Sabtu, Mei 28, 2022
BerandaNewsJatimTerpidana Korupsi Masih Dapat Bayaran Gaji Dari Pemkab Jember

Terpidana Korupsi Masih Dapat Bayaran Gaji Dari Pemkab Jember

NUSADAILY.OCM – JEMBER – Sri Wahyuniati, mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jember belum dipecat sebagai aparatur sipil negara (ASN) kendati telah divonis bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Bocoran dokumen ke nusadaily.com menunjukkan Sri Wahyuniati masih mendapatkan gaji hingga pada bulan Pebruari 2020.

Gaji Sri Wahyuniati senilai Rp2,6 juta per bulan tertera dalam dokumen dari sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Selasa, 11 Pebruari 2020, Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Jember Penny Artha Medya melalui telepon awalnya menjawab tegas saat ditanya tentang posisi dan jabatannya. “Ya benar saya kepala dinasnya,” ujarnya.

Penny berubah ketika diberitahu maksud nusadaily.com untuk mengkonfirmasi pencairan gaji Sri Wahyuniati.

“Maaf gak denger. Apa? Maaf gak denger. Putus-putus. Hallo. Putus-putus,” katanya merasa tidak tidak mendengar suara dalam sambungan telepon.

Upaya mendapatkan konfirmasi lantas dilalui dengan mengirim pesan via aplikasi WhatsApp, seketika usai Penny memutus sambungan telepon.

Namun, Penny tidak juga membalas pesan berisi pertanyaan tentang gaji Sri Wahyuniati meski ditunggu lebih dari 30 menit.

Saat awal nusadaily.com mendapat dokumen pencairan gaji Sri Wahyuniati untuk bulan Desember 2019, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jember, Isnaini Dwi Susanti enggan berkomentar mengenai status koleganya itu.

Terpidana korupsi masih tercatat dalam staf Dispendukcapil Jember. (nusadaily.com/Sutrisno)

“Tanyakan saja ke BKD (sekarang Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia),” sergahnya.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Jember Yuliana Harimurti meyakini Sri Wahyuniati sudah dipecat.

“Yang kena (operasi tangkap tangan Saber Pungli) itu kan? Tidak mungkin (masih aktif) lah,” katanya.

Namun, Yuliana Harimurti tidak menerangkan detail waktu maupun surat dokumen pemecatan bagi Sri Wahyuniati.

Bagus, selaku kuasa hukum Sri Wahyuniati masih belum memberikan jawaban.

Seperti diketahui, pada 24 Mei 2019 silam, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya memutuskan vonis bersalah kepada Sri Wahyuniati atas kasus pungutan liar di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jember.

Majelis hakim yang diketuai I Wayan Sosiawan kompak menyatakan Sri Wahyuniati melanggar Pasal 11 Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi.

Sri Wahyuniati dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 50 juta rupiah, subsider 1 bulan kurungan.

Kasus yang menimpa Sri Wahyuniati adalah hasil operasi tangkap Tim Saber Pungli Kepolisian Resor Jember pada Rabu, 31 Oktober 2018 silam.

Polisi menangkap dia bersama Koordinator LSM Misi Persada Abdul Kadar. (sut)

BERITA KHUSUS

Logo dan Maskot MTQ XXX Jatim 2023 Segera Rilis, Gus Ipul Apresiasi Karya Para Desainer

NUSADAILY.COM – PASURUAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan bakal segera memperkenalkan logo dan maskot ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an ke XXX Jawa Timur tahun 2023...

BERITA TERBARU

Update! Siswi SMP Ngawi Kabur, Netizen: Infonya Udah Ketemu Keluarga Lur

NUSADAILY.COM – NGAWI – Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) melarikan diri dari rumah Jumat, 27 Mei 2022, sekitar subuh dan viral di media...
@nusadaily.com Ning Ita Dampingi Anak Penderita Thalasemia jalani Transfusi Darah #tiktokberita ♬ original sound - Nusa Daily

NUSADAILY.OCM - JEMBER - Sri Wahyuniati, mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jember belum dipecat sebagai aparatur sipil negara (ASN) kendati telah divonis bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya.

Bocoran dokumen ke nusadaily.com menunjukkan Sri Wahyuniati masih mendapatkan gaji hingga pada bulan Pebruari 2020.

Gaji Sri Wahyuniati senilai Rp2,6 juta per bulan tertera dalam dokumen dari sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Selasa, 11 Pebruari 2020, Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Jember Penny Artha Medya melalui telepon awalnya menjawab tegas saat ditanya tentang posisi dan jabatannya. "Ya benar saya kepala dinasnya," ujarnya.

Penny berubah ketika diberitahu maksud nusadaily.com untuk mengkonfirmasi pencairan gaji Sri Wahyuniati.

"Maaf gak denger. Apa? Maaf gak denger. Putus-putus. Hallo. Putus-putus," katanya merasa tidak tidak mendengar suara dalam sambungan telepon.

Upaya mendapatkan konfirmasi lantas dilalui dengan mengirim pesan via aplikasi WhatsApp, seketika usai Penny memutus sambungan telepon.

Namun, Penny tidak juga membalas pesan berisi pertanyaan tentang gaji Sri Wahyuniati meski ditunggu lebih dari 30 menit.

Saat awal nusadaily.com mendapat dokumen pencairan gaji Sri Wahyuniati untuk bulan Desember 2019, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jember, Isnaini Dwi Susanti enggan berkomentar mengenai status koleganya itu.

Terpidana korupsi masih tercatat dalam staf Dispendukcapil Jember. (nusadaily.com/Sutrisno)

"Tanyakan saja ke BKD (sekarang Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia)," sergahnya.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Jember Yuliana Harimurti meyakini Sri Wahyuniati sudah dipecat.

"Yang kena (operasi tangkap tangan Saber Pungli) itu kan? Tidak mungkin (masih aktif) lah," katanya.

Namun, Yuliana Harimurti tidak menerangkan detail waktu maupun surat dokumen pemecatan bagi Sri Wahyuniati.

Bagus, selaku kuasa hukum Sri Wahyuniati masih belum memberikan jawaban.

Seperti diketahui, pada 24 Mei 2019 silam, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya memutuskan vonis bersalah kepada Sri Wahyuniati atas kasus pungutan liar di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jember.

Majelis hakim yang diketuai I Wayan Sosiawan kompak menyatakan Sri Wahyuniati melanggar Pasal 11 Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi.

Sri Wahyuniati dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 50 juta rupiah, subsider 1 bulan kurungan.

Kasus yang menimpa Sri Wahyuniati adalah hasil operasi tangkap Tim Saber Pungli Kepolisian Resor Jember pada Rabu, 31 Oktober 2018 silam.

Polisi menangkap dia bersama Koordinator LSM Misi Persada Abdul Kadar. (sut)