Perjuangan Para Raider 503 Mayangkara yang Berhasil Luluhkan Hati Milisi di Kongo Afrika

  • Whatsapp
Anggora Para Rider saat berkomunikasi dengan salah satu warga di Kongo. (foto: istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO dari Batalyon Infanteri Para Raider 503/Mayangkara. Atau yang disebut Yonif Para Raider 503/Mayangkara sentuh hati milisi Kongo dengan bahasa Swihili. Untuk mewujudkan perdamaian antara milisi tiga suku di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo pada Kamis, 25 Juni 2020 lalu.

Tercatat ada 425 prajurit yang berasal dari  Yonif Para Raider 503/Mayangkara bergabung dalam 850 prajurit dimisi kemanusiaan di bawah Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO sejak tujuh bulan lalu. Mereka rupanya melakukan pendekatan secara intensif dan persuasif melalui bahasa Swahili. Sebuah bahasa bantu yang digunakan secara luas di sub-Shara Afrika.

Baca Juga

Komandan Batalyon Yonif Para Raider 503/Mayangkara Mayor Inf Hadrianus Yossy S.B, menceritakan, bagaimana anggotanya berusaha dengan inisiatif sendiri untuk mempelajari bahasa warga setempat dengan menggunakan translate bahasa yang ada di google. Kendati terbata-bata ratusan prajuritnya dengan intensif terus mencoba melakukan komunikasi dengan mereka yang sejak bertahun-tahun lalu penuh dengan konfik sosial.

Ada Tiga Kelompok Adat yang Bertikai

Terdapat tiga kelompok adat yang bertikai sebelumnya, untuk memperebutkan kekayaan alam yakni kelompok adatb Perci Kaomba, Perci Aleluya maupun kelompok Apa Napaledi. Di wilayah Area of Responsibility COB  Kompi Bravo IndoRDB.

“Memang dari 503 inisiatif anggota sendiri belajar bahasa Swahili untuk pendekatan sejak awal kami tiba bulan November tahun lalu. Kita bias bahasa mereka, terbukalah kahirnya komunikasi antara kami dengan warga yang berkonflik,” ungkapnya pada nusadaily.com melalui jaringan seluler, Senin 29 Juni 2020.

Tak ayal, adanya komunikasi yang terjalin membuat hubungan antara Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO dengan tiga milisi yang bertikai semakin terjalin erat dan dekat. Dimana warga mulai tumbuh kepercayaan terhadap prajurit yang berasal dari Indonesia yang terkenal dengan keramahannya di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo tersebut.

Awalnya komunikasi baik sudah terjalin sejak Satgas TNI Konga XXXIX-A RDB/MONUSCO lebih dulu bertugas di sana, dari sanalah, prajurit Indonesia dikenal ramah hingga mendapatkan julukan istimewa, yakni “Papa Indo” bagi prajurit laki-laki, sedangkan “Mama Indo” bagi prajurit perempuan setiap kali bertemu. Sebagai bentuk penghormatan warga terhadap ratusan prajurit yang rela meninggalkan sanak keluarga demi mewujudkan perdamaian di Negara yang bertikai seperti Republik Kongo.

Sejak Awal Komunikasi Sudah Terjalin

“Sejak awal Satgas TNI Konga XXXIX-A RDB/MONUSCO sebenarnya komunikasi sudah mulai terjalin baik. Nah, kita perhalus lagi pertemanan menjadi lebih bersahabat, dan kawan baik. Salah satunya dengan bertandang ke rumah warga tanpa membawa senjata, walau memang standar pengamanan dalam berdialog, maupun interaksi tetap harus dilakukan sebagai antisipasi kerawanan. Hanya saja senjata harus di luar rumah warga atau dipegang oleh ajudan, sebab kami ingin memberikan kesan “tanpa senjata kami bukan ancaman, karena kita bersahabat,” papar Yossy.

Tak sampai disitu, setiap prajurit khusus Yonif Para Raider 503/Mayangkara ditargetkan untuk menjalin komunikasi dengan dua orang kepala kampung yang dikunjungi. Sehingga tercapailah kegiatan Civil Military Coordination (CIMIC) yang meliputi pelayanan kesehatan gratis, psycology lapangan dan perpustakaan, maupun inovasi dalam pengolahan bahan makanan, cara bercocok tanam, kegitan belajar mengajar, olahraga bersama, memberi informasi cuci tangan yang benar, hingga cara gosok gigi.

“Sebab selama ini, warga di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo hanya mengkonsumsi tepung yang diolah dengan air dan garam, jagung yang berusia tua, dan ubi-ubian yang hanya direbus begitu saja,” ucap Wadan Satgas TNI Konga XXXIX-A RDB/MONUSCO.

Tujuan Utama Melindungi Sipil dari Milisi yang Tidak Suka Pemerintah

Yossi mengatakan, kendati tiga tujuan tugas utama mereka hanyalah melindungi warga sipil dari milisi-milisi yang tidak suka dengan pemerintah, kemudian melindungi aset-aset PBB termasuk personil, materil, dan terakhir membantu stabilisasi pemerintah di Kongo. Pihaknya tak bisa memungkiri naluri atau kebiasaan orang Indonesia dari hati ke hati dalam kemanusiaan untuk memberikan bantuan di luar mandat yang diberikan PBB.

Tercatat 50 persen warga beragamakan nasrani, 30 persen beragama islam, dan 20 persen kepercayaan, namun prajurit berusaha menciptakan toleransi umat beragama dengan mengadakan peribadatan natalan  secara bersama-sama dan diadakan sinterclas untuk pembagian hadiah. Bahkan saat lebaran hari raya Idul Fitri kegiatan berzakat pun dilakukan dengan pengadaan beras dan kambing.

“Dari situlah tersentuh dan berhasil memenangkan hati dan pikiran mereka untuk menciptakan kondisi yang kondusif dan stabil di Kongo. Nah, jika ada apa-apa mereka langsung melaporkan ke kami bahkan sampai saat ini jumlah kriminalitas mulai menurun setiap harinya,” tandasnya.

Milisi Serahkan 24 Senpi dan Puluhan Anak Panah

Sementara itu, Komandan Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO Kolonel Inf. Daniel Lumbanraja, menjelaskan pada saat penyerahan 24 senjata api dan puluhan panah oleh tim Long Range Mission (LRM) Kompi Bravo Indo RDB di pimpin langsung Kapten Inf. Nuzul Sudjatmiko kepada staf Disarmament Demobilization Reintegration (DDR) yang dihadiri Head of Office (HoO) MONUSCO wilayah Kalemie.

“Keberhasilan tim LRM merupakan bentuk pelaksanaan dari mandat PBB. Yaitu Protection of Civilian (POC) atau perlindungan warga sipil serta kepercayaan dari ex-combatan kepada Satgas TNI Konga XXXIX-B MONUSCO yang bekerjasama dengan tokoh adat kelompok perci Kaomba, Perci Aleluya maupun kelompok Apa Napaledi wilayah Area of Responsibility COB  Kompi Bravo IndoRDB,” terang Daniel.

Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco sampai saat ini telah memasuki bulan ke tujuh dalam menjalankan tugas di Republik Demokratik Kongo. Dan telah berhasil mengumpulkan sebanyak 74 pucuk senjata yg terdiri dari  69 pucuk senjata api jenis AK-47, 2 pucuk jenis FAL, 3 pucuk senjata rakitan. 436 butir  amunisi,1 buah granat tangan, 75 busur dan 80 anak panah serta 233 orang milisi. (din/aka)

Post Terkait

banner 468x60