Jumat, Mei 27, 2022
BerandaNewsMetropolitanPertemuan Tahunan OJK, Bamsoet Dukung Pengembangan Indonesia Green Taxonomy 1.0

Pertemuan Tahunan OJK, Bamsoet Dukung Pengembangan Indonesia Green Taxonomy 1.0

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo mendukung langkah Presiden Joko Widodo meluncurkan Taksonomi Hijau Indonesia 1.0 (Indonesia Green Taxonomy 1.0) dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Baca Juga: Dukung Ekonomi Hijau PT East West Seed Indonesia, Operasikan PLTS

Dikatakan Indonesia Green Taxonomy 1.0 disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu melibatkan berbagai kementerian/lembaga. Menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang telah memiliki standar nasional sektor ekonomi hijau (Green Economy).

Baca Juga: Moeldoko Tekankan Indonesia Selalu Prioritaskan Ekonomi Hijau

“Sekaligus menjadi pedoman bagi penyusunan kebijakan insentif dan disinsentif dari berbagai Kementerian dan Lembaga dalam mendukung pengembangan Ekonomi Hijau. Pemerintah bersama OJK, dan Self Regulatory Organization yang terdiri dari Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia, juga sedang mengakselerasi kerangka pengaturan bursa karbon untuk mendukung pengembangan ekonomi hijau,” ujar politisi yang akrab disapa Bamsoet itu, usai menghadiri secara virtual Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022, di Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Ia juga menjelaskan, Ekonomi Hijau secara sederhana diartikan sebagai sektor ekonomi yang memadukan kesejahteraan dan kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Pertamina Targetkan Portofolio Energi Hijau 17 Persen pada 2030

Konsepsinya, kata Bamsoet mengacu pada beberapa aspek mendasar seperti pengurangan emisi, penghematan sumber daya, transisi berbasis energi terbarukan. Hingga berlandaskan keadilan sosial. Potensinya sangat besar, tersebar ke berbagai sektor antara lain pariwisata, pertanian, dan juga energi.

“Khusus untuk sektor energi, Kementerian ESDM melaporkan potensi energi terbarukan di Indonesia sangat melimpah, mencapai 418 GigaWatt (GW). Antara lain bersumber dari Matahari/Surya yang bisa mencapai 207,8 GW; Air mencapai 75 GW; Angin mencapai 60,6 GW; Bioenergi mencapai 32,6 GW; Panas Bumi mencapai 23,9 GW; dan Arus Laut mencapai 17,9 GW,” jelas Bamsoet.

Baca Juga: Pemerintah Perlu Gencarkan Investasi Dukung Ekonomi Hijau

Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Keamanan dan Pertahanan KADIN Indonesia ini juga menerangkan, dari kajian Bank Indonesia (BI) berdasarkan penghitungan menggunakan metode Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR), Indonesia bisa mendapatkan banyak manfaat jika transisi Ekonomi Hijau.

Serta sistem keuangan berkelanjutan bisa segera diterapkan. Antara lain, kenaikan produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan bisa mencapai 0,62 persen per tahun. Hingga tambahan kenaikan cadangan devisa mencapai 51,9 miliar dolar AS.

Baca Juga: Duet Bareng Elvy Sukaesih, Wali Kota Malang Didampingi Istri

“Namun demikian, tantangan yang dihadapi Indonesia dalam transisi menuju Ekonomi Hijau juga sangat besar. Antara lain dana yang tidak sedikit dan proyek berkelanjutan yang masih terbatas. Dari kajian OJK, setidaknya Indonesia membutuhkan Rp 745 triliun per tahun hingga 2030. Karena itu, perlu peran OJK dalam mendorong sektor jasa keuangan agar dapat mengoptimalkan peran dan kapasitasnya di sektor Ekonomi Hijau,” pungkas Bamsoet. (sir/wan)

BERITA KHUSUS

BERITA TERBARU

Asyik Main Air Banjir, Bocah di Gresik Digigit Ular

NUSADAILY.COM – GRESIK  -  Ini peringatan bagi para orang tua agar menjaga anaknya saat bermain air. Karena ada kejadian saat sedang asyik bermain air...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily