Minggu, Oktober 17, 2021
BerandaNewsPemkab Banyuwangi dan Pupuk Indonesia Kolaborasi Dukung Petani Milenial 

Pemkab Banyuwangi dan Pupuk Indonesia Kolaborasi Dukung Petani Milenial 

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi dikenal akan sektor pertanian yang melimpah, mulai dari hasil pertanian pangan, holtikultura, hingga buah-buahan. Salah satunya ialah komoditi buah naga yang sudah teruji kualitasnya. 

Banyak desa di Banyuwangi merupakan penghasil buah naga. Salah satunya ialah petani di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo dengan total luasan tanaman buah naga mencapai 700 hektar. 

Dengan berbagai inovasi yang dilakukan, petani di sana berhasil memproduksi buah naga yang memiliki kualitas nomor satu. Tak hanya itu, tanaman buah naga juga dapat berbuah sepanjang tahun. 

Melalui kerja sama dengan BUMN Pupuk Indonesia, desa Bulurejo kini ditetapkan sebagai Kampung Naga Phonska Plus. Kampung Naga tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama Direktur Produksi PT. Pupuk Indonesia (Persero) Bob Indiarto, Jumat (24/9/2021) malam.

Disebut Kampung Naga lantaran hampir semua petani di desa ini kini menanam buah naga. Mereka juga telah menerapkan teknik penyinaran menggunakan lampu di malam hari atau dikenal inovasi Puting Si Naga (Penggunaan Lampu Tingkatkan Produksi Buah Naga). 

Inovasi ini telah masuk TOP 45 Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dam Reformasi Birokrasi.

BACA JUGA: BMKG Lakukan Inovasi Dukung Indonesia Jadi Poros Maritim Dunia

Menandai peresmian Kampung Naga tersebut digelar panen Buah Naga dan Talkshow Hybrid. Talkshow digelar di tengah hamparan kebun buah naga, dan disiarkan nasional dengan diikuti sejumlah petani di 24 daerah se-Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, Direktur Produksi Pupuk Indonesia Bob Indiarto menegaskan kembali komitmen untuk mendukung regenerasi petani dan mendorong produktivitas pertanian nasional. 

Sebab, berdasarkan data dari berbagai sumber menyebutkan rumah tangga petani jumlahnya menurun. Mayoritas petani pun telah berusia lebih dari 45 tahun. 

“Maka dari petani milenial inilah kita berharap, karena tanah air kita luas dan subur dan perlu dikelola oleh petani-petani muda yang potensial ini,” ujar Bob.  

Pupuk Indonesia, lanjut Bob, terus berupaya mendorong minat generasi milenial ke sektor pertanian. Diantaranya melalui program regenerasi petani yang bertujuan untuk mendukung upaya pemerintah meningkatkan jumlah anak muda yang terjun di bidang pertanian. 

Salah satu upaya yang dilakukan ialah secara rutin menggelar Jambore Petani Muda sejak tahun 2017 oleh anak usaha Pupuk Indonesia, yaitu Petrokimka Gresik dengan menghadirkan mahasiswa, pelajar, serta petani muda sukses dari berbagai daerah.

“Dari kegiatan tersebut, kami memotivasi anak muda agar konsisten di bidang pertanian, mendorong inovasi pertanian karya dalam negeri, mendorong iklim usaha agribisnis untuk generasi muda, membantu meningkatkan kesejahteraan petani milenial, serta menciptakan role model petani muda,” ujar Bob. 

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mendorong petani buah naga melakukan hilirisasi pertanian dengan mengolah komoditas yang dihasilkan. Melalui hilirisasi, petani akan mendapat tambahan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraannya.

Menurut Ipuk, buah naga merupakan salah satu komoditas unggulan Banyuwangi yang produksinya melimpah hampir mencapai 83.000 ton per tahun. Bahkan, dengan inovasi penggunaan lampu untuk penyinarannya, buah naga petani Banyuwangi mampu berproduksi sepanjang tahun di luar musim atau off season. Saat di luar musim, harganya relatif tinggi dibanding ketika panen raya,

“Melihat tingginya produksi buah naga, maka kita harus melakukan hilirisasinya. Petani kita dorong agar tidak hanya menjual komoditasnya, melainkan juga produk hilirnya,” kata Ipuk.

“Misalnya, diolah jadi mie, dodol, buah kering, keripik, minuman, atau produk olahan lainnya, sehingga petani bisa mendapatkan nilai tambah untuk peningkatan kesejahteraan mereka. Dinas terkait akan membantu pemasarannya,” imbuh Ipuk.

Berdasarkan Data Dinas Pertanian dan Pangan, luas tanaman buah naga di Kabupaten Banyuwangi mencapai 3.786 hektare, dengan produktivitas sebesar 82.544 ton per tahun. Jumlah tersebut sekaligus mengukuhkan Banyuwangi, sebagai penghasil buah naga terbesar di Indonesia.

Salah satu petani, Edi Lusi, mengatakan dengan teknik penyinaran tersebut tanaman buah naganya bisa panen sepanjang tahun, bahkan di luar musim (off season).

“Buah naga bisa berbuah sepanjang tahun, dan bisa panen setiap bulan. Jadi bertani buah naga sekarang itu senang terus. Apalagi kalau panen di luar musim, harganya bisa tinggi,” kata ketua paguyuban petani buah naga Banyuwangi (Panaba).

Selain memperpanjang masa produksi dengan penyinaran lampu di malam hari, Edi dan petani buah naga lainnya terus berinovasi meningkatkan kualitas produksi tanaman buah naganya. Memadukan teknik perawatan dan pemupukan yang berimbang, kini produksi buah naga Edi bisa mencapai bobot 1 kg per buah.

“Alhamdulillah, yang awalnya bobot per biji hanya 0,5 kg, sekarang bisa 1 kg bahkan ada yang lebih. Kami memaksimalkan pemberian pupuk pupuk NPK Phonska Plus secara tepat dan presisi,” kata Edi.

Edi mengaku, menggunakan pupuk NPK Phonska Plus dari Pupuk Indonesia ini banyak kelebihannya. Dulu produktivitas panen sebesar 1-1,5 ton per hektare, kini meningkat menjadi 3-4 ton per hektare.

“Pakai Phonska tanaman lebih stabil. Saat pembungaan, bunga tidak mudah rontok sehingga produksi buahnya terjaga,” kata Edi.(ozi/kal)

- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR

AnyFlip LightBox Embed Demo

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Gerakan Gempur Rokok Ilegal yang Digalakkan Bea Cukai Sasar Desa Olean

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Gerakan gempur rokok ilegal (GGRI) yang digalakkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Situbondo Bea Cukai Jember serta Kejari menyasar...