Kamis, Oktober 28, 2021
BerandaNewsNusantaraKetika TNI Wujudkan Harapan Rakyat di Pelosok Pulau Timor Lewat TMMD

Ketika TNI Wujudkan Harapan Rakyat di Pelosok Pulau Timor Lewat TMMD

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – KUPANG – Panas matahari  terasa masih menyengat kulit, tak sebersitpun awan melintas menutupi bumi. Ia bertahan menyaksikan para pekerja yang sibuk mendirikan beberapa ruangan, dan tampak sudah berbentuk. Sesekali senyumannya berubah jadi tawa kecil mengikuti para pekerja itu.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

“Saya lagi menonton bapak-bapak tentara membangun sekolah kami,” ujar Fredik Bonat dalam perbincangan ketika disambangi siang itu.

Remaja itu berulang kali melepaskan senyum saat pandangannya tertuju pada sejumlah warga bersama para personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tampak akrab bahkan sesekali bercanda tawa di sela-sela bekerja mengaduk pasir dan semen.

Ia berdiri di tanah lapang, terpisah sekira 15 meter dari para pekerja yang beraktivitas pada siang itu sekitar Pukul 14.00 Wita, di kompleks SMPN 6 Satu Atap, Desa Oebesi, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Seorang remaja Fredik Bonat (kiri) saat berdiri menyaksikan aktivitas pembangunan SMPN 6 Satu Atap yang menjadi salah satu sasaran Program TMMD Ke-108 T.A. 2020 di Desa Oebesi, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (18/7/2020). (ANTARA/Aloysius Lewokeda)

Anak lelaki berusia 12 tahun itu adalah salah satu siswa Kelas VII di SMPN 6 Satu Atap yang terletak di pelosok daerah selatan Pulau Timor yang berjarak sekitar 35 kilometer dari Oelamasi, ibu kota Kabupaten Kupang.

Sekolah Menengah Pertama yang mulai beroperasi sejak 2017 lalu dengan bangunan darurat berbahan kayu dan daun itu tak lama lagi akan berubah wajah.

Deretan ruangan baru berdinding tembok, beratap semen dan berlantai keramik sedang dibangun para personel TNI dari Komando Distrik Militer (KODIM) 1604/Kupang melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Fredik, panggilan akrab Fredik Bonat, mengaku tak sabar ingin menikmati rasanya belajar di ruangan kelas baru. Ia tak ingin menghabiskan pendidikan menengahnya dengan belajar dalam ruangan berdinding bebak (pelepah pohon gewang), beratapkan daun pohon pohon, dan berlantai tanah.

“Kalau di ruangan kelas lama itu kami setengah mati belajar, apalagi kalau hujan, kami semua harus pindah ke ruangan SD di sebelah,” katanya sambil menunjuk ke arah bangunan sekolah darurat yang tak jauh dari ruangan baru yang sedang dibangun.

Bagi Fredik dan teman-teman bersandal ke sekolah adalah pilihan terbaik saat musim hujan. Dengan begitu mereka bisa bertahan untuk belajar dalam ruangan kelas yang selalu digenangi air berlumpur akibat air hujan yang merembes dari dinding maupun atap ruangan.

Tak hanya itu, bangunan sekolah darurat juga tidak dilengkapi sarana tolilet yang layak menjadi kesulitas tersendiri bagi warga sekolah.

“Kalau kami mau buang air besar itu harus jalan kaki kembali ke rumah, setelah itu baru datang lagi untuk ikut pelajaran,” ujarnya.

Namun, Fredik tak larut dengan cerita masa sulit itu. Pandangannya segera beralih ke bangunan sekolah baru itu seolah ingin mengatakan bahwa pengalaman kelam itu segera berlalu.

“Saya sangat senang tidak lama lagi kami semua belajar di ruangan kelas baru ini,” ujarnya di akhir perbincangan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Istri Selingkuh, Suami Bawa Alat Berat Hancurkan Rumah😱##tiktokberita

♬ kau curangi cintaku - Milan indramayu