Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaNewsMetropolitanPakar IDI Prediksi Puncak Omicron Terjadi Februari-Maret 2022

Pakar IDI Prediksi Puncak Omicron Terjadi Februari-Maret 2022

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban memprediksi puncak penyebaran varian Omicron akan terjadi 4-8 pekan ke depan atau sekitar Februari-Maret 2022.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Dia menyebutkan, prediksi ini berkaca dari pengalaman negara lain seperti Inggris dan Afrika Selatan yang sudah melalui fase puncak penyebaran Omicron di wilayah masing-masing.

BACA JUGA: Omicron di Indonesia Capai 1.078 Kasus, Mayoritas dari Perjalanan Luar Negeri

“Perhitungan saja empat minggu paling lama 8 minggu akan tinggi banget di Indonesia,” paparnya, dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (22/1/2022).

Meski diprediksi akan segera memasuki fase puncak penyebaran Omicron, Zubairi berharap Indonesia bisa mengendalikan varian terbaru COVID-19 ini.

BACA JUGA: Jelang Olimpiade Musim Dingin, Omicron Serbu Beijing

Sebelumnya, pada cuitannya di akun Twitter pribadinya, Zubairi menyebut positivity rate Indonesia kini sudah di angka 3,1 persen. Sementara tingkat positivity rate di DKI Jakarta naik ke angka 3,6 persen.

BACA JUGA: Warga Madiun Terdeteksi Omicron, Ternyata TKW dari Hong Kong

“Sebetulnya Jakarta selalu lebih rendah positivity rate-nya dibanding provinsi lain. Namun, saat ini tak bisa dihindari akan jadi paling tinggi–notabene merupakan gerbang masuk. Saya yakin, kalau segala upayanya seperti 2021, Jakarta bisa menekan positivity rate-nya lagi,” tulisnya di akun twitternya, Kamis (20/1/2022).

Menurutnya, kenaikan kasus Omicron di Indonesia khususnya Jakarta terjadi akibat kasus impor dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). Hal ini menyebabkan tingkat okupansi pusat karantina Wisma Atlet menjadi sangat tinggi.

BACA JUGA: Rahasia di Balik Penampilan Nia Ramadhani yang Selalu Modis di Sidang

Kondisi lain bisa terjadi apabila transmisi lokal mengambil alih penyebaran Omicron di Indonesia. Zubairi menyebutkan hal itu dapat membuat penularan varian ini meluas ke daerah-daerah lain.

“Saya khawatirkan 3-4 minggu transmisi lokal mengambil alih mayoritas kasus, penularan merebak luas ke wilayah lain,” ujarnya dilansir dari detikcom.(eky)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Usung Pembelajaran Bahasa, Sosial dan Budaya dalam MBKM, UM Gelar Seminar Nasional

NUSADAILY.COM – MALANG – Dalam rangka menyukseskan gerakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) khususnya bidang pembelajaran bahasa, sastra dan budaya. Departemen Sastra Jerman Universitas...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban memprediksi puncak penyebaran varian Omicron akan terjadi 4-8 pekan ke depan atau sekitar Februari-Maret 2022.

Dia menyebutkan, prediksi ini berkaca dari pengalaman negara lain seperti Inggris dan Afrika Selatan yang sudah melalui fase puncak penyebaran Omicron di wilayah masing-masing.

BACA JUGA: Omicron di Indonesia Capai 1.078 Kasus, Mayoritas dari Perjalanan Luar Negeri

"Perhitungan saja empat minggu paling lama 8 minggu akan tinggi banget di Indonesia," paparnya, dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (22/1/2022).

Meski diprediksi akan segera memasuki fase puncak penyebaran Omicron, Zubairi berharap Indonesia bisa mengendalikan varian terbaru COVID-19 ini.

BACA JUGA: Jelang Olimpiade Musim Dingin, Omicron Serbu Beijing

Sebelumnya, pada cuitannya di akun Twitter pribadinya, Zubairi menyebut positivity rate Indonesia kini sudah di angka 3,1 persen. Sementara tingkat positivity rate di DKI Jakarta naik ke angka 3,6 persen.

BACA JUGA: Warga Madiun Terdeteksi Omicron, Ternyata TKW dari Hong Kong

"Sebetulnya Jakarta selalu lebih rendah positivity rate-nya dibanding provinsi lain. Namun, saat ini tak bisa dihindari akan jadi paling tinggi--notabene merupakan gerbang masuk. Saya yakin, kalau segala upayanya seperti 2021, Jakarta bisa menekan positivity rate-nya lagi," tulisnya di akun twitternya, Kamis (20/1/2022).

Menurutnya, kenaikan kasus Omicron di Indonesia khususnya Jakarta terjadi akibat kasus impor dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). Hal ini menyebabkan tingkat okupansi pusat karantina Wisma Atlet menjadi sangat tinggi.

BACA JUGA: Rahasia di Balik Penampilan Nia Ramadhani yang Selalu Modis di Sidang

Kondisi lain bisa terjadi apabila transmisi lokal mengambil alih penyebaran Omicron di Indonesia. Zubairi menyebutkan hal itu dapat membuat penularan varian ini meluas ke daerah-daerah lain.

"Saya khawatirkan 3-4 minggu transmisi lokal mengambil alih mayoritas kasus, penularan merebak luas ke wilayah lain," ujarnya dilansir dari detikcom.(eky)