Ini Bedanya Ketentuan Perda Lama dengan Baru yang Diduga Hasil Konspirasi di Bondowoso

  • Whatsapp
Aturan lama di Bondowoso dalam Perda Nomor 3 Tahun 2012.
banner 468x60

NUSADAILY.COM – BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso sedang dilanda keriuhan akibat kontroversi perubahan aturan secara drastis tentang pendirian ritel modern yang jaraknya dipangkas menjadi lebih dekat dengan pasar tradisional.

Baca Juga

Rabu, 24 Pebruari 2021, nusadaily.com telah memperoleh data lengkap yang dapat menunjukkan diferensiasi antara aturan lama dengan kententuan baru. Bahan bersumber dari dokumen Perda Nomor 3 Tahun 2012 serta perubahan beleid tersebut berupa Perda Nomor 5 Tahun 2020.

Aturan baru di Bondowoso dalam Perda Nomor 5 Tahun 2020.

Semula, pedagang tradisional terlindungi karena ritel modern berjarak jauh. Sebagaimana bunyi Pasal 7 ayat (3) Perda Nomor 3 Tahun 2012 bahwa ‘Jarak Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, kecuali Minimarket Mandiri dengan Pasar Tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b paling
dekat 1.000 (seribu) meter untuk area dalam kota dan 1.000 (seribu) meter di wilayah kecamatan di luar area dalam kota’.

Bahkan, lagi perlindungannya dengan Pasal 7 ayat (4) bahwa ‘Jarak Pusat Perbelanjaan dan toko modern satu dengan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern lainnya, kecuali Minimarket Mandiri paling dekat 1.000 (seribu) meter’.

Lain halnya dengan aturan baru yang memicu kritik keras berkepanjangan karena terdapat ketentuan pengurangan jarak. Berbagai kalangan menduga telah terjadi persekongkolan dari pihak-pihak yang berkepentingan sehingga peraturan baru lebih menguntungkan pemilik kapital besar.

Indikasi konspirasi seperti bunyi Pasal 21 ayat (2) huruf a, dalam Perda Nomor 5 Tahun 2020 bahwa ‘antara toko swalayan dengan pasar rakyat paling dekat radius 50 m (lima puluh meter); dan huruf b menyatakan ‘antara pusat perbelanjaan dengan pasar rakyat paling dekat radius 300 m (tiga ratus meter).

Kritik diutarakan pakar kebijakan publik dari Universitas Jember, Hermanto Rohman dengan mengatakan perubahan aturan menggambarkan penguasa lebih berpihak kepada pemodal besar daripada rakyat kecil.

“Ada pengurangan jarak sampai 950 meter dari 1.000 meter menjadi 50 meter. Artinya, kebijakan itu justru semakin mendekatkan sekaligus memperkeruh persaingan antara perusahaan besar dengan pelaku usaha kecil,” ulasnya.

Pengamat Minta Ketentuan Jarak Seperti Semula

Pengamat dari Ekonomi Independen, Rudi Imam juga demikian. Ia mendesak supaya ketentuan jarak harus dikembalikan seperti sedia kala. Tujuannya, untuk memproteksi pedagang tradisional dari gempuran kelompok usaha kelas kapitalis.

“Kalau toko modern berjejaring itu milik pengusaha besar, korporasi yang selalu ingin menambah kekayaan. Sementara pengusaha kecil atau pemilik toko tradisional dan toko kelontong yang berdagang untuk maksud bertahan hidup saja,” tuturnya.

Bupati Bondowoso, KH Salwa Arifin berkilah, keputusannya mengatur jarak 50 meter karena zonasi 1.000 meter kerap dilanggar. Meski ia tidak menyebut detail kendala yang dialami untuk bisa menertibkan. Selain itu, aturan baru untuk memancing investasi sekaligus memperbaiki cara berdagang pedagang tradisional lewat langkah mendekatkan ritel modern.

“Ternyata, muncul lagi, kok masih muncul lagi? Dari dulu sudah terjadi tidak sesuai dengan aturan. Sebenarnya, untuk menjadikan masyarakat awam mengikuti toko modern. Sehingga, (cara) tradisional ditinggalkan. Tradisi selama ini yang dijual seadanya gak ada peningkatan,” urainya.

Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dafir menyangkal tuduhan Perda baru buah dari konspirasi. Dan keukeuh niat sejatinya untuk membangun ekonomi daerah. Pihak yang mengkritik diminta untuk membaca utuh terutama Pasal 53 tentang kewajiban bagi ritel modern.

Ia mengisyaratkan sikap DPRD akan menghadapi derasnya kritik maupun perlawanan. “Filosofi kereta api di saat bergerak cepat jangan distop, bisa ditabrak. Ada manfaat kita masukkan syarat harus mempekerjakan warga lokal. Eajib menyiapkan 20 persen outlet untuk hasil produk UMKM dan home industry. Dan harus melakukan pembinaan kepada toko kelontong,” ucapnya. (sut/aka)