Selasa, September 21, 2021
BerandaFoodKetupat Jembut, Sederhana dan Imut, Sajian Syawalan Khas Semarang

Ketupat Jembut, Sederhana dan Imut, Sajian Syawalan Khas Semarang

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – SEMARANG – Melihat namanya, ketupat jembut terdengar menggelikan. Namun, jangan salah, rasa yang sederhana namun melegenda dengan tampilan imut membuat sajian syawalan khas Semarang tersebut tersohor.

Warga Semarang punya cara unik untuk menutup Lebaran. Mereka punya tradisi makan ketupat jembut.

Tidak dimakan dengan opor ayam, ketupat dibelah dan diisi dengan sayuran tumis. Penampakan ketupat ini mirip jembut atau bulu kemaluan.

Meskipun kedengarannya aneh, ketupat jembut punya sejarah panjang yang menarik untuk ditelisik.

Tradisi membagikan ketupat jembut merupakan budaya khas yang ada di Kelurahan Pedurungan Tengah, Kota Semarang. 

BACA JUGA: Resep Tumis Tahu Jamur Brokoli, Cocok Buat yang Bosan Santan

Salah seorang sesepuh kampung yang bernama Juwarti menjelaskan betapa panjang sejarah ketupat jembut di kampungnya. Dia adalah generasi paling lama di kampung tersebut dan tidak ada lagi kawan seangkatan yang tersisa.

“Tradisi ini sudah ada sejak saya kecil,” ujar Juwarti, dilansir dari AyoSemarang.com.

- Advertisement -

Juwarti memaparkan, ketupat jembut kurang lebih seperti kupat biasa yang di tengahnya dimasuki sayur-sayuran yang diurap dengan kelapa parut. Selain ketupat jembut, ada juga yang menyebut dengan “kupat sumpel”.

Tradisi ini sempat berganti-ganti konsep. Awalnya hanya dibagikan di masjid dan dimakan bersama-sama.

Namun lambat laun, karena anak-anak semakin banyak, dilaksanakan dengan cara berderet di sepanjang kampung seraya membagikan uang.

”Inti dari prosesi kupat jembut adalah untuk mengucap syukur dan menolak bala,” tambahnya.

Sejak 1950

Selain di Pedurungan Tengah, tradisi bagi-bagi kupat jembut juga dilakukan di Jaten Cilik yang masih satu kecamatan dengan Pedurungan Tengah. Di sini ada Munawir yang tahu lebih dalam mengenai asal-usul Kupat Jembut.

“Ketupat ini sudah ada sejak tahun 1950,” terangnya.

Jadi ceritanya di tahun itu ada seorang warga yang pulang kampung akibat perang dunia ke 2. Saat itu warga masih hidup dalam kesederhanaan. Tidak ada bahan baku lain selain tauge, kelapa dan lombok.

Namun setelah bulan Ramadan warga ingin melakukan syukuran. Akhirnya karena yang ada hanya bahan baku tadi, terciptalah ketupat jembut.

“Kalau dibuat kupat (ketupat) jembut kan langsung bisa dimakan tanpa membutuhkan banyak lauk pauk lainnya,” tambahnya.

Tradisi ini terus dilakukan secara turun temurun. Pada tahun-tahun tertentu karena berbagai gejolak politik di Indonesia, mungkin sempat berhenti, namun setelahnya tetap diadakan.

Terkait penyebutan jembut, hal ini sebetulnya hanya spontanitas warga. Sebab memang dari bentuk mirip seperti organ kelamin perempuan. Tapi kendati demikian, bukan berarti sebutan itu dimaksudkan untuk pemaknaan yang jorok.

AnyFlip LightBox Embed Demo

popular minggu ini

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Genjot Pelatihan Inkubasi, Pemkot Mojokerto Targetkan Bentuk Ribuan Wirausahawan Baru

NUSADAILY.COM - MOJOKERTO - Pemerintah Kota Mojokerto menargetkan ribuan pengusaha baru bakal terlahir di tengah pandemi COVID-19. Hal itu ditegaskan Wali Kota Mojokerto, Ika...