Kisah Tragis Calon Profesor di Jember: Karir Tamat dan Masuk Bui Akibat Grepe-Grepe

  • Whatsapp
Polisi menginterogasi RH, dosen yang jadi tersangka pencabulan. (nusadaily.com/ Sutrisno).
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JEMBER – Keputusan Universitas Jember (Unej) melucuti jabatan Koordinator Program Studi Magister Ilmu Administrasi dari tangan dosen berinisial RH yang sebelumnya oleh polisi dijebloskan ke sel tahanan sebagai konsekuensi sebagai tersangka perkara pidana pencabulan anak di bawah umur.

“Sejak awal mencuatnya kasus ini, memang sudah memiliki perhatian besar untuk segera menuntaskan,” sebut Rektor Unej, Iwan Taruna dalam keterangan resmi secara tertulis pada Jum’at, 7 Mei 2021.

RH memang disangka mencabuli keponakan perempuannya yang berusia 16 tahun. Jeratannya berdasar UU Perlindungan Anak Pasal 82 ayat (2) juncto Pasal 76E dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun kurungan.

Padahal, RH tergolong akademisi berusia muda dengan karir cemerlang di kampus Unej. Salah satu gelar pendidikan yang disandangnya adalah doktor dari perguruan tinggi beken macam Charles Darwin University, Australia. Bahkan, di usia baru beranjak 40 tahun, RH digadang-gadang menjadi kandidat profesor.

Namun, sederet raihan sukses tersebut bakal musnah sirna seketika. Kasus grepe-grepe kepada anak dibawah umur menjadi penyebabnya. Pasalnya, kampus Unej menyatakan tidak dapat mentolelir dugaan perbuatan cabul yang membelit RH untuk diusut oleh lembaga penegak hukum.

Unej sendiri juga membentuk tim investigasi internal untuk aspek hukum disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS), sehingga membebastugaskan sementara RH dari jabatan di kampus. Selain itu, Unej mengambil alih seluruh tanggung jawab mata kuliah maupun pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa yang diampu RH.

“Langkah ini diambil agar tidak ada kerugian akademik terhadap keberlanjutan mata kuliah maupun tugas akhir yang saat ini tengah dikerjakan oleh mahasiswa. Unej menghormati Polres Jember menahan RH sesuai ketentuan hukum acara pidana yang berlaku,” tegas Iwan.

Sedangkan pihak kepolisian menyampaikan, ancaman hukuman terhadap RH berpotensi ditambah sepertiga dari minimalnya lantaran dengan alasan bahwa korban adalah anak asuhnya sendiri.

Sudah Ada Dua Alat Bukti

“Ditahan karena dua alat bukti sebagai syarat minimal sesuai KUHP dinyatakan sah,” papar Wakil Kepolisian Resor Jember Komisaris Polisi Kadek Ary Mahardika.

Korban bersama beberapa organisasi nirlaba yang konsen di bidang perlindungan perempuan dan anak melaporkan RH ke Polres Jember dengan alat bukti rekaman suara percakapan serta pengakuan korban.

Hasil penyelidikan polisi mendapati bukti tambahan berupa baju tidur korban bergambar tokoh kartun doraemon. Dan visum rumah sakit berikut keterangan ahli psikiater RSD dr. Soebandi.

Kadek menyatakan, bukti terkuat adalah rekaman dalam ponsel korban saat percakapan dengan tersangka. Yang terindikasi kuat merupakan rangkaian dari perbuatan cabul.

“Rekaman percakapan mengungkap modus kejahatan tersangka. Berkasnya sudah kami lengkapi, dan kami kirimkan SPDP (surat pemberitahuan dimulainya penyidikan) ke Kejaksaan Negeri Jember,” pungkas Kadek. (sut/aka)