Jumat, Januari 21, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaNewsJatimPSHT Juga Merasa Jadi Korban Penganiayaan Pagar Nusa

PSHT Juga Merasa Jadi Korban Penganiayaan Pagar Nusa

NUSADAILY.COM, JEMBER – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mempunyai versi tersendiri kronologi yang berbeda dengan pelaporan pengeroyokan yang dilaporkan oleh pihak Pagar Nusa ke polisi.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Ketua PSHT Cabang Jember Jono menyampaikan, peristiwa itu justru dipicu pengeroyokan terlebih dahulu oleh para pesilat Pagar Nusa.

“Kita juga korban,” katanya saat menghubungi nusadaily.com pada Minggu, 2 Pebruari 2020 malam.

Menurut dia, 7 anggota PSHT mengendarai 4 motor pulang bersama usai latihan silat dari Desa Kemiri, Kecamatan Panti, menuju Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi pada Sabtu, 1 Pebruari 2020 malam.

Kebetulan mereka rumahnya berdekatan dengan tempat tinggal Eko Suwarto (35) yang dijadikan lokasi latihan silat Pagar Nusa.

“Dijalan mereka dibandem (dilempari) genteng. Berhenti, kemudian berkelahi. Tapi, kalah massa,” Jono menceritakan.

Sebanyak 4 orang anggota PSHT dengan mengendarai 2 motor bisa kabur dari lokasi. Namun, 3 orang sisanya tidak bisa menyusul temannya, lantaran 2 motor yang hendak dikendarai macet.

Ketiga anggota PSHT itu berusaha lari dengan meninggalkan motor. Namun, massa pesilat Pagar Nusa menghentikan salah seorang diantaranya.

“Kepegang dia, dipukuli beramai-ramai luka di kepalanya. Motornya juga dirusak. Temannya yang bisa lolos kemudian laporan pakai WA (WhatsApp) ke anggota PSHT lainnya,” lanjut dia.

Mendapat pemberitahuan rekannya dikeroyok, sekitar 150 anggota PSHT yang baru saja latihan bersama seketika menuju lokasi kejadian di rumah Eko.

Disanalah kembali terjadi perkelahian massal. Massa PSHT semakin banyak yang berdatangan. “Gelut (berkelahi), sama pihak kita juga dipukuli,” urainya.

Jono menuturkan, saat perkelahian massal itu pihak PSHT sudah berupaya meredam dengan memerintahkan anggotanya berhenti berkelahi. Sekaligus, PSHT juga meminta pihak Pagar Nusa menarik mundur massanya.

Tujuannya supaya perkelahian tidak terus berkelanjutan. “Sudah diingatkan, tapi tidak mau tetap saja,” jelasnya.

Sehingga, akibat perkelahian itu banyak orang yang terluka dari kedua belah pihak.

Eko dari Pagar Nusa menderita luka parah, sehingga rekannya bernama Abdurrahman melaporkan kasus ini ke polisi.

Joni mempersiapkan laporan juga karena diantara anggota PSHT juga dirasa menjadi korban.

“Kita siap dimintai pertanggungjawaban. Insya Allah kami laporkan, satu warga kami dihantam bata, dan satu sempat disandera,” tukasnya.

Kasus ini sedang dalam penyelidikan seperti yang diutarakan oleh Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Jember AKP Yadwivana Jumbo Qontasson.

“Tindakan kepolisian sudah dilakukan olah TKP awal dan interogasi saksi-saksi. Sementara itu, karena baru buat laporan,” tulisnya melalui pesan WhatsApp.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember Kiai Abdullah Syamsul Arifin menuntut keadilan bagi Eko yang telah jadi korban tindak kekerasan.

“Aspek hukum yang bisa memberikan efek jera yang diberikan oleh penegak hukum. Untuk kasus Pagar Nusa, kita minta diselesaikan secara hukum. Ini sudah diulang-ulang tidak pernah selesai kasusnya,” ujar pria yang akrab disapa Gus Aab itu.

Pagar Nusa merupakan bagian organisasi dibawah naungan Nahdlatul Ulama. Sehingga, Gus Aab yang bersikap memberikan pendampingan hukum untuk Eko. (Sut)

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Perampok di Sukun Malang Tertangkap di Taman Dayu Pandaan ##tiktokberita

♬ original sound - Nusa Daily