Senin, Oktober 25, 2021
BerandaNewsRegionalKetua Komisi D DPRD Magetan Kritik Program Padat Tenaga, Masyarakat Jadi Penonton

Ketua Komisi D DPRD Magetan Kritik Program Padat Tenaga, Masyarakat Jadi Penonton

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM-MAGETAN- Ketua Komisi D DPRD Magetan kritik program padat tenaga. Suyono Wiling yang membidangi pembangunan ikut angkat bicara soal program pemulihan ekonomi dampak COVID-19 itu, Minggu (15/11/2020). Seharusnya padat tenaga agar produk masyarakat Magetan bisa dibeli dan masyarakat dapat turut bekerja di dalamnya.

BACA JUGA: Program Padat Tenaga Magetan Jadi Rasan Rasan – Imperiumdaily.com

BACA JUGA: Program Padat Tenaga Magetan Jadi Rasan Rasan

Belakangan pelaksanaannya sebagian besar tidak secara padat tenaga. Banyak pekerjaan fisik yang mengunakan alat berat dan produk material dari luar Magetan. Dikatakan kepada nusadaily.com, program ini sudah menyimpang dari kesepakan awal antara DPRD dan Pemkab Magetan.

Di PAPBD 2020, lanjutnya, disepakati bahwa pemulihan ekonomi masyarakat melalui program kegiatan yang dititik beratkan pada sejumlah sektor. Seperti sektor kesehatan, jaring pengaman sosial (JPS) dan pada paling banyak pada pemulihan ekonomi masyarakat.

Pada program pemulihan ekonomi utamanya pada pengerjaan infrastruktur sepakat fokus pada padat tenaga. Termasuk barang – jasa dengan melibatkan sepenuhnya masyarakat setempat.

“Baik itu yang diselenggarakan Pemkab maupun Desa. Dengan tetap mengedepankan standarisasi kualitas, kuantitas dan ketepatan waktu,”  paparnya.

Lebih lanjut Wiling mengatakan dengan padat tenaga atau padat karya. Produk masyarakat terbeli dan mendapat untung. Selain itu, masyarakat dapat bekerja dan mendapat penghasilan.

“Ketika semuanya punya duit masyarakat bisa belanja dan perekonomian berjalan,” tegasnya.

Namun belakangan diketahui, belanja barang dan jasa dibeli dari luar daerah. Termasuk pelaksana infrastruktur juga dari luar daerah. Dan pengerjaannya pun menggunakan alat berat. Hal ini tidak sesuai dengan semangat awal Pemkab Magetan. Yakni untuk pemulihan perekonomian masyarakat akibat dampak COVID-19.

Tidak ada dampak, karena produk produk lokal Magetan tidak dibeli. Dan masyarakat yang mengharapkn pekerjaan tetap tidak dapat rejeki karena menganggur.

Masyarakat Magetan, Harusnya Subyek Utama

Menurutnya, hal ini sangat menyedihkan, jika orientasinya semata-mata untuk memenuhi target. Dan menghindari Silpa semata. Dinas selaku pengguna anggaran tidak ada solusi lain. Kecuali menggunakan alat berat dan barang produksi dari luar Magetan.

“Bukannya masyarakat yang seharusnya menjadi subyek utama yang harus diselamatkan ekonominya. Akhirnya hanya menjadi penonton. Tidak dilibatkan sebagai tujuan awal pemulihan ekonomi mereka,” sesal Wiling.

Kedua soal pemulihan kepercayaan masyarakat, pengamanan layanan publik. Seperti lokasi wisata dan pasar-pasar aman dari COVID-19, masih kurang. Indeks kepercayaan masyarakat terhadap Magetan sebagai daerah yang aman untuk dikunjungi masih rendah.

“Seharusnya lokasi wisata, pasar serta fasum lain, sebelum dibuka disemprot desinfektan. Pengunjung masuk harus cuci tangan di dekat pintu masuk. Pengunjung dipastikan menggunakan masker. Jika ada masyarakat yang lalai, petugas jaga memberikan masker secara gratis. Usai wisata tutup kembali disemprot disinfektan, ini belum dilakukan,” terangnya.

Mengenai penyerapan anggaran penanganan COVID-19 sebelumnya rendah. Ia mengapresiasi, pengelolaan anggaran sebelumnya. Wiling menilai sangat efektif efisien. Sehingga bermanfaat untuk pemulihan ekonomi.

Sekali lagi, mengapresiasi Pemkab melalui BPBD Gugus Tugas COVID-19. Mereka sukses dalam melaksanakan tupoksi dan wewenangnya.

“Kesuksesan tersebut tidak terlepas dari peran semua unsur, baik peran kades pemerhati. Relawan, aktivis dan kesadaraan masyarakat Magetan sendiri,” pungkas Ketua Komisi D DPRD Magetan ini.(nto/cak)

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Istri Selingkuh, Suami Bawa Alat Berat Hancurkan Rumah😱##tiktokberita

♬ kau curangi cintaku - Milan indramayu