Minggu, Juli 3, 2022
BerandaNewsRegionalNestapa Penambang Belerang, Jadi Pengangguran Pasca 'Tsunami' Kawah Ijen

Nestapa Penambang Belerang, Jadi Pengangguran Pasca ‘Tsunami’ Kawah Ijen

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Pasca terjadinya gelombang tinggi danau Kawah Ijen, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur belum membuka lokasi pertambangan belerang di dasar Kawah. 

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Akibatnya, ratusan penambang harus menganggur lama karena di sanalah satu-satunya sumber mata pencaharian mereka. “Total ada 160-an penambang yang menggantungkan hidupnya dari Kawah Ijen,” kata Arifin, petugas Sulfatara Kawah Ijen, Jumat 19 Juni 2020.

Kondisi semakin sulit, mengingat saat ini pandemi COVID-19 tak kunjung berakhir. Akibatnya, penambang hanya bisa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Sekarang kan lagi sepi pekerjaan lainnya karena ada Corona. Ya bisanya kerja serabutan. Kalau ada buruh tani, atau nguli ya ikut. Kalau nggak ada ya nganggur di rumah,” kata Arifin.

Menunggu Jawaban BKSDA

Penambang sebenarnya sudah mengajukan kepada BKSDA agar membuka kembali lokasi penambangan belerang Ijen. Hanya saja, sampai detik ini belum ada kabar kapan akan dibuka kembali.

“Kita kan kerja sudah puluhan tahun. Usai ledakan beberapa waktu lalu, saat ini kondisinya sudah aman. Vulkanologi juga mengatakan aman. Kita masih nunggu dari BKSDA kapan dibuka lagi,” imbuhnya.

Alimik, penambang belerang lainnya mengatakan, ditutupnya lokasi tambang membuat kehidupannya semakin berat. Sebab, dari menambang belerang dirinya minimal mendapat upah Rp 70 ribu perhari.

“Ini bisa dua kali lipat, kalau kita sehari bisa mengangkut belerang dua kali dalam sehari,” tuturnya.

Namun saat ini, Alimik mengaku kebingungan karena tak lagi menambang dan bekerja serabutan. “Saya akhirnya buruh tani. Jauh dibandingkan dengan hasil menambang. Buruh tani paling-paling hanya 30 ribu perharinya,” sebutnya.

Dia pun berharap agar BKSDA kembali membuka aktivitas penambangan belerang yang menjadi sumber mata pencaharian mereka. “Kita harap dibuka kembali dan kita bisa bekerja lagi untuk nafkahi anak istri,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V BKSDA Jawa Timur, Purwantono mengakui adanya aspirasi dari para penambang agar lokasi penambangan belerang di dasar Kawah Ijen dibuka kembali. 

“Memang masyarakat menyampaikan aspirasi itu. Kami di sini sebatas menampung, karena kami tidak berwenang. Kita sudah meneruskan ke Balai, karena yang menutup kan Balai, paska kejadian bencana,” tutupnya. (ozi/lna)

BERITA KHUSUS

Berkunjung ke Kota Batu, Sandiaga Uno Buka Workshop Minuman Kekinian Pelaku UMKM

NUSADAILY.COM-KOTA BATU – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno berkunjung ke Balai Kota Among Tani, Kota Batu (Rabu, 29/6). Sandiaga membuka acara...

BERITA TERBARU

NasDem Desak Bupati Kep Seribu Beri Penjelasan soal Helipad ‘Siluman’ di Pulau Panjang

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi NasDem, Ahmad Lukman Jupiter, meminta Bupati Kepulauan seribu, memberikan penjelasan terkait temuan Ketua DPRD DKI...

NUSADAILY.COM - BANYUWANGI - Pasca terjadinya gelombang tinggi danau Kawah Ijen, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur belum membuka lokasi pertambangan belerang di dasar Kawah. 

Akibatnya, ratusan penambang harus menganggur lama karena di sanalah satu-satunya sumber mata pencaharian mereka. "Total ada 160-an penambang yang menggantungkan hidupnya dari Kawah Ijen," kata Arifin, petugas Sulfatara Kawah Ijen, Jumat 19 Juni 2020.

Kondisi semakin sulit, mengingat saat ini pandemi COVID-19 tak kunjung berakhir. Akibatnya, penambang hanya bisa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

"Sekarang kan lagi sepi pekerjaan lainnya karena ada Corona. Ya bisanya kerja serabutan. Kalau ada buruh tani, atau nguli ya ikut. Kalau nggak ada ya nganggur di rumah," kata Arifin.

Menunggu Jawaban BKSDA

Penambang sebenarnya sudah mengajukan kepada BKSDA agar membuka kembali lokasi penambangan belerang Ijen. Hanya saja, sampai detik ini belum ada kabar kapan akan dibuka kembali.

"Kita kan kerja sudah puluhan tahun. Usai ledakan beberapa waktu lalu, saat ini kondisinya sudah aman. Vulkanologi juga mengatakan aman. Kita masih nunggu dari BKSDA kapan dibuka lagi," imbuhnya.

Alimik, penambang belerang lainnya mengatakan, ditutupnya lokasi tambang membuat kehidupannya semakin berat. Sebab, dari menambang belerang dirinya minimal mendapat upah Rp 70 ribu perhari.

"Ini bisa dua kali lipat, kalau kita sehari bisa mengangkut belerang dua kali dalam sehari," tuturnya.

Namun saat ini, Alimik mengaku kebingungan karena tak lagi menambang dan bekerja serabutan. "Saya akhirnya buruh tani. Jauh dibandingkan dengan hasil menambang. Buruh tani paling-paling hanya 30 ribu perharinya," sebutnya.

Dia pun berharap agar BKSDA kembali membuka aktivitas penambangan belerang yang menjadi sumber mata pencaharian mereka. "Kita harap dibuka kembali dan kita bisa bekerja lagi untuk nafkahi anak istri," tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V BKSDA Jawa Timur, Purwantono mengakui adanya aspirasi dari para penambang agar lokasi penambangan belerang di dasar Kawah Ijen dibuka kembali. 

"Memang masyarakat menyampaikan aspirasi itu. Kami di sini sebatas menampung, karena kami tidak berwenang. Kita sudah meneruskan ke Balai, karena yang menutup kan Balai, paska kejadian bencana," tutupnya. (ozi/lna)