Jumat, Agustus 19, 2022
BerandaNewsRegionalMelihat ‘Maha Pralaya’ Semeru, Mungkinkah Alam Enggan Bersahabat

Melihat ‘Maha Pralaya’ Semeru, Mungkinkah Alam Enggan Bersahabat

NUSADAILY.COM – LUMAJANG – Burung Jalak Suren (Gracupica contra) yang dipelihara Jali (50), warga dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, sejak Juli 2020 lalu, di sore nahas itu tak henti bersiul.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Namun nyanyiannya terdengar tak seperti biasanya, “kayak yang ketakutan”. Namun, Jali terus saja seperti sore-sore sebelumnya, membersihkan kandang sapi miliknya sekaligus memberinya makan.

Jali tak berpikir sedikitpun bahwa nyanyian burung Jalak Suren miliknya itu seakan memberitahu atau sebagai pertanda akan terjadi ‘Maha Pralaya’ (Malapetaka Hebat red.) yang meluluh lantakkan semua yang dimilikinya.

Kawah Jonggring Saloko, pada 4 Desember 2021, sekitar Pukul 15.20 WIB, memuntahkan material vulkanik disertai awan panas. Amarah yang meletus dari Puncak Abadi Para Dewa itu, menghancurkan sejumlah wilayah yang ada di kaki gunung di wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

BACA JUGA: Cerdasnya Orang Jawa Kuno Ciptakan Mitos Gunung Semeru yang Menggetarkan

Kawasan Umbulan, Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang, merupakan salah satu wilayah terdampak paling parah dari semburan awan panas dan material vulkanis Gunung Semeru.

Jali, adalah saksi mata yang masih tersisa, bagaimana dahsyatnya letusan Semeru, ia mengatakan, Gunung Semeru hampir merenggut nyawanya. Saat itu, Jali harus menyelamatkan diri dan berlindung material abu vulkanik yang menghujani kawasan itu.

“Saya beruntung melihat ke arah Semeru. Pada saat akan mengambil motor, saya tidak bisa melihat apa-apa. Saya berjalan kaki dan menutup mata, sudah tidak lagi berharap hidup,” kata Jali.

Dahsyatnya letusan Gunung Semeru kali ini, menyisakan jejak kehancuran di permukiman dan area pertanian yang selama puluhan tahun menjadi tempat bergantungnya hidup ratusan warga Umbulan.  Sebanyak 20 hektare lahan pertanian rusak diterjang lahar Gunung Semeru.

Selain itu, puluhan rumah yang berjajar di kawasan Umbulan, menjadi saksi bisu kuatnya letusan Gunung Semeru yang terjadi pada pukul 15.20 WIB itu. Rumah-rumah itu, sebagian hancur total tertimbun material vulkanik, namun ada juga bertahan meski kondisinya tak sempurna.

Rumah-rumah itu, berdiri puluhan tahun dan hidup berdampingan dengan sang raksasa Semeru yang hingga kini berdiri tegak tanpa lawan. Namun kini, rumah-rumah itu hanya tersisa sebagian. Rumah itu, tak lagi mampu menjadi tempat tinggal yang aman bagi warga sekitar.

Usai letusan terjadi, ada sejumlah warga yang memutuskan untuk kembali ke rumah atau sisa dari bangunan rumah mereka. Mereka hanya terdiam saat melihat rumah yang ditinggali selama puluhan tahun itu, lenyap tertimbun material vulkanik.

Girah (35), bersama ayah, ibu, suami dan anaknya, tetangga berjarak 6 rumah dari Jali, sambangi wilayah titik dimana dahulu rumah mereka berdiri. Ia bersama keluarganya, mencoba untuk menyelamatkan sejumlah barang berharga yang tertinggal.

Saat kawah Jonggring Saloko bergemuruh, Girah mencari suaminya yang saat itu sedang bekerja untuk mengambil pasir. Suami Girah, berada pada jalur banjir lahar pada erupsi Gunung Semeru kali ini. Ia dan keluarga, akhirnya selamat dan dalam kondisi sehat.

“Saat itu saya berlari mencari suami saya, saya berteriak, tidak usah bekerja. Kemudian, orang-orang berlarian, gunungnya meletus,” ujarnya sembari berkaca-kaca.

Letusan kali ini, merupakan letusan yang memberikan dampak paling besar pada wilayah Umbulan. Pada tahun-tahun sebelumnya, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu juga mengalami erupsi, namun tidak memberikan dampak yang dahsyat seperti yang terjadi saat ini.

Sementara warga lainnya, Sirun (75) juga menjadi saksi dahsyatnya letusan Gunung Semeru kali ini. Pada saat kejadian, ia tengah berada di rumah. Semeru beberapa kali mengeluarkan asap, dan sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya memuntahkan lahar.

Saat itu cuaca di Umbulan mendung, Sirun mengingat betul kejadian yang merusak rumahnya itu. Bersama warga lainnya, Sirun dan istri serta anaknya, berusaha untuk menyelamatkan diri mengendarai sepeda motor miliknya.

“Saat meletus, saya berada di rumah. Semeru sempat terdiam sejenak, kemudian cuaca mendung. Saya takut untuk kembali ke sini,” kata Sirun.

Kasian (50) warga terdampak letusan Gunung Semeru lainnya, juga bernasib serupa. Rumahnya hancur, tidak lagi bisa ditempati. Saat ini ia dan keluarganya tinggal di pengungsian yang ada di Posko Pengungsian Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Supiturang.

“Saya tidak tahu harus bagaimana dan berharap apa. Rumah saya rusak, hanya bisa pasrah,” ujarnya.

Siapkan Relokasi Warga

Bupati Lumajang Thoriqul Haq, pada saat berada di Kecamatan Pronojiwo, menyatakan pihaknya tengah melakukan pemetaan. Rencananya, pemerintah akan menggunakan lahan milik pemerintah daerah atau Perhutani.

Biaya untuk pembangunan rumah warga pada lokasi relokasi tersebut, nantinya akan menggunakan pendanaan dari pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kami sedang mencari titik-titik lahan yang dimiliki negara, baik itu Perhutani maupun lahan pemda. Nanti dibangun (menggunakan) APBN,” katanya.

Sementara itu, pada Jumat (10/12), Komando Posko Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru, Kol inf Irwan Subekti, dalam konferensi pers secara daring mengatakan bahwa relokasi warga terdampak akan dilakukan di dua lokasi.

Untuk warga terdampak yang ada di wilayah Kecamatan Pronojiwo, akan direlokasi ke area Desa Oro-Oro Ombo. Sementara untuk warga yang ada di wilayah Kecamatan Candipuro, akan dipindahkan ke Desa Menanggal.

“Saat ini sudah dilaksanakan persiapan-persiapan, tinggal menunggu pekerjaan dilakukan,” katanya.

Relokasi warga terdampak, sejatinya bukan hanya memindahkan tempat tinggal semata. Namun, perpindahan warga dari satu titik ke titik lainnya, juga akan memiliki dampak terhadap mata pencaharian mereka.

Meskipun warga telah direlokasi pada tempat yang aman, namun apabila jauh dari sumber pendapatan akan menjadi permasalahan baru. Tempat aman dan mampu menjangkau sumber mata pencaharian, adalah keinginan dan harapan warga terdampak letusan sang Mahameru.

BACA JUGA: Aktivitas Gunung Semeru Masih Didominasi Gempa Guguran dan Erupsi

Sejarah Gunung Semeru

Gunung Semeru, terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia kebawah Lempeng Eurasia. Dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl), merupakan gunung tertinggi ke 3 di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatera dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kawah Jonggring Seloko. berada di sisi tenggara puncak Mahameru, sebutan lain untuk Gunung Semeru. Kawah Jonggring Saloko, memiliki beragam kisah mistis yang terkadang sulit ketemu nalar. Tapi apapun, dari kawah ini semua letusan Gunung Semeru bermuasal.

Karakter letusan Gunung Semeru bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi 3-4 kali setiap jam.

Karakter letusan vulcanian berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara, karakter letusan strombolian biasanya terjadi pembentukan kawan dan lidah lava baru, seperti dikutip dari data PVMBG.

Seperti diketahui, Gunung Semeru, yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (4/12) sore, sekitar pukul 15.20 WIB, memuntahkan guguran awan panas dengan menyemburkan material vulkanik mengarah ke Besuk Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.

Gunung Semeru memiliki catatan panjang sejarah erupsi yang terekam sejak tahun 1818 lalu hingga Sabtu 4 Desember pukul 15.20 WIB.

Namun sayangnya, catatan letusan yang terjadi pada 1818 hingga 1913 tidak banyak dokumentasi yang dapat disuguhkan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan leleran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942, letusannya sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Mengakibatkan material vulkanik menimbun pos pengairan Bantengan. 

Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api aktif yang selalu melanjutkan aktivitas vulkaniknya.

Seperti pada 1 Desember 1977, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar.

Volume endapan material vulkanik mencapai 6,4 juta m3. Awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989.

PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008. Pada tahun 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 hingga 22 Mei 2008.

Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter. 

Pendaki Pertama

Adalah Clignet dan Winny Brigita, seorang ahli Geologi, kebangsaan Belanda, disebut sebagai orang pertama yang mendaki Semeru tepatnya pada tahun 1838. Dikabarkan, mereka menempuh jalur dari sebelah barat daya melalui Widodaren.

Pada tahun 1945, Junghuhn, seorang ahli botani berkebangsaan Belanda, mendaki dari utara lewat gunung Ayek-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Pada tahun 1911, Van Gogh dan Heim melalui lereng utara.

Namun sejak Indonesia Merdeka, atau tahun 1945, pendakian menuju puncak Mahameru dilakukan lewat lereng utara tepatnya melalui Ranu Pani dan Ranu Kumbolo.

BACA JUGA: Usai Ceraikan Nadya Mustika, Rizky DA Dibebani Nafkah Rp 10 Juta dan Emas 10 Gram

Taman Nasional BTS

Semeru masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) yang melingkupi beberapa pegunungan diantaranya Gunung Bromo dengan ketinggian 2.392 MDPL, Gunung Batok 2.470 MDPL, Gunung Kursi 2.581 MDPL, Gunung Watangan 2.662 MDPL, Gunung Widodaren 2.650 MDPL.

Di kawasan TN-BTS ini juga terhampar lembah seluas 50,273,3 hektar, dengan Empat danau, yakni Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Ranu Durungan.  

Sementara Flora dan Fauna di kawasan ini didominasi oleh pohon cemara, akasia, pinus dan jemuju. Sedangkan fauna yang masih tersisa adalah macan kumbang, budeng, luwak, kijang dan kancil.

Saat ini Gunung Semeru berada pada status level II atau ‘waspada’ dengan rekomendasi sebagai berikut.

Pertama, masyarakat, pengunjung atau wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara –  selatan. Mewaspadai awan panas guguran, guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

Kedua, masyarakat dihimbau untuk menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.

Ketiga, perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.

Keempat, mewaspadai ancaman lahar di alur sungai atau lembah yang berhulu di Gunung Semeru, mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk.(Ach. Riesky Akbar)

BERITA KHUSUS

Peringatan HUT ke-77 RI Kota Pasuruan, Dari Upacara Bendera Hingga Bagi Akta Kelahiran

NUSADAILY.COM - PASURUAN - Puncak Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77 di Kota Pasuruan dilaksanakan pada Rabu, 17 Agustus 2022. Dimulai dengan Upacara peringatan...

BERITA TERBARU

Luhut: Minggu Depan Pak Presiden Umumkan Kenaikan Harga BBM

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan saat ini pemerintah sedang berhitung untuk menaikkan harga BBM subsidi....