Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaNewsMetropolitanJokowi ‘Ngamuk’, Batubara Melimpah LPG Masih Impor

Jokowi ‘Ngamuk’, Batubara Melimpah LPG Masih Impor

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Dalam acara pembukaan Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Istana Negara hari ini, Jokowi mengungkapkan kejengkelannya.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Usut punya usut, ternyata Jokowi ‘ngamuk’ karena tingginya impor minyak dan gas atau LPG.

BACA JUGA : Menanti Calon ‘Pimpinan’ Nusantara dari Kantong Jokowi

“Gas ini batu bara bisa disubsitusi menjadi gas, sehingga nggak perlu impor LPG. Karena bisa dibuat dari batu bara kita yang melimpah, kok kita impor,” ungkap Jokowi jengkel, Senin (16/12/2019).

Jokowi mengatakan, sehari Indonesia mengimpor 700 ribu-800 ribu barel per hari.

“Impor minyak kita kurang lebih sekarang ini 700 ribu-800 ribu barel. Betul Pak Menteri? Kurang lebih ya, per hari. Jangan mikir per tahun. Baik itu, minyak baik itu gas. Dan ada turunan Petrokimia,” tutur Jokowi.

BACA JUGA : Akankah Pembangunan IKN Mengulang ‘Janji Manis’ Jokowi di Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung?

Soal batu bara menjadi LPG ini, bisa dilakukan lewat fasilitas pengolahan dimethyl ether (DME), gas dari batu bara yang menggantikan liquid petroleum gas (LPG).

DME diolah dari batu bara, yang mana produksinya memang jauh lebih murah daripada lifting minyak dan gas alam. Bahkan, batu bara yang akan dipakai merupakan batu bara berkalori paling rendah yang “kurang menguntungkan” jika dijual di pasar batu bara dunia.

Sebelumnya, PT Bukit Asam Tbk dan PT Pertamina serta perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Air Product and Chemicals Inc pernah meneken nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/ MoU) untuk membangun fasilitas hilirisasi batu bara tersebut di Sumatera. Namun progresnya tidak jelas sampai seperti apa saat ini.

BACA JUGA : Senior PDIP: Aturan Memperbolehkan Duet Prabowo-Jokowi Maju di Pilpres 2024

Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Oktober 2019 angka impor migas Indonesia mencapai US$ 17,617 miliar atau Rp 246,6 triliun turun tipis dari periode yang sama tahun lalu US$ 24,97 miliar. Sementara ekspor migas Indonesia pada periode yang sama tercatat US$ 10,347 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu US$ 14,152 miliar.

Impor minyak mentah Januari-Oktober 2019 tercatat US$ 4,343 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu US$ 7,832 miliar. Sementara impor hasil minyak termasuk BBM tercatat US$ 11,195 miliar atau sekitar Rp 156,7 triliun, turun dari periode yang sama tahun lalu US$ 14,575 miliar.

BACA JUGA : Xi Jinping Telepon Jokowi, Apa yang Dibahas?

Foto: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, Senin (24/1/2022).

Sementara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, Senin (24/1/2022). Dalam sambutannya, Jokowi mengaku sudah berkali-kali menyampaikan perihal hilirisasi, industrialisasi, dan pentingnya mengurangi impor.

“Ini sudah enam tahun yang lalu saya perintah, tetapi alhamdulillah hari ini meskipun dalam jangka yang panjang belum bisa dimulai, alhamdulillah hari ini bisa kita mulai groundbreaking proyek hilirisasi proyek batu bara jadi DME,” ujarnya.

Jokowi lantas menyinggung importasi elpiji tanah air yang tergolong besar sebagai alasan di balik urgensi proyek hilirisasi ini.

“Impor kita elpiji itu gede banget. Mungkin Rp 80-an triliun dari kebutuhan Rp 100-an triliun. Impornya Rp 80-an triliun, itupun juga harus disubsidi untuk sampai ke masyarakat karena harganya juga sudah sangat tinggi sekali. Subsidinya antara Rp 60 triliun sampai Rp 70 triliun,” kata Jokowi.

“Pertanyaan saya apakah ini mau kita terus-teruskan? Impor terus? Yang untung negara lain, yang terbuka lapangan kerja di negara lain padahal kita memiliki bahan baku, kita memiliki raw material-nya yaitu batu bara yang diubah menjadi DME,” lanjutnya.(han)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Donny Yoesgiantoro Resmi Jabat Ketua KI Pusat Periode 2022-2026

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Lembaga Komisi Informasi (KI) Pusat Menetapkan menetapkan Donny Yoesgiantoro sebagai Ketua KI Pusat untuk periode 2022-2026. Sedangkan Arya Sandhiyudha terpilih...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Dalam acara pembukaan Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Istana Negara hari ini, Jokowi mengungkapkan kejengkelannya.

Usut punya usut, ternyata Jokowi ‘ngamuk’ karena tingginya impor minyak dan gas atau LPG.

BACA JUGA : Menanti Calon ‘Pimpinan’ Nusantara dari Kantong Jokowi

"Gas ini batu bara bisa disubsitusi menjadi gas, sehingga nggak perlu impor LPG. Karena bisa dibuat dari batu bara kita yang melimpah, kok kita impor," ungkap Jokowi jengkel, Senin (16/12/2019).

Jokowi mengatakan, sehari Indonesia mengimpor 700 ribu-800 ribu barel per hari.

"Impor minyak kita kurang lebih sekarang ini 700 ribu-800 ribu barel. Betul Pak Menteri? Kurang lebih ya, per hari. Jangan mikir per tahun. Baik itu, minyak baik itu gas. Dan ada turunan Petrokimia," tutur Jokowi.

BACA JUGA : Akankah Pembangunan IKN Mengulang ‘Janji Manis’ Jokowi di Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung?

Soal batu bara menjadi LPG ini, bisa dilakukan lewat fasilitas pengolahan dimethyl ether (DME), gas dari batu bara yang menggantikan liquid petroleum gas (LPG).

DME diolah dari batu bara, yang mana produksinya memang jauh lebih murah daripada lifting minyak dan gas alam. Bahkan, batu bara yang akan dipakai merupakan batu bara berkalori paling rendah yang "kurang menguntungkan" jika dijual di pasar batu bara dunia.

Sebelumnya, PT Bukit Asam Tbk dan PT Pertamina serta perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Air Product and Chemicals Inc pernah meneken nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/ MoU) untuk membangun fasilitas hilirisasi batu bara tersebut di Sumatera. Namun progresnya tidak jelas sampai seperti apa saat ini.

BACA JUGA : Senior PDIP: Aturan Memperbolehkan Duet Prabowo-Jokowi Maju di Pilpres 2024

Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Oktober 2019 angka impor migas Indonesia mencapai US$ 17,617 miliar atau Rp 246,6 triliun turun tipis dari periode yang sama tahun lalu US$ 24,97 miliar. Sementara ekspor migas Indonesia pada periode yang sama tercatat US$ 10,347 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu US$ 14,152 miliar.

Impor minyak mentah Januari-Oktober 2019 tercatat US$ 4,343 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu US$ 7,832 miliar. Sementara impor hasil minyak termasuk BBM tercatat US$ 11,195 miliar atau sekitar Rp 156,7 triliun, turun dari periode yang sama tahun lalu US$ 14,575 miliar.

BACA JUGA : Xi Jinping Telepon Jokowi, Apa yang Dibahas?

Foto: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, Senin (24/1/2022).

Sementara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, Senin (24/1/2022). Dalam sambutannya, Jokowi mengaku sudah berkali-kali menyampaikan perihal hilirisasi, industrialisasi, dan pentingnya mengurangi impor.

"Ini sudah enam tahun yang lalu saya perintah, tetapi alhamdulillah hari ini meskipun dalam jangka yang panjang belum bisa dimulai, alhamdulillah hari ini bisa kita mulai groundbreaking proyek hilirisasi proyek batu bara jadi DME," ujarnya.

Jokowi lantas menyinggung importasi elpiji tanah air yang tergolong besar sebagai alasan di balik urgensi proyek hilirisasi ini.

"Impor kita elpiji itu gede banget. Mungkin Rp 80-an triliun dari kebutuhan Rp 100-an triliun. Impornya Rp 80-an triliun, itupun juga harus disubsidi untuk sampai ke masyarakat karena harganya juga sudah sangat tinggi sekali. Subsidinya antara Rp 60 triliun sampai Rp 70 triliun," kata Jokowi.

"Pertanyaan saya apakah ini mau kita terus-teruskan? Impor terus? Yang untung negara lain, yang terbuka lapangan kerja di negara lain padahal kita memiliki bahan baku, kita memiliki raw material-nya yaitu batu bara yang diubah menjadi DME," lanjutnya.(han)