Senin, Juni 27, 2022
BerandaNewsRegionalBerlagak Ulama, Perangkat Desa Pasuruan Lancarkan Gendam di Batu

Berlagak Ulama, Perangkat Desa Pasuruan Lancarkan Gendam di Batu

Pelaku Juga Menjabat Perangkat Desa

Sementara itu, DM selaku otak pelaku diketahui menjabat sebagai perangkat desa di Desa Ranggeh. Ia melakukan hal itu karena terinspirasi dari temannnya yang terlebih dulu melakukan aksi penipuan serupa. Menurutnya, gaji bulanan yang diterima sebagai perangkat desa tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

“Ya terpaksa melakukan itu karena nggak cukup buat kebutuhan hidup,” ujar DM yang duduk di atas kursi roda dengan wajah menunduk.

Akibat perbuatannya itu, ketiga tersangka dijerat dengan pasal 378 KUHP dan/atau 372 KUHP tentang penipuan dan/atau penggelapan dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara. 

Selain itu, petugas menyita barang bukti yang digunakan ketiga tersangka dalam menjalankan aksinya, seperti paket kostum jubah dan peci, mobil rental, dua  keping uang receh yang dibuntal kertas dan sisa uang hasil penipuan senilai Rp 1,45 juta. (wok/wan)

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Jokowi Hadiri KTT G7, Bakal Bicara Gawatnya Krisis Pangan & Energi

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah tiba di Jerman pada Minggu (26/6) sekitar pukul 18.40 waktu setempat. Rencananya, Jokowi akan mengikuti...

NUSADAILY.COM - KOTA BATU - Usai sudah petualangan tiga pria asal Kabupaten Pasuruan menjalankan aksi penipuan dengan modus berlagak ulama dan menggendam korban. Mereka dibekuk Satreskrim Polres Batu, 9 Juli lalu.

Ketiga pelaku berinisial MS (55), MA (50) dan DM (49). Saat dihadirkan dalam ungkap kasus yang digelar di Mapolres Batu pada Senin siang (13/7), DM selaku otak pelaku penipuan mengaku sudah tiga kali melancarkan aksinya di Kota Batu dibantu dua rekannya itu. Terakhir mereka mendapat sasaran empuk dengan mempedayai perempuan berusia 80 tahun di Kelurahan Sisir Kota Batu pada 7 Juli.

https://youtu.be/z0qYdFXOasU

Aksinya dilakukan pada pagi hari pukul 06.00 WIB dan berhasil membawa dua buah cincin milik korban, masing-masing seberat 5 gram. Namun tindakan para pelaku terekam CCTV sehingga memudahkan petugas melakukan pelacakan. Berselang dua hari dari kejadian, tepatnya pada 9 Juli lalu, Satreskrim menangkap ketiga tersangka di Kabupaten Pasuruan dengan lokasi berbeda. 

MA ditangkap di Desa Karangsentul, Kecamatan Gondangwetan dan DM ditangkap di Desa Ranggeh, Kecamatan Gondangwetan. Sedangkan MS dibekuk di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Kraton.

"Dari penyelidikan kami ungkap, termasuk dari rekaman CCTV. Dua hari berikutnya, pada 9 Juli lalu, ketiga tersangka kami tangkap," kata Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama didampingi Kasat Reskrim Polres Batu AKP Hendro Tri Wahyono saat gelar ungkap perkara di Mapolres Batu, (Senin, 13/7).

Dari keterangan yang disampaikan para pelaku, Harviadhi melanjutkan, ketiganya berbagi peran untuk mengecoh korbannya. Mereka melancarkan aksinya dengan menggunakan mobil rental yang dikendarai MS. Saat mendapat sasaran MA turun dan berpura-pura bertanya arah jalan menuju suatu tempat.

Tersangka Pura-pura Tanya Arah

Seperti yang dilancarkan di TKP Sisir, MA berpura-pura bertanya arah menuju ke Pasar Besar kepada perempuan berusia 80 tahun yang menjadi korbannya. Lantas MA menggiring korban mendekati DM yang berada di dalam mobil. 

DM yang berlagak ulama gadungan memikat korban dengan rapalan doa yang bisa mengabulkan keinginan korban. Saat mulai terpedaya, DM meminta dua cincin milik korban dan berlagak membacakan doa. 

Setelah membacakan doa, DM menukar cincin korban dengan dua keping koin yang dibungkus tisu dan selembar uang dua ribu. Buntalan itu boleh dibuka saat berada di dalam rumah dan diminta untuk direndam dalam air yang akan diminum untuk mengabulkan keinginan. Namun karena gelagat tersangka mempedaya hingga membuat korban lengah dan  tak menyangka jika cincinnya berubah jadi dua keping koin.

"Korban mengalami kerugian Rp 10 juta atas cincin miliknya. Dua cincin itu dijual seharga Rp 4,1 juta. Ketiganya masing-masing dapat Rp 1 juta dan sisanya untuk membayar sewa mobil rental," papar Harviadhi dilansir Nusadaily.com.

Pelaku Juga Menjabat Perangkat Desa

Sementara itu, DM selaku otak pelaku diketahui menjabat sebagai perangkat desa di Desa Ranggeh. Ia melakukan hal itu karena terinspirasi dari temannnya yang terlebih dulu melakukan aksi penipuan serupa. Menurutnya, gaji bulanan yang diterima sebagai perangkat desa tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.

"Ya terpaksa melakukan itu karena nggak cukup buat kebutuhan hidup," ujar DM yang duduk di atas kursi roda dengan wajah menunduk.

Akibat perbuatannya itu, ketiga tersangka dijerat dengan pasal 378 KUHP dan/atau 372 KUHP tentang penipuan dan/atau penggelapan dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara. 

Selain itu, petugas menyita barang bukti yang digunakan ketiga tersangka dalam menjalankan aksinya, seperti paket kostum jubah dan peci, mobil rental, dua  keping uang receh yang dibuntal kertas dan sisa uang hasil penipuan senilai Rp 1,45 juta. (wok/wan)