Kamis, September 23, 2021
BerandaNewsRegionalElus Dada Kadisperindag Jember Lantaran Anak Buah Jadi Tersangka Kasus Korupsi

Elus Dada Kadisperindag Jember Lantaran Anak Buah Jadi Tersangka Kasus Korupsi

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JEMBER – Widodo Julianto, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Jember prihatin dengan kondisi seorang bawahannya yakni, Dedy Sucipto yang menyandang status tersangka dalam perkara korupsi rehab Pasar Balung Kulon.

“Terus terang, saya pribadi merasa agak prihatin,” ucap Widodo sebagai isyarat gestur mengelus dada saat dimintai tanggapannya oleh nusadaily.com via telepon pada Rabu, 28 Juli 2021.

BACA JUGA: Pejabat Disperindag Jember dan Pengusaha Jadi Tersangka Korupsi Rehab Pasar

Seperti diketahui, Dedy bersama Junaedi, Direktur PT Anugrah Mitra Kinasih dijadikan tersangka oleh Satreskrim Polres Jember. Dasarnya alat-alat bukti berupa pemalsuan dokumen, pekerjaan fiktif, dan mark up harga bahan konstruksi.

Di samping itu, terdapat kesaksian dari ahli hukum pidana, ahli kontruksi, keterangan 38 saksi terkait, serta audit BPKP (Badan Pegawasan Keuangan dan Pembangunan) Jawa Timur yang menghasilkan perhitungan potensi kerugian uang negara sebesar Rp1,8 miliar.

Peran Dedy selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam proyek yang dibiayai dari dana APBD Jember tahun 2019 dengan pagu anggaran senilai Rp7,5 miliar. Sedangkan, Junaedi adalah pengusaha penyedia jasa sebagai penggarap proyek alias rekanan.

Widodo merasa tidak memahami soal temuan kerugian uang negara Rp1,8 miliar. Sebab, proyek pernah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan salah satu rekomendasinya agar rekanan mengembalikan kelebihan bayar atas kekurangan volume.

“Versi kerugian Rp1,8 miliar itu masih belum jelas yang mana? Karena proyek itu pernah diperiksa BPK, ada pengembalian uang dari pelaksana. Dan mungkin kita ada kurang bayar juga (Disperindag urung membayarkan termin terakhir ke rekanan senilai Rp1,3 miliar),” bebernya.

- Advertisement -

Kendati demikian, Widodo berkomitmen bakal bersikap kooperatif dengan memberikan bahan apa saja terkait Pasar Balung Kulon yang diminta aparat penegak hukum. Sehingga, Dedy juga diminta bersikap terbuka dalam memberikan keterangan atau kesaksian saat menjalani setiap tahap proses hukum.

Toh, Widodo memberi support moril dan tetap mengaktifkan Dedy sebagai Kepala Seksi Sarana Prasarana walaupun yang bersangkutan telah menyandang status sebagai tersangka. Hingga kini belum diberlakukan sanksi penonaktifan atau pemecatan terhadap Dedy.

“Masih aktif di jabatannya. Tentu, (soal posisi jabatan struktural Dedy kedepannya) kami masih perlu konsultasi dengan BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) nanti bagaimana?,” jelas Widodo.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jember, AKP Komang Yogi Arya Wiguna menjelaskan, penyidik telah melayangkan surat panggilan kepada para tersangka Dedy dan Junaedi untuk diperiksa oleh penyidik Unit II Tindak Pidana Korupsi pada tanggal 29 Juli 2021 mendatang.

Ancang-ancang polisi bakal menjerat tersangka dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke- 1 juncto Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

BACA JUGA: Mahasiswa UIN KHAS Jember Geram Bakar Ban Saat Demonstrasi Tuntut Potongan Biaya Kuliah

“Minggu-minggu inilah kita akan periksa para tersangka. Ancaman hukumannya minimal 4 tahun maksimal 20 tahun, dan denda paling sedikit Rp200 juta paling banyak Rp1 miliar,” tegas Komang.

Riwayat proyek rehab Pasar Balung Kulon, yaitu berjalan saat posisi Kepala Disperindag Jember dijabat pelaksana tugas (Plt) oleh Danang Andri Asmara pada tahun 2019 silam. Kala itu, Danang sebenarnya secara definitif menjabat Kepala Bagian Umum.

BACA JUGA: Sebulan Pandemi Berjalan Anggaran Tak Dicairkan, Birokrasi Jember Dianggap Miskin Inisiatif

Bupati Jember masa itu, yakni Faida menugasi Danang mengisi pos jabatan ganda setelah memutasi Kepala Disperindag sebelumnya, Anas Ma’ruf menjadi Kepala Dinas Pariwisata tatkala terbelit perkara rasuah rehab Pasar Manggisan yang ditangani Kejaksaan Negeri Jember.

Anas Ma’ruf kemudian menuai vonis hukuman 4 tahun penjara dari Pengadilan Tipikor. Vonis bersalah juga diberikan ke Edy Sandhy Abdurrahman dari PT Dita Putri Waranawa, dan pekerja lepas PT Maksi Solusi Enjinering bernama Muhamad Fariz Nurhidayat. Meski ada putusan bebas untuk bosnya Fariz yang bernama Irawan Sugeng Widodo alias Dodik. (sut/lna)

AnyFlip LightBox Embed Demo

popular minggu ini

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Genjot Pelatihan Inkubasi, Pemkot Mojokerto Targetkan Bentuk Ribuan Wirausahawan Baru

NUSADAILY.COM - MOJOKERTO - Pemerintah Kota Mojokerto menargetkan ribuan pengusaha baru bakal terlahir di tengah pandemi COVID-19. Hal itu ditegaskan Wali Kota Mojokerto, Ika...