Kasus Mutilasi Sugeng, Yasonna: Berhak Dapat Pembinaan

  • Whatsapp
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly ketika berkunjung ke Malang, Rabu (16/9)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – NUSADAILY.COM – MALANG – Kasus mutilasi yang melibatkan Sugeng Santoso masih bisa mendapatkan pembinaan dari pemerintah. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly ketika berkunjung ke Malang, Rabu (16/9).

Baca Juga

“Walaupun hukuman mati, tetap punya hak untuk diberikan pembinaan,” tegas dia.

Yasonna menambahkan, pihak kejaksaan akan menyerahkan terpidana mati tersebut kepada Kementerian Hukum dan HAM setelah ada ketetapan hukum. Namun, ia memastikan, meskipun Sugeng Santoso dijatuhi vonis mati, pemerintah akan memberikan pembinaan.

“Kalau divonis mati, akan dikirimkan ke kita, kita akan terima. Nanti ditentukan dimana dia ditempatkan dan akan kita bina,” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sugeng Santoso, 50, terpidana kasus mutilasi di Kota Malang diberi vonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung (MA) melalui sidang kasasi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, Andi Darmawangsa, Selasa (15/9) di sela sebuah kegiatan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Malang.

“Kami sudah terima keputusan dari Mahkamah Agung yang memperbaiki keputusan pengadilan menjadi hukuman mati,” terang dia.

Vonis hukuman mati tersebut justru lebih berat dari vonis yang diberikan oleh Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang dan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. Sebab, sebelumnya, Sugeng dituntut hukuman penjara seumur hidup Kejaksaan Negeri Kota Malang dalam persidangan di PN Kota Malang. Namun, hakim PN Kota Malang akhirnya menjatuhkan vonis terhadap Sugeng dengan hukuman penjara selama 20 tahun.

Atas putusan tersebut, Sugeng langsung melakukan banding kepada PT di Surabaya melalui tim penasehat hukumnya. Hasilnya, justru menguatkan vonis yang diberikan PN Kota Malang. Akhirnya, Sugeng mengajujan kasasi ke MA. Hasilnya, vonis hukuman bagi Sugeng justru semakin berat, yakni hukuman mati.

“Dia (Sugeng) dituntut seumur hidup, kemudian diputus 20 tahun. PT menguatkan 20 tahun, Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi terdakwa dan JPU. Memperbaiki putusan pengadilan negeri menjadi hukuman mati,” tegas dia.

Meski demikian, Andi belum mengetahui pertimbangan MA yang memberikan vonis hukuman mati. Sebab, ia belum mendapatkan berkas salinannya.

“Yang kami terima baru petikan. Belum putusan yang penuh,” kata dia.

Sugeng Masih Memiliki Dua Pilihan

Menurut Andi, Sugeng masih memiliki dua pilihan langkah hukum yang bisa dilakukan. Pertama, mengajukan peninjauan kembali (PK) terhadap putusan MA itu atau mengajukan permohonan grasi kepada presiden.

“Jadi, kami menunggu sikap dia apa. Sebab, masih ada beberapa upaya yang bisa dilakukan, yakni grasi atau PK. Kami persilakan melakukan itu,” ujar dia.

Namun, jika langkah hukum itu tidak dilakukan, Andi akan menyampaikan ke Kejaksaan Agung agar proses eksekusi bisa dilakukan.

“Setelah semua langkah tidak dilakukan, kami laporkan ke pimpinan. Kapan dan di mana eksekusi,” tandas dia.

Sementara itu, Ketua Tim Penasehat Hukum Sugeng Santoso, Iwan Kuswardi masih akan berkonsultasi dengan kliennya. Rencananya, pihaknya akan melayangkan upaya hukum lanjutan.

“Kalau rencana tim penasehat hukum akan mengajukan upaya hukum. Namun, semua ini tergantung pada Sugeng Santoso, kalau mau menerima putusan tersebut, tim penasehat hukum tidak bisa apa-apa,” papar dia.

Namun, Iwan justru menyayangkan vonis hukuman mati itu. Sebab, berdasarkan hasil visum, Sugeng tidak memutilasi korban dalam keadaan hidup.

“Dalam kasus Sugeng, kesimpulan visum et repertum berbunyi jenazah dipotong post mortem artinya jenazah meninggal lebih dahulu baru dipotong-potong oleh Sugeng,” ujar dia.

Iwan menilai, Mahkamah Agung juga tidak mempertimbangkan kondisi kejiwaan kliennya. Sebab, ketika awal ditangkap, Sugeng terlihat seperti orang yang mengalami gangguan jiwa dan merupakan tunawisma.

“Persoalan menjadi rumit karena terhadap kejiwaan Sugeng sama sekali tidak dilakukan pemeriksaan. Apakah Sugeng termasuk orang yang normal sehingga bisa mempertanggungjawabkan perbuatan pidana atau sebaliknya,” pungkas dia.

Untuk diketahui, kasus mutilasi yang dilakukan Sugeng terjadi pada Selasa, 14 Mei 2019 lalu di Pasar Besar, Kota Malang. Peristiwa tersebut bermula dari temuan potongan tubuh perempuan di lantai dua Pasar Besar. Berdasarkan hasil penyelidikan, Polres Malang Kota akhirnya berhasil menangkap Sugeng sebagai pelaku. Sampai saat ini, identitas korban mutilasi itu belum diketahui. Korban diperkirakan juga merupakan seorang tunawisma.(nda/aka)

Post Terkait

banner 468x60