Perlu Upaya Mitigasi di Kawasan Sumber Brantas sebagai Area Tangkapan Air

  • Whatsapp
Lahan pertanian hortikultura di Desa Sumber Brantas yang berada di kemiringan lereng menyimpan potensi ancaman bencana hidrometeorologi. Sebagai kawasan tangkapan air, kawasan ini memerlukan tanaman tegakan demi mencegah terjadinya erosi yang mengakibatkan sedimentasi di aliran sungai.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU-Desa Sumber Brantas, Kota Batu merupakan wilayah tangkapan air yang merupakan hulu Sungai Brantas. Sebagai kawasan hulu, desa ini memiliki posisi sangat vital, karena menjadi penyangga pemenuhan kebutuhan air bagi 18 kota/kabupaten yang dialiri Sungai Brantas.

Ancaman kekeringan akan berdampak luas jika wilayah ini terus mengalami penurunan daya dukung lingkungan. Area kemiringan lereng perlahan-lahan berubah fungsi sebagai lahan pertanian hortikultura. Padahal sebagai area tangkapan air, wilayah ini sangat diperlukan tanaman tegakan keras. Selain untuk menjaga kelestarian air bawah tanah, tanaman tegakan dapat mengurangi resiko erosi.

Tanpa tanaman tegakan, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor tak bisa terhindarkan. Menurunnya daya dukung lingkungan di kawasan ini mulai terlihat dengan adanya sedimentasi aliran sungai. Alih fungsi lahan pertanian di area kemiringan tebing mengakibatkan terjadinya erosi.

Merosotnya aspek ekologis di Desa Sumber Brantas Direspon Komisi E DPRD Jatim

Merosotnya aspek ekologis di Desa Sumber Brantas direspon Komisi E DPRD Jatim. Perlu upaya mitigasi untuk merevitalisasi area-area kemiringan lereng dengan upaya penanaman tanaman tegakan. Hal ini untuk mengurangi erosi agar tak terjadi sedimentasi Arboretum Sumber Brantas.

“Ancaman kekeringan akan menimpa 18 daerah lainnya, kalau bagian hulu bermasalah,” kata Wakil Ketua Komisi E DPRD Pemprov Jatim, Hikmah Bafaqih saat menghadiri sosialisasi mitigasi bencana di Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Kota Batu (Selasa, 23/2).

Untuk itu perlu tindakan dari lintas sektor intansi mencari solusi penyelamatan Arboretum Sumber Brantas yang menjadi titik nol Sungai Brantas. Penyelamatan yang dilakukan tak hanya pada pelestarian sumber air namun juga revitalisasi lahan sebagai area tangkapan air.

Ia mengatakan, harus ada komunikasi yang tuntas kepada petani pemilik lahan agar tak menimbulkan konflik. Karena harus ada kesadaran yang dimunculkan dalam upaya mitigasi di Desa Sumber Brantas. Maka, penanaman tanaman tegakan juga harus bisa membawa keuntungan bagi petani yang lahannya berada di kemiringan tebing.

“Misal menanam tanaman tegakan yang menghasilkan buah-buahan. Maka harus memberi keuntungan secara ekonomi bagi petani,” tutur dia.

Berkaca pada kejadian Peristiwa Angin Kencang Yang Terjadi pada 2019 Lalu di Desa Sumber Brantas

Ia berkaca pada kejadian peristiwa angin kencang yang terjadi pada 2019 lalu di Desa Sumber Brantas. Kencangnya hembusan angin bercampur material tanah pada saat itu, karena tidak ada tanaman tegakan yang memecah gelombang angin.

“Masyarakat harus diajak menghitung untung ruginya. Kalau tidak ada tindakan mitigasi, cepat atau lambat masyarakat akan merasakan kerugian yang lebih besar. Karena bencana akan berulang seiring siklus waktu,” papar dia.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, mitigasi dapat berjalan mulus jika masyarakat dapat merasakan timbal balik yang menguntungkan. Sehingga upaya mitigasi melalui penanaman tanaman tegakan harus memberi sumber penghidupan bagi masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani.

“Apa yang ditanam bisa dimanfaatkan oleh masyakat. Mungkin tanaman-tanaman keras penghasil buah. Memang hasilnya dirasakan jangka panjang tapi memiliki nilai ekonomis. Itu salah satu yang bisa dilakukan,” papar Gatot.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu pembenahan yang dilakukan di hulu Sungai Brantas harus melibatkan lintas sektor. Karena penanganan yang dilakukan sangat komprehensif seiring dengan kompleksnya permasalahan.

“Harapan kami bisa dibawa ke tingkat provinsi untuk dijadikan kebijakan yang komprehensif melakukan revitalisasi daya dukung lingkungan di Sumber Brantas. Dari tahun ke tahun mengalami degradasi kualitas lingkungan,” timpal dia. (wok/aka)