Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaNewsMetropolitanKala Jokowi ‘Ngamuk’ Sebut RI Cuma Dapat Ampas

Kala Jokowi ‘Ngamuk’ Sebut RI Cuma Dapat Ampas

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak dapat menutupi rasa kekesalannya mengetahui fakta bahwa Indonesia masih kecanduan impor gas tabung alias Liquefied Petroleum gas (LPG).

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

BACA JUGA : Jokowi ‘Ngamuk’, Batubara Melimpah LPG Masih Impor

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat menyaksikan pelepasan ekspor perdana Smelter Grade Alumina (SGA) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau.

“Kita punya bahan baku buanyak sekali, guede sekali. Kita malah impor LPG Rp 80 triliun setiap tahun,” tegas Jokowi, Selasa (25/1/2022).

BACA JUGA : Akankah Pembangunan IKN Mengulang ‘Janji Manis’ Jokowi di Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung?

Jokowi lantas menyinggung proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethryl Ether (DME) sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

Proyek DME pertama di Indonesia yang diresmikan di Tanjung Enim itu sendiri diperkirakan dapat menghasilkan 1,4 juta DME per tahun untuk mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun dan menghemat subsidi LPG Rp 7 triliun.

BACA JUGA : Xi Jinping Telepon Jokowi, Apa yang Dibahas?

“Kita ekspor batu bara, mentahan terus, mentahan, mentahan, mentahan. Padahal yang namanya batu bara itu bisa jadi metanol, DME,” tegasnya.

Jokowi mengaku geram lantaran selama ini hasil kekayaan alam Indonesia tidak pernah teroptimalisasi dengan baik, dan malah justru negara lain yang mendapatkan keuntungannya.

BACA JUGA : Presiden Jokowi Resmikan SPAM Umbulan

“Terlalu nyaman kita ini. Terlalu enak. Orang lain yang dapat, negara lain yang dapat, dia dapat nilai tambahnya, dia dapat lapangan kerjanya, dia dapat pajaknya,” katanya dengan suara meninggi

“Coba kalau kita buat industri seperti ini. Kita dapat royalti, kita dapat pajak perusahannya, kita dapat pajak pribadinya, ekspor ke luar, kita dapat PNBP, semua dapat,” tegas Jokowi.(han)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Usung Pembelajaran Bahasa, Sosial dan Budaya dalam MBKM, UM Gelar Seminar Nasional

NUSADAILY.COM – MALANG – Dalam rangka menyukseskan gerakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) khususnya bidang pembelajaran bahasa, sastra dan budaya. Departemen Sastra Jerman Universitas...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak dapat menutupi rasa kekesalannya mengetahui fakta bahwa Indonesia masih kecanduan impor gas tabung alias Liquefied Petroleum gas (LPG).

BACA JUGA : Jokowi ‘Ngamuk’, Batubara Melimpah LPG Masih Impor

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat menyaksikan pelepasan ekspor perdana Smelter Grade Alumina (SGA) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau.

"Kita punya bahan baku buanyak sekali, guede sekali. Kita malah impor LPG Rp 80 triliun setiap tahun," tegas Jokowi, Selasa (25/1/2022).

BACA JUGA : Akankah Pembangunan IKN Mengulang ‘Janji Manis’ Jokowi di Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung?

Jokowi lantas menyinggung proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethryl Ether (DME) sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

Proyek DME pertama di Indonesia yang diresmikan di Tanjung Enim itu sendiri diperkirakan dapat menghasilkan 1,4 juta DME per tahun untuk mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun dan menghemat subsidi LPG Rp 7 triliun.

BACA JUGA : Xi Jinping Telepon Jokowi, Apa yang Dibahas?

"Kita ekspor batu bara, mentahan terus, mentahan, mentahan, mentahan. Padahal yang namanya batu bara itu bisa jadi metanol, DME," tegasnya.

Jokowi mengaku geram lantaran selama ini hasil kekayaan alam Indonesia tidak pernah teroptimalisasi dengan baik, dan malah justru negara lain yang mendapatkan keuntungannya.

BACA JUGA : Presiden Jokowi Resmikan SPAM Umbulan

"Terlalu nyaman kita ini. Terlalu enak. Orang lain yang dapat, negara lain yang dapat, dia dapat nilai tambahnya, dia dapat lapangan kerjanya, dia dapat pajaknya," katanya dengan suara meninggi

"Coba kalau kita buat industri seperti ini. Kita dapat royalti, kita dapat pajak perusahannya, kita dapat pajak pribadinya, ekspor ke luar, kita dapat PNBP, semua dapat," tegas Jokowi.(han)