Senin, Juni 27, 2022
BerandaNewsKesaksian Mantan Siswi SMA SPI, Benarkan Sangkaan Buruk kepada Pemilik

Kesaksian Mantan Siswi SMA SPI, Benarkan Sangkaan Buruk kepada Pemilik

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Satu per satu alumni siswi Selamat Pagi Indonesia (SPI) mulai menceritakan pengalaman buruk dari JE, pendiri sekolah. Kesaksian diberikan satu alumni lainnya yang menerima perlakuan serupa seperti korban-korban melapor ke Polda Jatim. 

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Identitas seseorang yang memberikan kesaksian ini sengaja tak diekspose. Perempuan itu mendaftarkan diri ke SMA SPI delapan tahun silam. Latar belakang bersekolah di SMA SPI, karena orang tuanya tak mampu untuk membiayai ke jenjang lebih tinggi. Tulang punggung keluarga berada pada ibunya yang hanya penjual jajanan di kantin sekolah. Sedangkan ayahnya sudah pergi entah kemana meskipun belum ada status perceraian.

“Saat itu kepala sekolah saya menawarkan untuk bersekolah di tempat tersebut. Karena waktu itu formulirnya hanya satu, sehingga hanya saya saja yang berangkat ke sana. Saya berangkat ke sana juga bertujuan untuk mengurangi beban keluarga,” ujarnya dilansir Nusadaily.com.

Selama proses pembelajaran, dirinya tak hanya menerima pembelajaran akademik saja. Namun dia juga diajarkan untuk bekerja. Meski begitu, dia mengungkapkan, pelajaran akademik sangat jarang dia dapatkan. Sehingga bisa dihitung dengan jari. “Bahkan waktu saya kelas tiga, saat itu waktunya menjalani try out. Namun saya hanya mengikuti try out pertama di hari pertama saja. Setelah itu, saya diajak untuk pengembangan leadership di Surabaya. Serta baru pulang saat menjelang ujian nasional,” katanya.

Begitu lulus dirinya memilih berdiam di lingkungan sekolah berkonsep boarding school itu. Dia bertahan di situ untuk bekerja. Namun itu tak berlangsung lama. Setahun kemudian ia memilih hengkang bekerja dari SPI. Dorongannya itu, karena dirinya merasa ada yang tak beres di sekolah itu. Sama seperti kasus yang mencuat akhir-akhir ini. Mulai dari sistem kerja dan pengupahan  “Pada dasarnya orang bekerja itu selama delapan jam. Namun di sana tidak seperti itu, sistem kerja di sana melebihi waktu ideal tersebut,” kenang dia.

Dia mengatakan, gaji hampir mendekati UMR.  Namun sistem kerjanya saja yang menurutnya sudah sangat melenceng. Menurutnya, manusia tetaplah manusia. Sehingga jika waktunya beristirahat seharusnya juga harus beristirahat. “Kerja di sana itu bisa dibilang seperti kerja rodi. Sehingga sistem kerja seperti itu sangat jelas sudah sangat tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ujarnya.

Menanggapi berita yang tengah beredar saat ini. Dia mengatakan bahwasannya berita itu benar adanya. Meski begitu, dia tidak mau berkomentar lebih banyak. Dia memilih untuk diam terlebih dahulu. Meski dirinya mengantongi sejumlah informasi seperti apa kejadian sebenarnya di sekolah tersebut. “Untuk komentar lebih banyak saya tidak berani. Lebih baik langsung kepada pihak berwajib ataupun ke pihak sekolah saja. Namun yang jelas saya tahu apa yang terjadi di sekolah tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengatakan, eksploitasi ekonomi yang dilakukan pendiri sekolah, didapatnya dari penuturan seorang korban yang didampinginya saat melapor ke Polda Jatim.

Ada banyak rekaan imitasi yang dilakukan pemilik ketika ada tamu atau donatur yang berkunjung. Jika para peserta didik atau alumni keliru dalam menjalankan skenario itu, maka kekerasan fisik maupun umpatan didapat dari pendiri sekolah. “Ini merupakan bentuk-bentuk kekerasan fisik dan eksploitasi ekonomi. Selain menampar, mereka juga akan memberikan hukuman berupa siraman air saat peserta didik sedang beristirahat karena kelelahan,” tukas Arist. (wok/wan)

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Sandiaga Uno Targetkan 1,1 Juta Lapangan Kerja Baru di Sektor Parekraf

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno ingin menciptakan 1,1 juta lapangan kerja baru tahun ini dan terus meningkat...

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Satu per satu alumni siswi Selamat Pagi Indonesia (SPI) mulai menceritakan pengalaman buruk dari JE, pendiri sekolah. Kesaksian diberikan satu alumni lainnya yang menerima perlakuan serupa seperti korban-korban melapor ke Polda Jatim. 

Identitas seseorang yang memberikan kesaksian ini sengaja tak diekspose. Perempuan itu mendaftarkan diri ke SMA SPI delapan tahun silam. Latar belakang bersekolah di SMA SPI, karena orang tuanya tak mampu untuk membiayai ke jenjang lebih tinggi. Tulang punggung keluarga berada pada ibunya yang hanya penjual jajanan di kantin sekolah. Sedangkan ayahnya sudah pergi entah kemana meskipun belum ada status perceraian.

"Saat itu kepala sekolah saya menawarkan untuk bersekolah di tempat tersebut. Karena waktu itu formulirnya hanya satu, sehingga hanya saya saja yang berangkat ke sana. Saya berangkat ke sana juga bertujuan untuk mengurangi beban keluarga," ujarnya dilansir Nusadaily.com.

Selama proses pembelajaran, dirinya tak hanya menerima pembelajaran akademik saja. Namun dia juga diajarkan untuk bekerja. Meski begitu, dia mengungkapkan, pelajaran akademik sangat jarang dia dapatkan. Sehingga bisa dihitung dengan jari. "Bahkan waktu saya kelas tiga, saat itu waktunya menjalani try out. Namun saya hanya mengikuti try out pertama di hari pertama saja. Setelah itu, saya diajak untuk pengembangan leadership di Surabaya. Serta baru pulang saat menjelang ujian nasional," katanya.

Begitu lulus dirinya memilih berdiam di lingkungan sekolah berkonsep boarding school itu. Dia bertahan di situ untuk bekerja. Namun itu tak berlangsung lama. Setahun kemudian ia memilih hengkang bekerja dari SPI. Dorongannya itu, karena dirinya merasa ada yang tak beres di sekolah itu. Sama seperti kasus yang mencuat akhir-akhir ini. Mulai dari sistem kerja dan pengupahan  "Pada dasarnya orang bekerja itu selama delapan jam. Namun di sana tidak seperti itu, sistem kerja di sana melebihi waktu ideal tersebut," kenang dia.

Dia mengatakan, gaji hampir mendekati UMR.  Namun sistem kerjanya saja yang menurutnya sudah sangat melenceng. Menurutnya, manusia tetaplah manusia. Sehingga jika waktunya beristirahat seharusnya juga harus beristirahat. "Kerja di sana itu bisa dibilang seperti kerja rodi. Sehingga sistem kerja seperti itu sangat jelas sudah sangat tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku," ujarnya.

Menanggapi berita yang tengah beredar saat ini. Dia mengatakan bahwasannya berita itu benar adanya. Meski begitu, dia tidak mau berkomentar lebih banyak. Dia memilih untuk diam terlebih dahulu. Meski dirinya mengantongi sejumlah informasi seperti apa kejadian sebenarnya di sekolah tersebut. "Untuk komentar lebih banyak saya tidak berani. Lebih baik langsung kepada pihak berwajib ataupun ke pihak sekolah saja. Namun yang jelas saya tahu apa yang terjadi di sekolah tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengatakan, eksploitasi ekonomi yang dilakukan pendiri sekolah, didapatnya dari penuturan seorang korban yang didampinginya saat melapor ke Polda Jatim.

Ada banyak rekaan imitasi yang dilakukan pemilik ketika ada tamu atau donatur yang berkunjung. Jika para peserta didik atau alumni keliru dalam menjalankan skenario itu, maka kekerasan fisik maupun umpatan didapat dari pendiri sekolah. "Ini merupakan bentuk-bentuk kekerasan fisik dan eksploitasi ekonomi. Selain menampar, mereka juga akan memberikan hukuman berupa siraman air saat peserta didik sedang beristirahat karena kelelahan," tukas Arist. (wok/wan)