INSTAIN IX ITS Surabaya, Bangun Branding Bagi Startup

  • Whatsapp
banner 468x60

SURABAYA– Branding sangat penting bagi pelaku usaha startup. Maka branding perlu dibangun agar menciptakan value tersendiri dan memiliki sesuatu yang berbeda. Hal itu diperlukan untuk bersaing dengan para kompetitor.

Demikian terungkap dalam seri webinar Inkubasi Startup Inovatif (INSTAIN) ke-9, yang mengusung tema “Branding Bagi Startup”, Kamis, kemarin.

Istilah branding seringkali dikaitkan dengan marketing atau pemasaran dan selling atau penjualan.

Padahal ketiganya merupakan hal yang berbeda. Marketing sendiri lebih mengacu pada persentase market share. Manfaat fisiknya dapat berupa demand, penawaran, database kontak, dan traffic. Sementara selling berfokus pada omzet.

“Manfaat fisiknya berupa closing, repeat order, dan pelanggan baru,” ujar Radityo Suryo Hartanto ST, CEO PAP Brand Partner.

Branding sendiri lebih menonjolkan value atau personality.

Branding memiliki manfaat emosional berupa loyalitas, reputasi atau pride, dan juga kepercayaan, serta merupakan aset yang tak berwujud (intangible asset). Sebuah brand adalah gambaran dan persepsi yang ada dalam pikiran pelanggan.

“Brand adalah peran. Branding adalah atribut dan langkah membangun peran,” ungkap pria kelahiran 1985 ini.

Sehingga branding sangat dibutuhkan sebagai identitas dan pembeda suatu produk.

“Branding membantu orang mengidentifikasi produk maupun organisasi atau perusahaan. Branding membuat beda antara produk dengan kompetitornya,” terang Radit.

Selain itu, branding juga digunakan sebagai positioning. Yakni, membantu konsumen paham sehingga mudah memilih produk yang digunakan.

Fungsi branding yang lain adalah sebagai nilai dan sebuah kepercayaan.

“Bukan hanya untuk membuat beda, tapi membangun kepercayaan pelanggan. Branding membuat anda terhubung dengan emosi pelanggan,” bebernya lagi.

Cara membangun branding adalah dengan mulai mengidentifikasi pelanggan.

“Buatlah identitas, komunikasikan, dan aktivasi itu. Brand bukanlah apa yang anda katakan tentang bisnis anda, tapi apa yang orang lain lihat dan rasakan,” pungkasnya.

Praktik Imaging dan Konstruksi Sosial
Selain Radit, ada juga Drs. Maksum, M.Si., yang turut memaparkan materi di acara tersebut.

Menurutnya, Praktik Imaging (PI) dan konstruksi sosial juga diperlukan dalam membangun branding. PI diorganisasikan secara terencana untuk menciptakan kesan, citra, atau pendapat umum mengenai makna suatu produk, melalui keterampilan kreatif di media.

“Managerial dalam konstruksi sosial antara lain planning, action to program, managing, out put, dan controlling,” terang konsultan branding.

Menemukan Sesuatu yang Ikonik

Creative branding versi Maksum sendiri, ialah menemukan sesuatu yang ikonik dari sebuah produk, sehingga memiliki kelebihan yang membedakan dengan yang lain.

Kedua, mencari tagline atau pernyataan yang bisa langsung dikenal publik, serta bisa mencuri hati. Dan yang terakhir adalah harus diviralkan.

“Syaratnya, magnitude kuat, atau terlihat hebat, memiliki nilai proximity atau kedekatan dengan masyarakat,” ujarnya.

Untuk membranding produk, lanjut Maksum, jika ingin masuk ke berbagai media yang besar, founder harus turun langsung ke media tersebut agar mendapat perhatian.

“Studi kasusnya, saya pernah minta ke Bupati Banyuwangi untuk terjun langsung ke media nasional untuk mengenalkan produk durian merah. Karena kalau pemilik langsung yang datang itu lebih bisa menghargai media,” tutur pria kelahiran 1962 ini.

Menurutnya, iklan yang efektif di media sosial, adalah iklan yang mampu memprovokasi dan mempersuasi orang lain.

“Bisa lewat tampilan visual ataupun kata-kata yang membuat orang ketagihan,” tandasnya.(ima/aka)