meningkatkan infrastruktur jalan. Untuk mengatasi kepadatan lalu lintas.

BACA JUGA: Thariq Halilintar Positif Corona Ketiga Kalinya

“Di mulai masa sekarang akan terjadi lonjakan kendaraan. Dan melebihi tahun 2020 sebelum pandemi, ini akan menjadi PR besar. Ingat Kota Malang sudah lama tidak membangun jalan baru, padahal jumlah penduduk berkali lipat dan jumlah kendaraan diperkirakan naik sampai 10 persen,” pungkasnya.

Sebelumnya, Inrix, perusahaan analisis data lalu lintas, merilis hasil penelitian Global Traffic Scorecard 2021. Di dalamnya terdapat beberapa kota di Indonesia yang termasuk sebagai kota termacet di dunia.

Malang merupakan kota termacet keempat di Indonesia. Setelah Surabaya, Bogor, Denpasar dan Jakarta. Setiap pengendara di Malang kehilangan 29 jam dalam kemacetan selama periode jam sibuk.(eky)

- Advertisement -spot_img

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.COM - MALANG - Malang disebut sebagai kota dengan kemacetan keempat di Indonesia. Beberapa langkah diusulkan untuk mengurangi kemacetan itu. Apa saja?

Pakar Lalu Lintas Universitas Brawijaya (UB) Lutfhi Jakfar mempertanyakan hasil riset yang dirilis Inrix. Jika Malang sebagai kota termacet keempat di Indonesia. Padahal, selama masa pandemi arus lalu lintas di Kota Malang terbilang turun drastis dibandingkan sebelum pandemi.

"Jujur saya mempertanyakan riset itu. Karena selama pandemi Kota Malang adem ayem untuk lalu lintasnya," ujar Lutfhi, Jumat (14/1/2022).

BACA JUGA: Yuk Pantau Perkembangan Proyek Infrastruktur Kota Malang Lewat Aplikasi Si Cakep!

Meski demikian, Lutfhi memprediksi memasuki masa new normal. Lonjakan volume kendaraan akan terjadi di Kota Malang setelah ada kelonggaran mobilitas masyarakat.

Sementara dengan status Kota Malang sebagai kota pendidikan dan kota tujuan wisata, banyak masyarakat yang berdatangan. Tentu berdampak ada peningkatan volume kendaraan.

Dengan begitu, perlu adanya sinkronisasi manajemen lalu lintas dengan peningkatan infrastruktur jalan di Kota Malang.

"Bisa disebut paling gampang, Kota Malang seperti Bandung. Kota pendidikan dan tujuan wisata, maka akan banyak orang berdatangan. Sehingga kapanpun saja, persoalan lalu lintas akan terjadi," katanya.

BACA JUGA: Nikita Mirzani Mulai ‘Nyinyirin’ Harta Kekayaan Crazy Rich Malang Gilang Pramana

Oleh karena itu, lanjut Luthfi, rencana penanganan transportasi di Kota Malang telah beberapa kajian. Pertama mengatur fungsi jalan, yang dititikberatkan kepada angkutan berat.

Sejauh ini, Lutfhi melihat bahwa Kota Malang tidak memiliki jalur lingkar yang difungsikan bagi angkutan berat. Sehingga kendaraan-kendaraan besar tersebut melintas di dalam kota.

"Itu yang menjadikan salah satu faktor kemacetan. Jika 20 tahun lalu. Jalan Gatot Subroto sebagai jalur lingkar timur, sekarang karena perkembangan kota, jalan dilintasi angkutan berat itu, melintas di dalam kota," sebut Dosen Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini.

Menurut Lutfhi, bersama Pemerintah Provinsi, Kota Malang sudah harus memikirkan adanya jalur lingkar timur. Syukur-syukur wacana tersebut segera terealisasi.

BACA JUGA: BMKG Jelaskan Soal Fenomena Hujan Es di Malang Raya

"Ada rencana dari provinsi untuk meningkatkan jalan kota ke jalan propinsi, ini cocok. Akan bisa berfungsi sebagai lingkar timur Kota Malang," tuturnya dikutip dari detikcom.

Hal berikutnya perlu dilakukan dalam mengatasi Kota Malang dari kemacetan adalah law enforcement atau penegakan hukum. Seperti mendisiplinkan masyarakat agar tertib dan tak sembarangan parkir kendaraan.

"Yang berikutnya adalah law enforcement atau penegakan hukum. Aturan harus sungguh-sungguh ditegakkan. Yang banyak itu masalahnya orang parkir di jalan atau sembarang tempat," tegasnya.

Menurut Lutfhi, pelaksanaan sistem zonasi bagi peserta didik baru adalah sebuah langkah tepat, dalam mengurangi kepadatan arus lalu lintas di pagi hari.

"Zonasi sekolah, bagus sudah diterapkan. Karena sudah mengurangi kepadatan volume kendaraan di pagi hari," tuturnya.

BACA JUGA: Terkait Warga Malang yang Viral Buta Usai Divaksin, Begini Penjelasan Dokter RSSA

Luthfi menambahkan, langkah terakhir dan paling murah dalam mengatasi kepadatan lalu lintas di Kota Malang adalah memperlebar kaki persimpangan.

Dia mengaku, dalam kajian yang pernah dilakukan bahwa pada titik perempatan, ruas jalan masih mampu menampung jumlah kendaraan. Itu berbeda pada titik persimpangan, sehingga kaki simpang perlu dilebar 50 sampai 100 meter lagi.

"Terakhir paling murah di antara beberapa itu adalah memperbaiki kaki-kaki simpang. Untuk perempatan kajian kami kalau ruasnya masih mampu menampung, yang masalah itu di simpang. Perlu ada penambahan pelebaran 50 atau sampai 100 meter. Itu akan bisa mengurangi kepadatan," tandasnya.

Hal ini yang menurutnya perlu diantisipasi oleh Pemkot Malang dengan segera meningkatkan infrastruktur jalan. Untuk mengatasi kepadatan lalu lintas.

BACA JUGA: Thariq Halilintar Positif Corona Ketiga Kalinya

"Di mulai masa sekarang akan terjadi lonjakan kendaraan. Dan melebihi tahun 2020 sebelum pandemi, ini akan menjadi PR besar. Ingat Kota Malang sudah lama tidak membangun jalan baru, padahal jumlah penduduk berkali lipat dan jumlah kendaraan diperkirakan naik sampai 10 persen," pungkasnya.

Sebelumnya, Inrix, perusahaan analisis data lalu lintas, merilis hasil penelitian Global Traffic Scorecard 2021. Di dalamnya terdapat beberapa kota di Indonesia yang termasuk sebagai kota termacet di dunia.

Malang merupakan kota termacet keempat di Indonesia. Setelah Surabaya, Bogor, Denpasar dan Jakarta. Setiap pengendara di Malang kehilangan 29 jam dalam kemacetan selama periode jam sibuk.(eky)