Senin, September 20, 2021
BerandaNewsRegionalBPBD Jember Dituntut Segera Bayar Hak Uang Petugas Makam yang Telat 6...

BPBD Jember Dituntut Segera Bayar Hak Uang Petugas Makam yang Telat 6 Bulan

NUSADAILY.COM – JEMBER – Petugas pemakaman mendapat simpati luas dari masyarakat karena masih rela bekerja walaupun honor dan uang saku mereka belum dibayar selama 6 bulan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember.

Publik terus mendesak agar hak keuangan petugas pemakaman tersebut segera diberikan. Suara demikian juga diutarakan oleh Ketua DPRD Jember, Itqon Syauqi ke wartawan, Rabu, 3 Agustus 2021.

“Kita semua prihatin dengan kondisi itu. Sehingga, intansi terkait secepatnya membayar semua hal yang menjadi hak petugas pemakaman. Teman-teman petugas itu bekerja, bukan main-main lelahnya,” tutur dia.

Menurut Itqon, petugas pemakaman berperan sangat penting dalam penanganan COVID-19. Sebab, mereka bekerja tanpa mengenal waktu. Setiap saat harus memakamkan warga yang meninggal dunia, entah diwaktu siang atau malam.

BACA JUGA: Wajib Vaksin, Syarat Sekolah Bisa Gelar Belajar Tatap Muka Bondowoso

Bahkan, petugas pemakaman menanggung resiko tertular penyakit lantaran setiap hari bertugas dengan tujuan antara rumah sakit dengan kuburan. Juga potensi penurunan imunitas akibat tenaga yang selalu terkuras dengan pekerjaan berat seperti mengangkut, mengantar, dan memakamkan jenazah.

“Belum lagi mereka itu kerap berhadapan dengan masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti. Di banyak tempat masih ada penolakan pemakaman dengan protokol kesehatan. Sasaran yang diamuk warga bukan siapa-siapa, tapi justru petugas pemakaman. Berapa kali petugas pemakaman dianiaya warga? Kan kasihan, kalau sudah begitu justru gajinya terlambat sampai enam bulan,” gerutu Itqon.

BACA JUGA: Rebranding Liberta Hub Singosari Malang, Strategi Sehatkan Hotel di Tengah Pandemi

Itqon kembali mengingatkan, semua hal yang menyangkut penanganan COVID-19 harus cepat. “Ini urusan hajat hidup orang banyak, tidak boleh berlama-lama. Anggaran sudah ada, karena DPRD setujui semua yang direncanakan Pemkab Jember. Kami juga tidak bosan selalu mendorong percepatan pencairan dana. Kalau masih terlambat, berarti yang bermasalah instansinya,” tukas legislator PKB itu.

Lebih lanjut Itqon menekankan agar BPBD tidak bersikap imperatif. Pasalnya, dari pengakuan petugas pemakaman terjadi upaya dari dalam yang menekan petugas pemakaman agar tidak sampai bersuara ke media perihal keterlambatan hak keuangan.

Adapun BPBD mempekerjakan secara resmi sekitar 21 orang petugas pemakaman. Dalam prakteknya, juga terdapat lebih dari 100 orang relawan berbagai komunitas yang membantu pemakaman jenazah terpapar atau terjangkit COVID-19. Petugas resmi berhak atas honor Rp100 ribu tiap pemakaman, dan uang saku Rp30 ribu per hari. Sedangkan, relawan malah keluar biaya sendiri.

Sebanyak Rp28,1 miliar adalah dana yang tersedia di BPBD dalam pos anggaran belanja tidak terduga (BTT). BPBD merencanakan anggaran Rp4,3 miliar untuk bulan lalu seperti yang termuat dalam dokumen bertajuk ‘Rincian Belanja Tidak Terduga Penggunaan Belanja Tidak Terduga untuk Penanganan Pandemi COVID-19 Tahun 2021 Dalam Rangka Kesiapsiagaan PPKM Darurat dan Penanganan COVID-19 Bulan Juli Tahun 2021′.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Jember, Moh Djamil sempat meminta wartawan nusadaily.com agar datang ke kantornya yang berada di Jalan Danau Toba, Kecamatan Sumbersari. Ia memang berbicara tentang kondisi internal instansinya, namun mewanti-wanti bukan untuk bahan klarifikasi.

Pria lulusan Sekolah Tinggi Pegawai Dalam Negeri (STPDN) itu memilih langsung membuat pernyataan karena menolak untuk menjawab pertanyaan dalam konteks wawancara. Penekanan dan maksud dari perkataannya terkandung dalam bahasa kiasan.

“Semua ASN bekerja sesuai tugas tanggung jawabnya. Kalau masih ada ASN yang tidak melaksanakan, tetapi justru mengumbar-umbar info-info miring yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, maka yang bersangkutan harus introspeksi. Tidak layak melakukan hal-hal semacam itu. Kalau orang jawa bilang ‘ngerogoh githoke dewe’ lah,” kata Djamil.

Frasa ‘ngerogoh githoke dewe’ adalah kiasan bahasa Jawa. Kurang lebih berarti agar orang berupaya mengetahui bagian lehernya paling belakang yang sulit langsung dilihat, walaupun dengan cermin sekalipun. (sut/kal)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

AnyFlip LightBox Embed Demo

popular minggu ini

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

berita khusus

Pemkot Malang Alokasikan Dana Cukai Hasil Tembakau untuk Jaminan Kesehatan

NUSADAILY.COM - MALANG - Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kesehatan memanfaatkan Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai Hasil Tembakau (CHT) untuk program pemenuhan dan penyediaan...