Senin, Juni 27, 2022
BerandaNewsMetropolitanStafsus DP BPIP: Radikalisme Muncul dari Pemikiran yang Tidak Utuh

Stafsus DP BPIP: Radikalisme Muncul dari Pemikiran yang Tidak Utuh

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengatakan Radikalisme tidak terjadi hanya di suatu agama saja, tapi banyak kelompok yang melakukan tindak radikalisme demi kepentingan sesaat.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Bukan hanya itu, pria yang kerab disapa Romo Benny ini mengungkapkan radikalisme muncul dari pemikiran yang tidak utuh sehingga banyak salah tafsir dan keluar dari konteks.

“Dalam penafsiran sebuah paham harus dipahami secara menyeluruh tidak boleh hanya setengah atau sebagian dan keluar dari konteksnya,” ujar Romo Benny dalam kegiatan Diskusi Komsos Cegah Tangkal Radikalisme/Sparatisme dengan tema Meneguhkan Toleransi Mencegah Radikalisme dan Sparatiske yang diselenggarakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, Rabu 7 April 2021.

Romo Benny juga menuturkan bahwa sekarang ini terjadi perang suci yang mengclaim mempunyai surga padahal sebenernya hanya untuk kepentingan tertentu.

“Munculnya perang suci yang mengclaim mempunyai surga dan neraka. Padahal ini didalamnya ada kepentingan lain dan sesaat,” ujar Romo Benny.

Pendiri Stara Institute ini juga menambahkan bahwa penyebaran radikalisme semakin cepat dengan kemajuan teknologi yang ada.

“Bahaya sekarang dimedia sosial banyak konten yang salah dan keluar konteks demi perebutan kekuasaan dan mencapai tujuan tertentu,” kata Romo Benny.

Romo Benny berharap, generasi milenial harus membanjiri sosial media dengan konten positif untuk melawan konten negatif yang banyak saat ini dan untuk membangun kesadaran publik.

“Untuk menghadapi terorisme harus membuat counter wacana positif khususnya di media sosial untuk melawan konten negatif serta akhirnya akan membangun kesadaran publik,” tegas Benny.

Ditempat yang sama Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan Jubei Levianto dalam pemaparannya menjelaskan kemajuan teknologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

Kita hidup dijaman 4.0 yang kemajuan teknologi semakin pesat dan mempengaruhi kehidapan bermasyarakat.Terjadi perang modern seperti proxy war yaitu negara yang kuat akan mengatur negara yang lemah untuk tujuan tertentu,” Jelasnya.

Lebih lanjut Jubei menjelaskan bahwa cara proxy war biasanya dilakukan dengan mencuci otak, sparatis, hingga memasukan ideologi lain.

“Radikal atau sparatis biasanya menginginkan melepaskan diri dari kedaulatan wilayah dan radikalisme adalah menggunakan kekerasan untuk membuat ketakuan ini harus diwaspadai,” tegasnya.

Didepan 100 mahasiswa yang hadir Jubei menambahkan, bahwa radikalisme dimedia sosial digunakan karena kecepatan jaringan dan sumber anonim.(sir/kal)

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Sebelum Bertemu Jokowi, Putin Dijadwalkan Kunjungi 2 Negara Bekas Soviet

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke dua negara bekas Uni Soviet pekan ini, sebelum bertemu dengan Presiden...

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengatakan Radikalisme tidak terjadi hanya di suatu agama saja, tapi banyak kelompok yang melakukan tindak radikalisme demi kepentingan sesaat.

Bukan hanya itu, pria yang kerab disapa Romo Benny ini mengungkapkan radikalisme muncul dari pemikiran yang tidak utuh sehingga banyak salah tafsir dan keluar dari konteks.

"Dalam penafsiran sebuah paham harus dipahami secara menyeluruh tidak boleh hanya setengah atau sebagian dan keluar dari konteksnya," ujar Romo Benny dalam kegiatan Diskusi Komsos Cegah Tangkal Radikalisme/Sparatisme dengan tema Meneguhkan Toleransi Mencegah Radikalisme dan Sparatiske yang diselenggarakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, Rabu 7 April 2021.

Romo Benny juga menuturkan bahwa sekarang ini terjadi perang suci yang mengclaim mempunyai surga padahal sebenernya hanya untuk kepentingan tertentu.

"Munculnya perang suci yang mengclaim mempunyai surga dan neraka. Padahal ini didalamnya ada kepentingan lain dan sesaat," ujar Romo Benny.

Pendiri Stara Institute ini juga menambahkan bahwa penyebaran radikalisme semakin cepat dengan kemajuan teknologi yang ada.

"Bahaya sekarang dimedia sosial banyak konten yang salah dan keluar konteks demi perebutan kekuasaan dan mencapai tujuan tertentu," kata Romo Benny.

Romo Benny berharap, generasi milenial harus membanjiri sosial media dengan konten positif untuk melawan konten negatif yang banyak saat ini dan untuk membangun kesadaran publik.

"Untuk menghadapi terorisme harus membuat counter wacana positif khususnya di media sosial untuk melawan konten negatif serta akhirnya akan membangun kesadaran publik," tegas Benny.

Ditempat yang sama Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan Jubei Levianto dalam pemaparannya menjelaskan kemajuan teknologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

Kita hidup dijaman 4.0 yang kemajuan teknologi semakin pesat dan mempengaruhi kehidapan bermasyarakat.Terjadi perang modern seperti proxy war yaitu negara yang kuat akan mengatur negara yang lemah untuk tujuan tertentu," Jelasnya.

Lebih lanjut Jubei menjelaskan bahwa cara proxy war biasanya dilakukan dengan mencuci otak, sparatis, hingga memasukan ideologi lain.

"Radikal atau sparatis biasanya menginginkan melepaskan diri dari kedaulatan wilayah dan radikalisme adalah menggunakan kekerasan untuk membuat ketakuan ini harus diwaspadai," tegasnya.

Didepan 100 mahasiswa yang hadir Jubei menambahkan, bahwa radikalisme dimedia sosial digunakan karena kecepatan jaringan dan sumber anonim.(sir/kal)