Selasa, Desember 7, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsMetropolitanBalai BKSDA dan Polresta Yogyakarta Berhasil Ungkap Perdagangan Satwa Ilegal Online

Balai BKSDA dan Polresta Yogyakarta Berhasil Ungkap Perdagangan Satwa Ilegal Online

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY. COM – JAKARTA -Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta bersama Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Kota Yogyakarta mengungkap perdagangan ilegal satwa dilindungi. Perdagangan satwa dilindungan ilegal ini dilakukan secara online dijejaring media sosial pada Jumat (15/10/21). 

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Terbongkarnya kasus tersebut berawal dari adanya informasi  melalui media sosial. Hal itu ditindaklanjutin petugas Polresta Yogyakarta dengan menemukan adanya postingan yang menawarkan satwa dilindungi untuk diperjualbelikan secara online. Selanjutnya dilakukan pengumpulan bukti pendukung, Satreskrim Polresta Yogyakarta kemudian berkoordinasi dengan Balai KSDA Yogyakarta untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

Dari hasil penyelidikan di lapangan menunjukkan tersangka perdagangan ilegal tersebut berada di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Sehingga Polresta Yogyakarta segera berkoordinasi dengan Polda Jateng. Sementara itu Kepala Balai KSDA Yogyakarta juga langsung menghubungi Kepala Balai KSDA Jawa Tengah untuk menginformasikan adanya pengejaran tersangka di wilayah hukum Polda Jawa Tengah.

Tanpa menunggu waktu lagi malam harinya Tim Gabungan yang terdiri dari Polresta Yogyakarta, Quick Response Balai KSDA Yogyakarta dan Polrestabes Semarang langsung melakukan pengejaran tersangka di Kecamatan Semarang, Kabupaten Semarang, Semarang Timur. Pukul 23.30 WIB di hari yang sama,  tim gabungan berhasil mengamankan tersangka dan barang bukti.  

Dari TKP berhasil diamankan beberapa satwa dilindungi yang setelah dilakukan identifikasi oleh tim Quick Response Balai KSDA Yogyakarta. Satwa tersebut terdiri dari 7 ekor kukang jawa (Nyticebus javanicus), 1 ekor binturong (Arctictis binturong),  1 ekor buaya air tawar irian (Crocodylus novaeguineae), dan 1 ekor anakan buaya belum diketahui jenisnya.

Semua satwa tersebut dalam kondisi sehat.  Barang bukti satwa dilindungi tersebut saat ini dititipkan ke Lembaga Konservasi Gembira Loka Zoo (GL Zoo) untuk dilakukan penyelamatan dan perawatan lebih lanjut. Sedangkan tersangka perdagangan ilegal satwa dilindungi kini diamankan di Polresta Yogyakarta untuk dimintai keterangan.

Merespon kasus perdagangan satwa ilegal ini, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi menyatakan prihatin dengan masih adanya pelanggaran hukum bidang kehutanan berupa perdagangan illegal satwa dilindungi tersebut.

 “Terjadinya kasus perdagangan satwa dilindungi secara illegal ini menunjukkan masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai status perlindungan satwa di Indonesia,” ucap Wahyudi. 

Untuk itu, kata Wahyudi diperlukan adanya sosialisasi yang lebih intensif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. 

“Saya minta teman-teman di lapangan untuk lebih sering bertemu dengan masyarakat, memberikan sosialisasi dan pemahaman terkait perdagangan satwa liar dilindungi yang tentu saja secara hukum merupakan tindakan illegal yang melawan hukum. Masyarakat perlu diedukasi dampak bahaya yang mungkin ditimbulkan akibat perdagangan dan kepemilikan satwa liar tersebut,” ujar Wahyud.

Lebih lanjut M. Wahyudi menegaskan agar pelaku perdagangan illegal satwa dilindungi diberikan efek jera. 

“Sangat diperlukan adanya sinergisitas yang semakin kuat lagi antara Balai KSDA Yogyakarta dengan aparat penegak hukum terkait upaya penegakan hukumnya, dan kami sangat mengapresiasi langkah koordinasi yang telah dilakukan Satreskrim Polresta Yogyakarta,” tandasnya.

Ia pun menyadari, bahwa penanganan kasus pelanggaran di bidang kehutanan dapat diselesaikan karena adanya koordinasi yang baik antara semua pihak terkait. 

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Polresta Yogyakarta ini menunjukkan bahwa pihak kepolisian bersungguh-sungguh dalam mendukung penegakan pelanggaran hukum bidang kehutanan,” jelasnya.

Seperti diketahui, Perdagangan tumbuhan dan satwa liar illegal merupakan pelanggaran di bidang kehutanan dengan pasal yang disangkakan yakni Pasal 21 ayat (2) Jo Pasal 40 ayat (2) UURI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya : Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. Dengan Ketentuan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. (sir/wan)

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Peningkatan aktivitas gunung Semeru ##tiktokberita

♬ suara asli - Nusa Daily