Sabtu, November 27, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsMetropolitanMiris Nasib Guru Honorer Ngawi, Tinggal di Gubuk Tepi Hutan Jati

Miris Nasib Guru Honorer Ngawi, Tinggal di Gubuk Tepi Hutan Jati

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – NGAWI – Di Ngawi Jawa Timur ada seorang guru honorer yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan jauh dari kata sejahtera. Ia bersama suami dan tiga orang anaknya tinggal di atas tanah milik perhutani dengan rumah reot yang dibangunnya sendiri.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Ia adalah Sri Hartuti, setiap hari mengajar di  SDN 4 Pandean Kecamatan Karanganyar dengan honor Rp 300 ribu  perbulan yang kadang tak cukup untuk membeli beras. Sedang untuk tempat tinggal terpaksa seadanya, berdinding bambu berlantai tanah. Itu pun masih harus berbagi dengan kambingnya sebagai penopang tambahan bila sewaktu waktu anaknya sakit untuk biaya. 

Anggi Nugroho, suaminya bekerja serabutan membuat meraka pun kerap kekurangan dan makan seadanya. Meski honor guru minim tidak meyurutkan tekatnya untuk mencerdaskan anak anak di pinggiran hutan jati tersebut. Sebelum berangkat ke sekolah Sri mengaku juga menyelesaikan pekerjaan rumah mulai dari menyiapkan makanan buat suami dan ketiga anaknya hingga kambingnya.

“Saya mulai mengajar sejak tahun 2007, saat itu tidak digaji. Kemudian beberapa tahun selanjutnya baru dapat gaji. Gaji pertama Rp 50 ribu, naik menjadi Rp 100 ribu dan sekarang Rp 300 ribu. Meski mending dibanding dahulu namun untuk biaya hidup sekarang ya tidak lagi cukup mas,” kata Sri saat ditemui Nusadaily.com di rumahnya, Sabtu (23/10/2021).

Alhamdulillah, lanjutnya, disyukuri saja apapun kondisinya masih ada suami yang membantu dari kerja serabutan mulai dari bekerja bangunan, ikut panen padi, tebang tebu. Kemudian ada rumah seadanya dari panas dan hujan meski numpang di atas lahan perhutani. 

“Saya kemarin ikut mengadu nasib dengan mendaftar di PPPK. Mudah mudahan lulus, mohon doanya ya,” pungkasnya. 

Sementara itu keterangan Supatmi, rekan sesama guru mengaku pernah datang kerumah bersama teman-teman waktu itu Sri melahirkan. Mereka mengaku menangis tidak bisa membayangkan kalau hujan angin. Mereka sempat menyarankan agar keluarga tidur di atas agar tidak digigit binatang. 

“Rumah mereka berdinding bambu dan dilapisi terpal, tidur di lantai tanah. Kemudian sebelahya kandang kambing,” ungkap rekanya tersebut.

Selain tinggal di rumah tak layak pinggir hutan keluarga tersebut pada saat kemarau saat ini kesulitan air bersih. Rekan guru ditempat mengajar Sri juga mendoakan agar ibu tiga orang anak yang sudah mengabdi selama 14 tahun itu dapat terjaring masuk pppk tahun 2021.

“Sudah 4 tahun lebih Sri dan keluarga tinggal dirumah tak layak tersebut, rumah seadanya itu didirikan di atas lahan milik perhutani. Mereka sendirilah yang membuat rumah di lokasi tersebut atas izin pihak perhutani,” pungkas Supatmi rekan sesama guru. (nto/wan).

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR