Sabtu, Oktober 23, 2021
BerandaNewsMetropolitanIPW Pertanyakan Lambannya Proses Pemanggilan Dua Pejabat Terduga Korupsi Bansos Kemensos

IPW Pertanyakan Lambannya Proses Pemanggilan Dua Pejabat Terduga Korupsi Bansos Kemensos

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Terduga pelaku korupsi Bansos Kementerian Sosial Herman Hery dan Achsanul Qasasi yang hingga kini belum dipanggil dan diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dipertanyakan ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane.

Neta S Pane mempertanyakan lambannya pihak KPK memeriksa kedua tersangka tersebut. Sedangkan dalam kasus impor benur, KPK begitu cepat memanggil jenderal polisi, yakni Komjen (Purn) Antam Novambar sebagai saksi.

BACA JUGA: ICW Desak KPK Usut Keterlibatan Herman Herry, Ihsan Yunus di Kasus Suap Bansos Covid-19

“Para penyidik polri di KPK jangan takut untuk memanggil dan memeriksa Herman Heri dan Aqsanul,” ujar Neta S Pane dalam keterangan tertulis kepada nusadaily.com, Kamis (18/3).

“Kasus korupsi dana Bansos Covid-19 di Kementerian Sosial yang melibatkan mantan Mensos Juliari P Batubara dan pejabat lainnya harus dijadikan langkah awal bagi KPK untuk menjerat siapapun,” katanya.

Termasuk, lanjut Neta, anggota DPR Herman Hery, Ihsan Yunus dari PDIP, maupun Achsanul Qosasi dari BPK jika mereka memang terlibat. Pasalnya, keduanya telah disebut dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan diperjelas dalam persidangan di pengadilan tipikor Jakarta.

“Untuk itu KPK harus tegas melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk menuntaskan kasus bantuan sembako tahun 2020 yang diperuntukkan bagi jutaan korban Covid-19 tersebut,” tegas Neta.

Masih Kata Neta, keterlibatan Herman Hery misalnya, terkuak melalui Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Sosial, Adi Wahyono mengenai pembagian jatah kuota 1,9 juta paket sembako Covid-19 dalam sidang dengan terdakwa Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddanatja di Jakarta, Senin 8 Maret 2021 lalu.

Bahkan tambah Neta, Jaksa mempertegas BAP nomor 53 milik Adi Wahyono yang menyebut 1 juta paket diberikan untuk grup Herman Hery, Ivo Wongkaren, Stefano dan kawan-kawan.

“Kemudian, 400 ribu paket kepada Ihsan Yunus, Irman Ikram, Yogas dkk. Sedangkan, 300 ribu oleh Matheus Joko dikelola untuk kepentingan bina lingkungan dan 200 ribu untuk teman kerabat kolega Juliari Peter Batubara,” terangnya.

Bukan hanya itu IPW juga menjelaskan keterlibatan Achsanul Qosasi, anggota BPK yang diperjelas oleh Jaksa penuntut umum dalam kesaksian Matheus Joko Santoso, Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan bansos sembako COVID-19 pada Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Kemensos yang membacakan rincian penggunaan Rp14,7 miliar uang yang berasal dari fee perusahaan penyedia bantuan sosial (bansos) sembako COVID-19.

Dipaparkan pula, dari keterangan Saksi Matheus, Joko Santoso terdakwa pihak swasta Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddanatja di pengadilan tipikor Jakarta.

BACA JUGA: ICW Bertanya, Firli Bahuri Menjawab, soal Kasus Bansos di Kemensos

“JPU membacakan BAP nomor 78 milik Matheus Joko Santoso tentang penggunaan uang tersebut adalah untuk operasional BPK 1 miliar yang diberikan melalui Adi (Adi Wahyono). Di BAP menurut JPU menyebut nama Achsanul Qosasi,” urai Neta.

Oleh sebab itu IPW meminta lembaga anti rasuah itu harus segera memeriksa Herman Hery dan Achsanul, dan KPK harus senantiasa menjadi harapan bagi upaya penuntasan kasus korupsi di Indonesia.

“Jika KPK tak kunjung memanggil dan memeriksa Herman Heri dan Achsanul, publik akan mempertanyakan, kenapa kepada Juliari P Batubara yang Mensos dan juga bendahara PDIP, KPK berani menangkapnya, dan Kenapa pula KPK berani memanggil Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Antam Novambar, meski Komjen (Purn) itu tidak memenuhi panggilan penyidik KPK,” tanya Neta.

Diakhir pernyataan, Neta juga mempertanyakan apakah backing Herman Heri dan Achsanul lebih kuat dibandingkan backing Antam, yang notabene pernah mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK.

“Untuk itu IPW berharap para polisi yang menjadi penyidik di KPK bersikap profesional, tidak tebang pilih, dan tidak takut pada Herman Hery. Sebab sikap profesional KPK pasti akan didukung masyarakat,” pungkas Neta.(sir/lna)

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img

BERITA KHUSUS

@nusadaily.com

Akhir-akhir ini Kota Malang panas banget nih, ngadem dulu yuk🍦🍦 ##tiktoktaiment

♬ Happy Ukulele - VensAdamsAudio

LIFESTYLE

Baldwin alec

Alec Baldwin Belum Menerima Tuntutan Terkait Penembakan di “Rust”

0
NUSADAILY.COM - JAKARTA - Pengacara Distrik Yudisial Pertama Santa Fe, Mary Carmack-Altwies, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada E! bahwa aktor dan co-produser film Alec...