Kamis, September 29, 2022
BerandaNewsJatimBegini Pengalaman Mahasiswi Surabaya Bertahan Lockdown di Wuhan

Begini Pengalaman Mahasiswi Surabaya Bertahan Lockdown di Wuhan

NUSADAILY.COM – SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sengaja menghadirkan Pramesti, mewakili Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang beranggotakan pelajar- mahasiswa yang sedang belajar di 53 negara untuk sharing pengalaman menghadapi lockdown di pusat Corona dunia, Wuhan.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Dalam pers conference Sabtu, 2 Mei 2020, di Grahadi Surabaya, malam, Khofifah menegaskan bahwa Ikhtiar bersama warga Jatim dan Pemerintah Provinsi Jatim, dalam memberikan layanan yang baik, mendapat support warga Indonesia dan Jawa Timur.

Hal itu juga sebagai penguat bagi aparat dalam menangani Covid Jatim.

Hal itu artinya, support besar elemen masyarakag harus dibarengi dengan upaya menjaga ketaatan warga Jatim. Terkait penerapan sosial distancing dan physical distancing secara ketat dan disiplin.

“Supaya keberseiringan terespon dalam sikap kita melawan Covid. Ada di sini tadi PPI, penguasaha private sektor lainnya dalam kerangka kebersamaan dengan keteguhan kita harus disiplin, patuhi akan protokol WHO, protokol Kemenkes. Dan ini harus diingatkan terus ke masyarakat dan khalayak,” ujar Khofifah dikutip nusadaily.com.

Pesan Mahasiswi yang Alami Lockdown di Wuhan

Lalu Gubernur meminta Pramesti, menceritakan serta apa pesan kepada rakyat Jatim tentang perjuangannya di tengah episentrum Corona paling berbahaya di Kota Wuhan, China.

Mahasiswi Unesa semester akhir jurusan Bahasa itu mendapat tugas belajar ke Wuhan, tepatnya di kampus Central China Normal University (CCNU) Fakultas Bahasa.

Pengalaman 9 hari di kota Wuhan, selama lockdown sebelum dijemput oleh Pemerintah Indonesia, sangat menakutkan.

Kali pertama memang responya adalah panik dan takut. Dia lantas berpikir bersama teman-temannya, agar bisa mengatur disiplin diri menaati aturan yang diberlakukan di Wuhan.

“Jangan sampai kepanikan kita, selimut ketakutan tadi melupakan kewaspadaan,” ujarnya.

Karena lockdown, mau tidak mau seperti PSBB di Surabaya sekarang ini dia sangat disiplin cuci tangan. Bahkan pihak kampus sangat ketat sebelum akhirnya harus stay di kamar kos saja.

Selama di kamar kost, dia tak pernah copot masker. Bantuan masker cukup sehingga bisa dipakai terus menerus.

“Kecuali makan, minum, atau mandi,” ujarnya.

Dia sangat membatasi diri tidak keluar ruangan, kecuali urusan penting semisal memenuhi kebutuhan sayur, dan beras.

“Kita stay tetap di ruangan selain itu,” ujarnya.

Pramesti berpesan agar masyarakat Jatim disiplin memakai masker, dan jaga jarak karena tidak tahu virus di mana dan siapa yang membawa.(ima)

BERITA KHUSUS

Tujuh Poktan Situbondo Bakal Dapat Bantuan Alat Jemur Tembakau

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo menggelontorkan anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2022 sekitar Rp180 juta. Duit jumbo...

BERITA TERBARU

Kalau Pandemi Sudah Tidak Ada, Biaya Pasien COVID Ditanggung Siapa?

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Dunia diyakini tengah menghitung waktu menuju akhir pandemi COVID-19. Kementerian Kesehatan RI menyebut, kelak pandemi COVID-19 telah dinyatakan selesai dan...